Sumpah Pemuda Adalah Cita-cita dan Kenyataan

Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober merupakan tonggak sejarah bangsa. Di masa lampau para pemuda Indonesia menunjukkan pada dunia jika pemuda dan pemudi Indonesia bisa bersatu menuju keutuhan NKRI. caption id attachment 95839 align aligncenter width 4

Sumpah Pemuda Adalah Cita-cita dan Kenyataan

Oleh: Bambang Fouristian GARUT,FOKUSJabar.com: Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober merupakan tonggak sejarah bangsa. Di masa lampau para pemuda Indonesia menunjukkan pada dunia jika pemuda dan pemudi Indonesia bisa bersatu menuju keutuhan NKRI. [caption id="attachment_95839" align="aligncenter" width="478"] Cecep R Rusdaya, Kepala SMAN 8 Garut(Foto: Bambang Fouristian)[/caption] Demikian dikatakan Cecep R. Rusdaya, Kepala SMAN 8 Garut. Menurut dia, memersatukan gugusan pulau yang terpecah dan menjadikannya satu kebangsaan dan satu tanah air yaitu Tanah Air Indonesia bukanlah hal yang mudah. Untuk itu, generasi sekarang harus menghargai dan hormatilah jasa para pahlawan dan tumbuhkanlah rasa persaudaraan sesama bangsa karena kita semua adalah saudara. Zaman kolonial, Laksheid adalah julukan bagi para pemuda Indonesia yang mengandung arti pemalas. Kita bisa membuktikan pada dunia, bahwa pemuda dan pemudi Indonesia mampu untuk mengubah dunia dan menjunjung tinggi harkat dan martabat Negara. “Tuhan hanya akan merubah nasib sebuah bangsa jika bangsa itu hendak merubah nasib bangsanya sendiri. Bersatulah para pemuda dan pemudi Indonesia dan rubahlah nasib bangsa kita supaya lebih baik dari sebelumnya,” kata Cecep, Selasa (28/10/14). Selain itu, Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Ikrar dan janji yang diucapkan kaum muda dan mudi Indonesia dalam Kongres Pemuda Kedua, 27-28 Oktober 1928 menjadi landasan awal untuk memperjuangkan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Para pesertanya, perwakilan dari organisasi-organisasi pemuda yang tersebar di seluruh Indonesia. Seperti, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond (JIB), Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemoeda Kaoem Betawi dan Indonesische Studieclub.  Janji yang diucapkan kala itu, tanah air, bangsa dan bahasa adalah satu. Yakni, tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Konon, rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan). Semua unsur negeri menjadi satu, satu kesatuan bangsa dalam tanah air dan bahasa Indonesia. “Namun di balik kerudung banggaku, saat ini seperti menyimpan segenggam duka. Semakin berkembang bahasa persatuanku, namun semakin tergerus oleh serbuan-serbuan kosakata dari bahasa asing, makin tercampur baur dengan bahasa gaulnya anak remaja. Makin tercabik-cabik pula bahasa resmi bangsa dan negara kita,” terang Cecep. Delapan puluh enam tahun telah berlalu, sebuah mimpi telah ditegakkan. Generasi muda sebuah bangsa yang belum merdeka, telah mencetuskan takdirnya sendiri. Bersatu dalam tatanan baru, bernama Indonesia. Karena 17 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan dicetuskan, telah ada generasi muda yang ingin merubah nasib bangsanya. Dalam Kongres Kedua PPPI lanjut Cecep, telah disampaikan tiga pesan utama dan tiga mimpi yang harus diwujudkan. Putra dan putri Indonesia bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan memiliki bahasa persatuan yang satu pula. Setelah ratusan tahun terjajah oleh bangsa Eropa, berjuang sendiri-sendiri, terbentuklah kesepakatan yang melompati sejarah. Mereka tak lagi berjuang demi daerah semata. Tak hanya demi suku atau golongan tertentu. Tapi lebih dari itu. Bergabung dan menyatakan diri sebagai satu Indonesia. Takkan berubah nasib sebuah kaum, sebelum mereka mengubah hati. Mengganti cara pandang, dan memulai takdirnya sendiri. Sumpah Pemuda yang dicetuskan sebelum negara ini merdeka, mengajarkan kepada kita bahwa bermimpi bukanlah sesuatu yang keliru. “Mimpi akan masa depan yang baik, mutlak harus dilakukan. Dirajut dan dipersiapkan. Lalu, biarkan Tuhan yang menyelesaikan mimpi-mimpi tersebut dengan cara rahasia yang tak tertebak,” terang Kepala SMAN 8 Garut. Saat ini bangsa kita, sering dianggap tengah menggali kuburnya sendiri. Di mana-mana diberitakan kebusukan para pejabat yang menggenggam kehidupan rakyat banyak. Perusahaan kapitalis menggurita, yang hanya mengejar keuntungan dan merendahkan karyawan mereka serendah-rendahnya. Orang-orang yang semakin individualis dan hanya mengejar kehidupan dunia semata. Tapi, bukan tak mungkin berubah. Dan perubahan itu, ada di tangan generasi muda. (wdj)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA