Garut “Langitku Rumahku” Dalam “Catatan Si Boy” (Bagian II-Habis)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) Tentu, karena Rumah Masa Depan berwajah LP, bagai Losmen kusam. Tak sehangat Pondok Pak Djon Maaf Jangan Bilang Siapa Siapa , kalau suara Orang Orang Liar

Garut “Langitku Rumahku” Dalam “Catatan Si Boy” (Bagian II-Habis)

Oleh: Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) Tentu, karena “Rumah Masa Depan” berwajah LP, bagai “Losmen” kusam. Tak sehangat “Pondok Pak Djon”! Maaf “Jangan Bilang Siapa-Siapa”, kalau suara “Orang-Orang Liar” mengumbar “Fiksi”, itu “Villa Berdarah” untuk “Biang Kerok” dalam “Pakaian Dan Kepalsuan”. Tiadakah ingat “Karma” dengan “Perhitungan Terakhir”? Kini “Permainan Bulan Desember” datang mengingatkan cinta Garut “Bukan Impian Semusim”, sebab di saat “Bing Slamet Sibuk” bulan “November 1828”, “Rembulan Dan Matahari” pun bersaksi bahwa Garut “Pulau Cinta”. Garut “Langitku Rumahku”! Betapa Garut “Sesuatu Yang Indah” berlagu “Getar Dawai Hati”, berpayung “Kemilau Cinta di Langit Jingga”. Bertilam “Kabut Sutra Ungu”. Semua “Anak-Anak Revolusi” dalam “Pasukan Berani Mati”, tiada takut “Raja Jin Penjaga Pintu Kereta”. Tak perduli pula “Suster Ngesot” bermain “Tali Pocong Perawan”. Mereka menjaga “Serangan Fajar”. Para “Perawan di Sektor Selatan”, termasuk “Puteri Seorang Jenderal”, bagai “Mutiara Dalam Lumpur” yang tak kenal “Musim Bercinta”. Semua tak pernah berkeluh, “Susahnya Jadi Perawan”! Asyik saja “Bercanda Dalam Duka” di “Lantai 13”. Bahkan, seorang “Djenderal Kantjil” pun memuja Garut bagai “Ibunda”! Para wisatawan ibarat “Arjuna Mencari Cinta”. Mereka bertutur “Selirih Bisikan Kasih”: “Di sini Cinta Pertamakali Bersemi”, untuk “Cinta Pertama”. Itu bukan “Rayuan Gombal” “Akibat Pergaulan Bebas”, yang tergoda “Impian Pengantin, karena di “Stasiun Cinta” “Kulihat Cinta Di matanya”! Namun, “Tatkala Mimpi Berakhir” di “Lorong Waktu”, Garut seperti “Bulan Tertusuk Ilalang”! Orang pun kaget “Ada Apa Dengan Cinta?” Garut, “Kamulah Satu-Satunya” yang “Selalu Dihatiku”! Kamu harus mampu ”Bangkit Dari Kubur” keterpurukkan, menyibak “Halimun” tebal. Andai tidak “Tulalit”, mungkin Garut “Tinggal Landas Buat Kekasih”. Tanpa “Dongkrak Antik”, dengan “Merahnya Cinta“ yang “Bukan Cinta Biasa” seperti “Cinta Dalam Sepotong Roti”, Garut bisa kembali jadi “Suci Sang Primadona”.   [caption id="attachment_8191" align="aligncenter" width="365"] Merenda kenangan bersama keluarga, berlatar bangunan Stasiun KA Garut. Ini peninggalan masa kejayaan perkeretaapian di Garut (1979).(Foto: Dokumentasi Pribadi)[/caption]   Doakan saja, “Semoga Kau Kembali” ke jalan “Ridho Alloh”. Lihatlah “Bulan Di Atas Kuburan” mengintip “Ponirah Terpidana”! Dia “Lari Dari Blora” sebagai korban “Binalnya Anak Muda” yang “Berbagi Suami”. Sudahlah, “Biarkan Musim Berganti”. Barangkali, itu “Garis-Garis Hidup” Garut, setelah putaran “Roda-Roda Gila”. Jangan lagi tanyakan “Dosa Siapa?”, kalau hanya terjawab “Apa Salahku?” Andai yakin “Aku Tak Berdosa”, bermohonlah “Ya Allah, Ampuni Dosaku”! “Lewat Tengah Malam” dalam “Catatan Si Boy” dan “Catatan Harian Seorang Gadis”, tertulis harapan “Gerbang Keadilan” yang berjanji bagai “Merpati Tak Pernah Ingkar janji”. Terbitlah “Fadjar Di Tengah Kabut” seiring “Pasir Berbisik”! Garut merindu “Wajah Seorang Laki-Laki”, menapaki sukses “Si Doel Anak Sekolahan” di pemerintahan. Kini “Di Balik Dinding Kelabu”, Garut menunggu lagi “Saat-Saat Yang Indah”. Semua rindu “Damai Kami Sepanjang Hari”. Tetapi pengelola daerah bukan “Bayi Ajaib”! Bukan pula “Manusia Berilmu Gaib” yang memiliki “Ajian Macan Putih”. Pandai berlari di atas “Titian Serambut Dibelah Tujuh”, untuk “Melintas Badai” seperkasa “Si Buta Dari Goa Hantu”. Mereka bukan “Satria Bergitar”, yang “Mengaku Rasul”! Setelah “Badai Di Awal Bahagia”, yakinlah “Mendung Tak Selamanya Kelabu”. Terlebih, Garut kota “Para Pencari Tuhan”. Banyak pesantren beratap “Di Bawah Lindungan Ka’bah”. Di sana mengalun kalam “Cinta” Garut, seindah “Lagu Untuk Seruni” dalam ikrar “Syahadat Cinta”, di atas “Sajadah Anak Sejarah”. Dengan “3 Doa 3 Cinta”, “Semua Sayang Kamu”, Garut! “Ketika Cinta Bertasbih” pun, selembar “Daun Di Atas Bantal” seirama “Nada Dan Dakwah”, merangkai “Ayat-Ayat Cinta” dalam “Perjuangan Dan Doa” untuk “Merintis Jalan Ke Surga”. Benar, menata Garut tak mungkin seajaib “Lampu Aladin”. Derap pembangunan tanpa “Doa Yang Mengancam”, harus seharmonis “Gita Cinta Dari SMA”. Walau di atas “Bendi Keramat”, langkah “Titian Cita” tanpa “Secawan Anggur Kebimbangan” akan menuju “Demi Masa”! Siapa mampu “Berkelana” laksana “Satria Madangkara”, menumpas “Kerikil-Kerikil Tajam”? “Rinduku, Cintamu” Ya, Rabbi! “Ketika Senyummu Hadir”, semoga “Langit Kembali Biru” di atas Garut. Biar saja “Bibir-Bibir Bergincu” turut berucap “Aku Cinta Padamu”, sebagai “Sentuhan Cinta” Garut. Itu bukan “Ranjau-Ranjau Cinta”, dari taman “Mawar Berduri”. Garut mendamba “Letnan Harahap”, yang pantang “Omong Besar”! Sirnakan “Ratapan Dan Rintihan” atas nasib Garut. Memang Garut ibarat “Cinta Yang Berlabuh”! “Demi Cinta” warganya, “Untukmu Kuserahkan Segalanya”. Tak mau terperosok ke “Jeram Cinta”, yang bisa membuat “Putihnya Duka Kelabunya Bahagia”. Lihat, “Matahari Hampir Terbenam” di balik “Jermal”. Enggan melihat “Noda Tak Berampun” di bumi ini. Bangkitkan kejuangan “Toha Pahlawan Bandung Selatan”! Jangan campakkan asset Garut seelok “Perawan Desa” itu, selara “Perempuan Dalam Pasungan”, atau “Anak Perawan di Sarang Penyamun”! Ini “Titip Rindu Buat Ayah” Garut. “Cinta” Garut jangan jadi “Cinta Yang Terjual” ke hamparan “Kembang Padang Kelabu”, nan penuh “Mawar Rimba”. Itu “Pengakuan Hati Yang Perawan” hanya “Untuk Sebuah Nama”..., Garut! “Ratapan Dan Rintihan” ini suara “Ratapan Si Miskin” seorang “Bung Kecil”, yang kuatir “Bumi Makin Panas” akibat Garut “Dalam Kabut Dan Badai”! Garut kini jadi “Gadis Di Atas Roda”, merindu “Kasih Sayang” bukan dari “Serdadu Kumbang”. Dalam “Pengabdian” ke “Batas Impian”, kubisikkan: “Tempatmu Disisiku”, Garut! (**) Kota Bendi Keramat, 7 Desember 2012

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA