Pelecehan Seksual Tehadap Anak Karena Orangtua Lengah

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak ( PPA ) Satreskrim Polres Garut, Jawa Barta, Iptu Wien Christyaningsih mengatakan, sejak sebulan terakhir ini pihaknya sudah menerima sebanyak lima laporan tindak pencabulan atau pelecehan seksual terhadap anak

Pelecehan Seksual Tehadap Anak Karena Orangtua Lengah

GARUT, FOKUSJabar.com: Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak ( PPA ) Satreskrim Polres Garut, Jawa Barta, Iptu Wien Christyaningsih mengatakan, sejak sebulan terakhir ini pihaknya sudah menerima sebanyak lima laporan tindak pencabulan atau pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur. [caption id="attachment_123851" align="aligncenter" width="638"] Iptu Wien Christyaningsih (Foto: Bambang F)[/caption] “ Kelima kasus ini menimpa anak dibawah umur. Pelaku dan korbannya sama-sama kelas VI. Satu dari lima orang korban pencabulan, kini tengah hamil muda, ” kata Wien usai mengikuti acara Pelantikan PCNU periode 2015-2020 di Alun - alun Garut, Minggu (26/4/2015). Wien Christyaningsih menuding penyebab terjadinya kasus ini akibat kurang atau minimnya perhatian dari para orang tua terhadap pergaulan anak diluar rumah. Untuk itu, pihaknya berharap kepada seluruh orang tua dan tenaga pendidik lebih waspada dan mengawasi kegiatan anak. Karena akibat dari kejahatan seksual yang menimpa anak-anak sangat berdampak pada perkembangan psikologisnya. “ Perlu diingat, kekerasan seksual terhadap anak bisa berdampak panjang. Selain berdampak pada masalah kesehatan juga berkaitan dengan trauma yang berkepanjangan,” ujar Kanit PPA Satreskrim Polres Garut. Menurutnya, trauma akibat kekerasan seksual sulit dihilangkan jika tidak secepatnya ditangani. Mereka akan mengalami mimpi-mimpi buruk, ketakutan yang berlebihan pada orang lain dan konsentrasi menurun yang akhirnya akan berdampak pada kesehatan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan para orang tua untuk mencegah agar terhindar dari kejahatan pelecehan seksual. Diantaranya, mendidik anak untuk bisa bersikap terbuka kepada orangtua. Membiasakan orangtua untuk bertanya tentang pelajaran di sekolah, tentang teman-temannya, sehingga anak terbiasa bercerita tentang kejadian-kejadian yang dialaminya. Mengajari anak untuk berani berkata tidak bila mendapatat ajakan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma sosial, memberikan penjelasan kepada anak agar tak seorangpun berhak memegang bagian-bagian tubuh dan membimbing anak agar menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, tegas serta tidak mudah dibujuk. “ Artinya, peranan orangtua dalam mewaspadai dan mencegah kejahatan seksual sangat dibutuhkan dan penting. Karena pengawasan orangtua berhubungan erat dengan pencegahan kasus kekerasan seksual kepada anak,” pungkasnya.(**) (Bambang Fouristian/DEN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA