Indonesia akan cegah limbah beracun masuk ASEAN

Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa negara-negara ASEAN telah banyak menerima kiriman kontainer berisi sampah limbah beracun

Indonesia akan cegah limbah beracun masuk ASEAN

Indonesia menyampaikan upaya pencegahan pengiriman limbah beracun ke kawasan ASEAN dalam pertemuan East Asian Summit (EAS) dalam rangkaian KTT ke-35 ASEAN di Bangkok, Senin.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa negara-negara ASEAN telah banyak menerima kiriman kontainer berisi sampah limbah beracun.

“Jumlah kontainer yang diterima Indonesia sampai Oktober 2019 sebanyak 2.194 kontainer,” jelas Menteri Retno.

Menteri Retno juga mengatakan bahwa bea cukai dan kementerian lingkungan hidup dan kehutanan sudah melakukan pemeriksaan terhadap 882 container dan 374 container sudah dikembalikan ke negara asal.

Selain itu, Menteri Retno juga mengatakan bahwa presiden menyampaikan pentingnya kerja sama terkait dengan penanganan sampah plastik di laut.

“Sebagaimana diketahui, dalam East-Asian Summit kita sudah melakukan kerja sama untuk marine plastic debris bersama dengan Australia dan Selandia Baru,” tambah dia.

Kata dia delegasi Australia dan Selandia Baru juga menyampaikan apresiasinya pada Indonesia yang sudah melakukan kerja sama di dalam konteks penanganan sampah plastik di laut.

“Jadi, dalam kesempatan tadi Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa dengan upaya yang kuat, Indonesia optimis akan mencapai target pengurangan sampah laut hingga 70 persen pada tahun 2025 dan juga mendorong gerakan global anti sampah plastik,” ungkap Menteri Retno.

Kemudian, dia juga mengatakan bahwa dalam pertemuan tersebut presiden menyampaikan kembali secara konsisten pentingnya implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific dan juga ajakan kepada EAS untuk berpartisipasi dalam Indo-Pacific Infrastructure and Connectivity Forum yang akan dilakukan pada tahun depan.

“Presiden Joko Widodo secara spesifik menekankan bahwa kalau kita bisa melakukan kerja sama yang konkret dalam Indo-Pasifik, maka hal ini akan sekaligus mempertebal strategic trust antara negara-negara Indo-Pasifik,” pungkas Menteri Retno.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA