ASEAN akan bentuk gugus tugas Ad Hoc kawal repatriasi Rohingya

Para pemimpin ASEAN menghendaki proses repatirasi dilakukan secara sukarela, aman, dan bermartabat

ASEAN akan bentuk gugus tugas Ad Hoc kawal repatriasi Rohingya

Asosiasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) akan membentuk gugus tugas Ad Hoc yang bertugas penuh waktu membantu proses pemulangan pengungsi Rohingya dari Cox bazar ke Myanmar.

Kesepakatan tersebut terjadi dalam rapat pleno Konferensi Tingkat Tinggi ke-35 ASEAN di Bangkok, Sabtu.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menjelaskan gugus tugas tersebut akan berisi para ahli yang ditentukan Sekretaris Jenderal ASEAN dengan berkonsultasi kepada negara-negara anggota ASEAN.

Kesepakatan ini juga akan tercantum dalam dokumen Pernyataan Pemimpin KTT ke-35 ASEAN dengan keketuaan Thailand.

Menteri Retno menjelaskan gugus tugas tersebut bertugas memantau pelaksanaan rekomendasi tim penilaian kebutuhan awal (preliminary need assessment team) berdasarkan laporan tim pusat koordinasi ASEAN untuk bantuan kemanusiaan (ASEAN Coordinating Center for Humanitarian Assistance/AHA Center) beserta tim tanggap darurat dan penilaian ASEAN (ASEAN-Erat)

“Para pemimpin ASEAN mendorong agar kemajuan repatriasi dapat terus terjadi,” ujar Menteri Retno di Bangkok, Sabtu malam.

Dia menambahkan para pemimpin ASEAN menghendaki proses repatirasi dilakukan secara sukarela, aman, dan bermartabat dan kembali menegaskan bahwa ASEAN siap untuk membantu proses repatriasi.

Menteri Retno menjelaskan pada Maret lalu ASEAN-Erat dan AHA Center telah melakukan kunjungan ke Rakhine State untuk melakukan penilaian awal terkait kesiapan Myanmar menangani repatriasi Rohingya.

Kunjungan tersebut menghasilkan empat rekomendasi yang mencakup empat komponen utama, antara lain keselamatan fisik, keamanan material, pendaftaran Rohingya, serta penyatuan sosial agar konflik horizontal tidak terulang kembali.

“Kita perlu ada satu unit di ASEAN Secretariat yang dapat memantau penuh implementasi dari rekomendasi tersebut sehingga para leaders sudah menyepakati akan dilakukan pendirian Ad Hoc Task Force di ASEAN Secretariat,” jelas Menteri Retno.

Selain itu, Menteri Retno juga menegaskan Indonesia siap memberikan kontribusi agar gugus tugas Ad Hoc dapat segera berdiri.

“Ini penting supaya kemajuan tindak lanjut rekomendasi berupa aktivitas atau proyek yang menjadi prioritas dapat segera dilakukan,” tambah dia.

Dia juga mengatakan Presiden Joko Widodo mendorong agar dialog dengan para pengungsi yang ada di Cox Bazar, Bangladesh dan juga di Rakhine State, Myanmar terus dilakukan.

“Dengan dialog dan komunikasi akan muncul trust yang sangat besar artinya bagi repatriasi yang aman, sukarela, dan bermartabat,” lanjut Menteri Retno.

Menteri Retno juga menambahkan Presiden Joko Widodo mengharapkan prioritas kegiatan yang sudah disepakati pada tingkat technical working group antara ASEAN dan Myanmar dapat segera ditindaklanjuti.

“Kita tidak hanya biacara, tapi we walk to talk, bicara dan memberikan kontribusi,” ujar Menteri Retno.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA