Filipina: Pelaku bom bunuh diri di Sulu adalah perempuan

Kesimpulan itu diperoleh berdasarkan hasil uji laboratorium forensik dari 20 sampel jaringan manusia yang ditemukan di lokasi kejadian, ujar Juru Bicara Kepolisian Nasional Filipina

Filipina:  Pelaku bom bunuh diri di Sulu adalah perempuan

Sosok laki-laki berwajah asing yang meledakkan bom di dekat pos pemeriksaan militer di Indanan, Sulu, pada pekan lalu, ternyata seorang perempuan.

Juru Bicara Kepolisian Nasional Filipina (PNP) Brigjen Bernard Banac mengatakan kesimpulan itu diperoleh berdasarkan hasil uji laboratorium forensik dari 20 sampel jaringan manusia yang ditemukan di lokasi kejadian di Barangay Kajatian.

“Itu DNA perempuan, namun identitasnya tidak teridentifikasi tanpa referensi standar,” ujar Banac, seperti dikutip Philstar.

Sebelumnya, militer mengumumkan soal seorang perempuan dengan wajah asing meledakkan bom yang menempel di tubuhnya.

Wakil juru bicara PNP Letnan Kolonel Kimberly Molitas mengatakan mereka akan berkoordinasi dengan mitra asing untuk memperoleh pentunjuk soal identitas pelaku bom bunuh diri itu.

Serangan itu terjadi dua bulan selepas markas besar Angkatan Darat yang berada di kota yang sama menjadi target para pelaku bom bunuh diri.

Salah satu pembom teridentifikasi bernama Norman Lasuca, warga Filipina berusia 19 tahun.

Juli tahun lalu, pos pemeriksaan tentara di Lamitan, Basilan, juga diserang pembom bunuh diri yagn diyakini warga Maroko.

Awal tahun ini, pasangan asal Indonesia juga meledakkan diri di depan Katedral Mt Carmel di Jolo, yang menewaskan dua puluh orang, termasuk lima tentara.

Sementara itu, setidaknya 700 kg ammonium nitrat dan sekering mortir 81mm ditemukan di Patikul, Sulu, selama akhir pekan ini.

Juru bicara Satuan Tugas Bersama-Sulu Letnan Kolonel Gerard Monfort mengatakan bahan-bahan bom itu disita dalam serangan yang menargetkan sebuah rumah tanpa penghuni di Barangay Latih.

Otoritas mengatakan ketika dicampur dengan zat lain, amonium nitrat akan menjadi bom dengan daya ledak tinggi.

Mereka juga mengatakan bahwa pemboman Katedral Jolo dan detasemen militer di Indanan pada Juli lalu menggunakan bahan kimia yang sama.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA