ASEAN buka peluang kerja sama dengan China dalam konteks Indo-Pasifik

Sinergi Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC) 2025 dan Belt and Road Initiative (BRI) menjadi sebuah keniscayaan

ASEAN buka peluang kerja sama dengan China dalam konteks Indo-Pasifik

Asosiasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) membuka peluang kerja sama dan kolaborasi dengan China dalam kerangka ASEAN Outlook on the Indo-Pacific yang salah satunya memiliki fokus pada konektivitas dan infrastruktur.

Presiden Indonesia Joko Widodo mengatakan sinergi Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC) 2025 dan Belt and Road Initiative (BRI) menjadi sebuah keniscayaan.

“Pengembangan konektivitas dan infrastruktur sangat penting untuk menjamin pertumbuhan ekonomi, termasuk dalam pengembangan pusat pertumbuhan baru di Kawasan Indo-Pasifik,” ucap Presiden Joko Widodo dalam pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi ke-22 ASEAN-China, di Bangkok, Minggu.

Oleh karena itu, Presiden Jokowi –sapaan akrab Joko Widodo- mengatakan Indonesia berencana untuk menyelenggarakan Indo-Pacific Infrastructure and Connectivity Forum pada 2020 dan mengundang pemerintah serta sektor swasta China untuk hadir dalam forum tersebut.

Presiden juga mengatakan selama hampir tiga dekade, kemitraan ASEAN-China telah menjadi lokomotif perdamaian dan stabilitas di kawasan.

ASEAN-China memiliki komitmen yang sama untuk memastikan stabilitas dan perdamaian sebagai kunci kesejahteraan di kawasan.

Pada Juni lalu, kata Presiden Jokowi, ASEAN telah mengesahkan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific.

“Outlook ini mendorong seluruh negara di Kawasan untuk mengedepankan kolaborasi dan menanggalkan rivalitas,” kata Presiden Jokowi.

Presiden berharap dengan Outlook ini, stabilitas, keamanan dan kesejahteraan bukan hanya dinikmati oleh Kawasan Asia Pasifik, tapi juga lebih luas di kawasan Indo-Pasifik.

Presiden juga menegaskan pentingnya mempertebal kepercayaan strategis ( ) di kawasan sebagai kunci dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan termasuk di Laut China Selatan.

“Trust akan terwujud jika kita berkomitmen untuk mengutamakan dialog dan penyelesaian sengketa secara damai dan menghormati serta mematuhi hukum internasional, termasuk UNCLOS 1982,” ucap Presiden Jokowi.

Dalam pertemuan itu, Presiden Jokowi juga menjelaskan bahwa pada tahun ini kita telah menyelesaikan putaran pertama perundingan Code of Conduct in the South China Sea.

Presiden Jokowi berharap kemajuan dalam perundingan tersebut dapat selaras dengan situasi di lapangan dan tidak ada satu pihak manapun melakukan tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan.

“Dengan cara ini strategic trust antara ASEAN dan RRT dapat terjaga. Jika ini dilakukan, kemitraan ASEAN-RRT dalam 3 dekade ke depan akan menjadi pilar penting bagi stabilitas, perdamaian dan kemakmuran di Kawasan Indo-Pasifik,” kata Presiden Jokowi.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA