Orang Garut Selatan di Balik Sukses Roy Marten (Bagian II-Habis)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) Waktu itu Ketua dewan juri FFI (alm) D Dyayakusuma menilai, pemain film yang menggunakan jasa dubber diibaratkan sebagai pemain pantomim. Karenanya, kasus pun pernah menghangat sele

Orang Garut Selatan di Balik Sukses Roy Marten (Bagian II-Habis)

Oleh: Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) Waktu itu Ketua dewan juri FFI (alm) D Dyayakusuma menilai, pemain film yang menggunakan jasa dubber diibaratkan sebagai pemain pantomim. Karenanya, kasus pun pernah menghangat selepas FFI 1978 Ujungpandang (Makassar). Pasangan pemenang gelar “Aktor dan Aktris Terbaik” di festival itu, ternyata menggunakan dubber. Aktor (alm) Kaharuddin Syah di film “Letnan Harahap” karya (alm) Sophan Sophiaan), bersuara (alm) Rachmat Kartolo. Begitu Joice Erna dalam film “Suci Sang Primadona” karya (alm) Arifien C Noer,yang suaranya diisi Titi Qadarsih. Berbeda dengan nasib sang pendatang Merlyna Husein, yang tampil gemilang di film “Gadis Penakluk” pada FFI 1981 Surabaya. Artis ini gagal meraih Piala Citra. “Suara Merlyna terpaksa diisi Titi Qadarsih, karena waktu itu dia mengalami musibah lalu lintas yang merusak wajahnya” cerita Edward P Sirait sutradara film itu di studio PFN Jakarta. Sejak saya tahu Nugraha sebagai pengisi suara Roy Marten, serasa tidak bisa menyaksikan permainan Roy Marten secara utuh. Dalam film-film Roy sebelum film “Sesuatu Yang Indah” (alm Wim Umboh), penampilan aktor itu dibayangi sosok Nugraha. [caption id="attachment_13168" align="aligncenter" width="460"] Christine Hakim dan Roy Marten dalam adegan film “Badai Pasti Berlalu” (1977) arahan (alm) Teguh Karya. Di balik akting Roy Marten, ternyata banyak bersuara Achmad Nugraha, warga Bungbulang Kab Garut.(Dokumentasi Yoyo Dasriyo)[/caption]   Seketika saja Achmad Nugraha tertawa mendengar pengakuan saya. Sebenarnya tahun 1975 pun, (alm) Arman Effendy pernah menawari saya untuk mengisi suara (alm) Sophan Sophiaan di film “Kehormatan”. Tetapi, saya merasa belum siap, karena pekerjaan dubber harus mampu dan fasih menerjemahkan akting orang lain ke dalam suara. Tidak gampang! Profesi Nugraha di bidang dubber, amat menuntut keahlian tersendiri. Sungguhpun kini pekerjaan pengisi suara ini tidak lagi selaris era 1970-an, namun Nugraha masih banyak order pengisian suara untuk film lainnya. Proses syuting film nasional, sinetron dan film televisi, sudah lama menggeser porsi dubber, karena penerapan teknik direct-sound. Pengambilan gambar, sekaligus perekaman suara. Perjumpaan sekilas dengan Achmad Nugraha siang itu, sangat berbatas waktu. Sang dubber terburu-buru untuk mengerjakan Shalat Dhuhur. Bahkan saya pun tak sempat memotret. Kamera tersimpan di aula Kongres ke XIV PB PARFI, yang sempat memanas. Dalam keterbatasan waktu pertemuan itu, Nugraha sempat membanggakan kampung halaman leluhurnya di Bungbulang, yang dikenal sebagai penghasil “batu aji”. ”Itu lahan bisnis, ‘Kang…!” katanya sambil tertawa, dan memburu tempat wudlu. Selepas kongres, saya kehilangan jejak Nugraha. Tak tahu ke mana. Sosok lelaki itu menghilang, di antara hiruk-pikuk insan perfilman nasional. Betapapun, warga Garut layak berbangga. Terbukti, warga Kecamatan Bungbulang, Garut Selatan itu, yang pernah mendukung masa kejayaan aktor Roy Marten. Dengan kepandaiannya menerjemahkan akting ke dalam suara, Achmad Nugraha berperan besar di balik pamor Roy Marten. Bintang laris dunia film nasional, yang pernah bergelar The Big Five bersama Robby Sugara, Yatie Octavia, Dorris Callebaut dan Yenni Rachman. (**)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA