Go-Jek dikritik di Malaysia, dianggap paling tidak aman

Malaysia seharusnya beralih ke moda transportasi paling aman, seperti kereta api atau bus, lebih aman daripada mobil

Go-Jek dikritik di Malaysia, dianggap paling tidak aman

JAKARTA

Go-Jek, aplikasi ride-hailing asal Indonesia disebut sebagai “bukan pilihan terbaik masyarakat Malaysia” untuk bepergian karena sepeda motor tercatat sebagai penyebab kecelakaan dan kematian tertinggi di jalan, ujar para pakar industri.

Dengan mengizinkan pemain asing, seperti Go-Jek, untuk beroperasi di Malaysia, Gojek dinilai dapat menghambat upaya pemain lokal meningkatkan layanan e-hailing, kata para pakar lainnya seperti dilansir New Straits Times, Senin.

Mereka mengatakan keberadaan Go-Jek di Malaysia akan menciptakan persaingan yang lebih ketat dan menimbulkan kesulitan penegakan hukum.

Kepala kendaraan, teknik dan mobilitas Universiti Putra Malaysia, Wong Shaw Voon mengatakan meski Go-Jek berkali-kali mengajukan permohonan, namun menurutnya mengizinkan perusahaan tersebut beroperasi di Malaysia bukan pilihan terbaik.

“Kita harus membuat jalan raya menjadi tempat yang lebih aman. Pengendara sepeda motor mencatat angka kematian yang tinggi dengan lebih dari 60 persen, atau 4.082 kematian di jalan tahun lalu, "kata Wong kepada New Straits Times, mengutip statistik yang diperoleh dari polisi.

Menurut dia, Malaysia bukan negara yang kompatibel untuk mengoperasikan layanan sepeda motor, karena rasio antara mobil dan sepeda motor mencapai 50:50. Sementara di negara lain bisa memiliki lebih dari 90 persen sepeda motor.

“Yang terbaik bagi orang Malaysia adalah pindah dari moda transportasi paling berbahaya, ke angkutan umum terbaik dan teraman, seperti kereta api atau bus, yang lebih aman daripada mobil.”

Wong mengatakan banyak masalah dengan sepeda motor mungkin muncul, seperti ukuran helm dan pembatasan beban yang mungkin membuat tidak nyaman.

“Jika kita mengizinkannya, kita mungkin menempatkan lebih banyak orang dalam moda transportasi berbahaya.

"Ada banyak masalah dan kekhawatiran yang perlu ditangani tidak hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang keamanan masyarakat," katanya.

Awal tahun ini, Go-Jek sedang mempertimbangkan untuk beroperasi di Malaysia dan Filipina, menurut co-founder Kevin Aluwi.

Menteri Transportasi Loke Siew Fook dikutip dalam laporan berita baru-baru ini bahwa Go-Jek telah menyatakan minatnya memasuki pasar Malaysia, setelah kunjungan yang terakhir sebulan yang lalu.

Loke mengatakan dia tidak melihat ada masalah dalam rencana operasi ride hailing di negara itu.

“Negara kita terbuka untuk investasi asing. Jika mereka (orang asing) ingin mendirikan perusahaan di sini, mereka boleh melakukannya. Saya dengar mereka sedang dalam proses mendirikan perusahaan di sini, ”katanya.

Pendiri MyCar, Mohd Noah Maideen mengatakan sektor layanan e-hailing telah menjadi pasar yang jenuh, dengan lebih dari 20 pemain, termasuk 10 pemain aktif, di Malaysia.

“Go-Jek ingin mengambil bagian dari kami (pemain lokal). Itu tidak membawa apa-apa. Kenapa kita harus membawa orang luar ke Malaysia? ”

Dia mengatakan para pemain lokal harus diberi kesempatan untuk berimprovisasi dengan layanan e-hailing mereka.

"Misalnya, MyCar telah meningkatkan aplikasi layanannya dalam hal antarmuka pengguna, algoritme, pengalaman pengguna, dan iklan sejak kami meluncurkan aplikasi MyCar pada Februari tahun lalu."

Penyedia layanan e-hailing, Diffride, kepala eksekutif Hannah Yong mengatakan pemerintah harus mengevaluasi secara menyeluruh rencana Go-Jek untuk memperluas operasinya di negara itu.

“Membawa layanan roda dua harus mempelajari secara menyeluruh. Saat ini, kami memiliki tingkat kecelakaan tinggi yang melibatkan sepeda motor, ”katanya.

Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Tan Sri Ramon Navaratnam mengatakan Go-Jek bisa menjadi pilihan transportasi bagi warga Malaysia.

“Namun, orang-orang harus belajar untuk lebih berhati-hati dan layanan Go-Jek harus baik.

“Kalau orang ngebut, itu penyebab kecelakaan. Maka otoritas harus menarik lisensi mereka, ” kata dia.

Go-Jek telah meluncurkan layanannya di Singapura, Vietnam, dan Thailand tahun lalu.

Google-Temasek dalam laporannya mencatat bahwa layanan naik kendaraan di Asia Tenggara diperkirakan akan melonjak hingga hampir SGD30 miliar pada 2025 dari SGD7,7 miliar pada 2018.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA