Hiks! Ratusan Produsen Bata Merah di Garut Gulung Tikar

Dampak melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS (USD) hingga mencapai Rp 14 ribu lebih membuat kelimpungan para produsen bata merah (pres) di wilayah Kampung Peer, Desa Linggamukti, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut. Berdasarkan hasil pantau

Hiks! Ratusan Produsen Bata Merah di Garut Gulung Tikar

GARUT, FOKUSJabar.com: Dampak melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS (USD) hingga mencapai Rp 14 ribu lebih membuat kelimpungan para produsen bata merah (pres) di wilayah Kampung Peer, Desa Linggamukti, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut. Berdasarkan hasil pantauan FOKUSJabar, dari sebanyak 170 pengrajin bata merah, kini tinggal menyisakan 70 pengrajin bata merah yang masih bertahan. [caption id="attachment_165426" align="aligncenter" width="700"] Seorang perempuan sedang memindahkan bata ke bak truk untuk didistribusikan. (Foto: Bambang)[/caption] Salah seorang produsen batu bata di Desa Linggamukti, Engkus Kusnadi mengatakan, saat ini dia lebih memilih berhenti memproduksi. Alasannya, biaya produksi dengan harga jual nilainya sama (Rp 420 per buah). “ Dulu, sebelum dollar naik, biaya produksi sebesar Rp350 per buah. Artinya, kami mempunyai keuntungan Rp 70 per buah. Kini, sama sekali tidak ada keuntungan yang bisa didapat,” kat Engkus, Sabtu (19/8/2015). Menurut dia, penyebab gulung tikar para produsen batu bata karena tidak adanya regulasi pemerintah dalam standarisasi harga jual batu bata dan minimnya perhatian terhadap para produsen batu bata di Kecamatan Sucinaraja. “ Agar kami bisa bertahan dan menjalankan bisnis, semesetinya Pemerintah Kabupaten membuat regulasi secara khusus terhadap standarisasi harga jual batu bata,” ujar Engkus. Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mencari penghasilan lain yang dianggap bisa mendatangkan keuntungan.(**) (Bambang Fouristian/Galih)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA