Orang Garut Selatan di Balik Sukses Roy Marten (Bagian I)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) Saya sempat terbengong. Selesai shalat Dhuhur di mushola yang berada di Grand Sahid Jaya Hotel Jakarta, seorang lelaki simpatik dan bersahaja manggut, sambil tersenyum. Lalu ber

Orang Garut Selatan di Balik Sukses Roy Marten (Bagian I)

Oleh: Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) Saya sempat terbengong. Selesai shalat Dhuhur di mushola yang berada di “Grand Sahid Jaya Hotel” Jakarta, seorang lelaki simpatik dan bersahaja manggut, sambil tersenyum. Lalu bergegas melepas sepatu dan kaos kakinya, untuk berwudlu. Saya kenal betul sosok lelaki itu. “Permisi, ‘Mas..! Mau naroh sepatu di sini aja!” katanya menempatkan sepatunya di ujung kaki kursi, yang saya duduki di dekat batas pintu masuk ke mushola. “Alhamdulillah ketemu di sini..!” saya mengulurkan tangan. Giliran lelaki itu yang tertegun. Belum sempat dia bicara, saya menyapanya “Mas Achmad Nugraha, ‘kan?” Lelaki itu melonjak. “Iya…! Kok tahu saya? Dari mana, ‘Mas?” tanyanya keheranan. Manakala saya mengaku dari Garut, perbincangan sekilas pun jadi berbahasa daerah Sunda halus. “Abdi oge ti Garut.., mung ka pakidulan. Leresan Bungbulang! Pun aki sareng wargi-wargi abdi ge di Bungbulang,” balasnya. Orang memang tak banyak kenal sosok Achmad Nugraha, nama lengkap lelaki itu. Meski berprofesi di dunia perfilman nasional, namun wajahnya “tersembunyi” di balik kamera. Di gallery Google pun, tak ditemukan foto profilnya. Padahal, Nugraha – begitu nama akrabnya, pernah membintangi sejumlah film populer garapan sutradara pujian. Tahun 1975 tampil di film “Kenangan Desember” karya (alm) Ami Priyono. Lalu, film “Rembulan dan Matahari” (Slamet Raharjo), menyusul dalam film garapan (alm) Arfien C Noer seperti “Petualang-Petualang”, “Serangan Fajar”, serta film “Jakarta 66”. [caption id="attachment_13167" align="aligncenter" width="460"] Dari kiri: Roy Marten, Saraswati Syahdan, Rudy Salam dan Nenden Karleni. Potret kebersamaan di villa “Lembur Kuring”, Cipanas Garut, akhir tahun 1983. (Foto: Yoyo Dasriyo)[/caption]   Bahkan di film “Serangan Fajar”, Nugraha merangkap jadi asisten sutradara. Belum terhitung lagi dengan puluhan sinetron, masa kejayaan TVRI Pusat. Sebagai pemain, Nugraha tidak sepopuler aktor lainnya. Tetapi prestasi spesifik lelaki kelahiran Tasikmalaya berdarah Garut Selatan itu, adalah justru suaranya yang mampu menghidupkan aksi aktor kenamaan Roy Marten. Puluhan film nasional yang diperani Roy, menyatu dengan kekuatan olah vokal Nugraha. Profesi aktor ini memang cenderung lebih menguat sebagai dubber (pengisi suara), yang banyak bersibuk di balik layar. “Seueur pisan film Roy Marten, nu suarana ku abdi mah!” Nugraha tertawa. Dia tak bisa memastikan jumlah filmnya. Walau banyak juga mengisi suara aktor terkenal lainnya, tetapi suara Nugraha langganan untuk film-film yang dibintangi Roy Marten. Seperti juga Titi Qadarsih, yang menjual suaranya untuk akting Christine Hakim. Itu terjadi dalam film-film nasional, sebelum Festival Film Indonesia (FFI) 1977 Jakarta memberlakukan ketentuan, tidak memberi penilaian untuk pemain utama dan pembantu utama yang bersuara orang lain. (Bersambung) Simak lanjutannya disini!

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA