IMF: Ekonomi Myanmar kehilangan momentum

Krisis kemanusiaan di Rakhine memengaruhi kinerja ekonomi negara tersebut

IMF: Ekonomi Myanmar kehilangan momentum

JAKARTA 

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan Myanmar bahwa ekonomi mereka tampaknya “kehilangan momentum" karena krisis Rakhine dan kelemahan di sektor perbankan.

IMF mengatakan ada risiko besar dan kegagalan mengatasi bencana kemanusiaan atau proses repatriasi pengungsi Rohingya akan merugikan negara secara ekonomi.

"Krisis kemanusiaan yang berkepanjangan dan penarikan preferensi perdagangan dapat mengurangi pendanaan donor dan investasi yang mengarah ke pertumbuhan yang lebih rendah," ujar IMF, seperti dilansir Myanmar Times.

“Uni Eropa sedang mempertimbangkan untuk memulai proses penarikan hak-hak perdagangan yang telah ditawarkan Myanmar, karena pelanggaran HAM di Rakhine utara.

Kelemahan sektor perbankan juga menghadirkan risiko lain, ujar IMF.

Limpahan keuangan mikro dari proses restrukturisasi sektor perbankan yang sedang berjalan bisa menjadi lebih parah jika bank menunda rekapitalisasi. Ada kebutuhan untuk meningkatkan kepatuhan dan pengakuan kerugian.

Inflasi cenderung moderat pada 2017-2018, dengan rata-rata 4,0 persen. Namun kembali naik setelah kenaikan harga bahan bakar dan depresiasi kyat (mata uang Myanmar). Kyat telah terdepresiasi 14,5 persen sejak April 2018.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4 persen pada tahun fiskal 2018-19 (Oktober 2018 hingga September 2019) jika belanja pemerintah meningkat.

Ini dibandingkan dengan 6.8 persen di 2017-2018 (April 2017 hingga Maret 2018) dan 6.2 persen tahunan dalam enam bulan hingga September 2018.

Meskipun prospek jangka panjang yang baik, pertumbuhan diperkirakan "tetap di bawah potensi" tahun ini karena melemahnya permintaan ekspor dan aktivitas konstruksi swasta yang lemah.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA