Ditabrak kapal China, kapal nelayan Filipina tenggelam

Filipina mengecam negeri tirai bambu karena tak menyelamatkan nelayan Filipina yang terjebak di tengah laut setelah kapal mereka ditabrak dan tenggelam

Ditabrak kapal China, kapal nelayan Filipina tenggelam

JAKARTA 

Filipina mengecam China yang tak menyelamatkan nelayan negara kepulauan tersebut yang terjebak di tengah laut setelah kapal mereka ditabrak dan tenggelam, lansir The Philstar.

“Kami mengecam tindakan kapal penangkap ikan China yang meninggalkan tempat kejadian dan membiarkan 22 awak kapal kesulitan. Gimver F/B 1 tengah berlabuh saat ditabrak kapal penangkap ikan China,” ujar Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana, ketika berada di Lanao bersama Presiden Duterte untuk perayaan Hari Kemerdekaan.

Akhir pekan lalu, kapal China itu menabrak dan menenggelamkan kapal nelayan Filipina yang tengah berlabuh di Recto Bank, Palawan, di Laut Filipina Barat.

Nelayan Vietnam kemudian datang untuk membantu orang-orang Filipina.

Menteri Luar Negeri Teodoro Locsin Jr juga mengecam China karena tidak menyelamatkan nelayan Filipina.

Locsin menambahkan bahwa bantuan Vietnam “akan menjadi dasar peningkatan” kerja sama militer Filipina-Vietnam.

Sebelumnya muncul laporan soal kapal-kapal milisi laut China yang menyamar sebagai kapal penangkap ikan yang melecehkan para nelayan Filipina di Laut Filipina Barat.

Lorenza mengatakan, kapal Angkatan Laut Filipina, BRP Ramon Alcaraz, ditugaskan untuk berpatroli di Laut Filipina Barat untuk membantu awak Gimver.

“Kami berterima kasih kepada kapten dan awak kapal Vietnam karena menyelamatkan nyawa 22 awak Filipina. Namun kami mengutuk keras tindakan pengecut kapal penangkap ikan China yang telah meninggalkan nelayan Filipina. Ini bukan tindakan orang-orang yang ramah dan bertanggung jawab,” kata dia.

Dia mengusulkan penyelidikan resmi atas insiden tersebut dan meminta otoritas terkait untuk mengambil langkah diplomatik.

Lorenza menekankan bahwa reaksinya itu berdasarkan putusan pengadilan arbitrase di Den Haag yang didukung PBB pada 2016 soal klaim besar-besaran China atas Laut China Selatan dan menegaskan kembali hak maritim Filipina. Putusan tersebut menekankan hak Filipina atas Recto Bank.

Sementara itu Duta Besar China untuk Filipina Tan Qingsheng mengatakan Beijing telah menyelesaikan Konsultasi Kode Etik di Laut China Selatan dalam tiga tahun.

Tan mengatakan, ASEAN dan China berkomitmen untuk mengelola persoalan Laut China Selatan lewat Mekanisme Konsultasi Bilateral (BCM).

“Terlebih lagi, kami bekerja sama dengan mitra ASEAN lainnya untuk merampungkan Konsultasi Kode Etik di Laut China Selatan dalam tiga tahun, dengan tujuan mengubah Laut China Selatan emnjadi lautan damai, persahabatan dan kemakmuran,” kata Tan.

China mengatakan berdasarkan “konsensus” dengan ASEAN, proses konsultasi untuk Kode Etik (COC) tidak terbuka untuk umum.

Filipina menyerukan implementasi penuh dan efektif dari Deklarasi ASEAN-China tentang Perilaku Para Pihak di Laut China Selatan (DOC) sementara negosiasi untuk COC tengah berlangsung.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA