Filipina, Rusia pererat kerja sama pertahanan untuk perangi terorisme

Sejak kebijakan luar negeri berporos ke negara non-Barat, para pejabat Filipina dan Rusia rutin bertemu membahas pertahanan dan penegakan hukum, ujar Duterte

Filipina, Rusia pererat kerja sama pertahanan untuk perangi terorisme

Filipina dan Rusia sepakat mempererat kerja sama pertahanan untuk memerangi terorisme.

Kesepakatan itu dilakukan oleh Presiden Filipina Duterte dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis malam, dalam pertemuan bilateral di Sochi, Rusia.

“Mengenai hubungan bilateral kami, saya ingin menekankan bahwa Filipina adalah mitra yang sangat penting bagi Rusia di Asia. Kerja sama bilateral kami saling konstruktif dan menguntungkan,” ujar Putin, seperti dikutip Philstar.

Kepada Duterte, Putin menegaskan bahwa Rusia siap membantu Filipina memerangi terorisme.

“Kami siap mengembangkan kemitraan dalam melawan teroris,” kata Putin.

Pertemuan kedua pemimpin negara itu dilakukan sehari setelah Duterte bertemu dengan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev di Moskow.

Putin mencatat perdagangan kedua negara menningkat dua kali lipat pada tahun lalu, menjadi lebih dari USD1,2 miliar.

“Ekspor Rusia juga tumbuh empat kali lipat. Kami memiliki cadangan besar dan perusahaan-perusahaan Rusia siap meningkatkan pasokan energi, pesawat transportasi, peralatan khusus,” tutur dia.

Putin juga menyatakan minatnya untuk meningkatkan kerja sama bilateral dalam eksplorasi ruang angkasa dan penggunaan teknologi digital.

Dalam sambutannya, Duterte mengatakan pentingnya penguatan kerja sama pertahanan, keamanan, militer dan teknis dengan Moskow.

“Kami juga telah membuat sejarah pertama di bidang strategis—dari ekonomi, keamanan, pertahanan dan kerja sama teknis militer,” kata dia.

Sejak kebijakan luar negerinya berporos ke negara-negara non-Barat, Duterte mencatat bagaimana para pejabat Filipina dan mitra Rusia mereka bertemu secara teratur membahas berbagai persoalan seperti pertahanan keamanan dan penegakan hukum.

Sebelumnya, Duta Besar Rusia Igor Khovaev menyatakan kesiapan pemerintahnya untuk menyediakan perangkat keras militer Rusia kepada militer Filipina, termasuk senapan AK-47 atau Kalashnikov.

Namun perjanjian pertahanan Filipina dengan AS, serta sanksi internasional yang didukung AS terhadap Rusia menghambat berkembangnya kesepakatan itu.

Sejak kunjungannya ke Moskow pada Mei 2017, Duterte mengatakan dia selalu berharap dapat kembali ke Rusia “untuk membangun kemitraan yang kuat dan komprehensif.”

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA