Garut “Langitku Rumahku” Dalam “Catatan Si Boy” (Bagian I)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) nbsp Bukan karena Kiamat Sudah Dekat , kalau judul film nasional ini jadi Aksara Tanpa Kata . Anggaplah tanda Cinta Anak Zaman untuk Garut, sehingga artikel soal ke

Garut “Langitku Rumahku” Dalam “Catatan Si Boy” (Bagian I)

Oleh: Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut)   Bukan karena “Kiamat Sudah Dekat”, kalau judul film nasional ini jadi “Aksara Tanpa Kata”. Anggaplah tanda “Cinta Anak Zaman” untuk Garut, sehingga artikel soal kebanggaan Garut sepenuhnya berbalut sinema. Itu sebabnya, 224 judul film dan 17 sinetron ibarat “Surat Untuk Bidadari”, berisi “Pesan Dari Surga” menyibak “Kehormatan Di Balik Kerudung”. Indah bak “Busana Dalam Mimpi”, namun sendu ibarat kisah “Semalam Di Malaysia”. Benar “Saur Sepuh”, “Badai Pasti Berlalu”! Tetapi, “Bila Saatnya Tiba” Garut berucap “Selamat Tinggal Duka”? “Perempuan Berkalung Sorban” pun masih ingat, saat Garut pernah “Senyum Di Pagi Bulan Desember”, karena Pilkada Cabup/Cawabup Garut 2009-2014 jadi “Kenangan Desember” untuk “Merenda Hari Esok”. Garut yang terjerat “Lingkaran Setan”, lalu memiliki “Doea Tanda Mata” dari Pilkada. Lahir duet pemimpin baru, Aceng Kholik Fikry dan R Dicky Chandranegara. Mereka “Laki-Laki Pilihan”, yang terpilih sebagai Bupati/ Wakil Bupati Garut. Sejak zaman “Nyi Ronggeng” dan “Penunggang Kuda Dari Cimande”, hingga “Matinya Seorang Bidadari”, baru kali itu pelantikan jabatan mereka digelar di Gedung DPRD Garut. “Kehormatan” bersimbol “Embun Pagi” itu, ternyata bagai “Setetes Kasih Di Padang Gersang”. Gumpalan “Kristal-Kristal Cinta” yang menjanjikan “Seputih Hatinya Semerah Bibirnya”, dirintang “Seputih Kasih Semerah Luka”. Lalu, Garut tak lagi seindah “Intan Perawan Kubu”... “Jalan Makin Membara”! Ada orang terbius “Enak Benar Jadi Jutawan” melalui “Pintu Terlarang”, tanpa kenal “Pengorbanan”. Orang pun “Cas-Cis-Cus” seperti “Dunia Tanpa Koma”, membincang “Napsu Serakah” dan “Semau Gue” yang menikam wajah Garut bagai “Bidadari Yang Terluka”! Benarkah “Nafsu Gila” mengganas? Memang, “Dunia Belum Kiamat”. Tingkah insan “Bernapas Dalam Lumpur”, memaksa Garut terbalut “Derita Tiada Akhir”. [caption id="attachment_8014" align="aligncenter" width="500"] Aktor film legendaris Garut (alm) Arman Effendy (kiri), HE Senewe (jurukamera) dan Yoyo Dasriyo, saat syuting film “Kembali” (1976) garapan H Soetanto, di kawasan Cipanas, Garut. (Foto Cang Anwar)[/caption]   Citra keindahan “Kemilau Kemuning Senja” yang memayungi Garut, berbekas hamparan “Kembang Ilalang” sehabis bencana “Zig-Zag” dari aksi “Angkara Murka”. Garut kehilangan “Permata Biru”. Itu “Secangkir Kopi Pahit! Tetapi tak perlu menuduh “Karena Dia”, atau akibat “Ayahku” memilih “Hanya Satu Jalan” untuk kesenangan pribadi. Jangan lagi ucapkan “Aku Benci Kamu”! Kobarkan “Lampu Merah” untuk korupsi, dan “Pekawinan Dalam Semusim” dengan “Usia 18”! Bukankah itu “Pernikahan Dini”, seperti “Kawin Kontrak"? Semoga itu memupus “Sejuta Duka Ibu”, sampai di hati “Pengemis Dan Tukang Becak”! Garut senasib “Pacar Ketinggalan Kereta”, selepas janji “Arini, Masih Ada Kereta Yang Lewat”. Kini, “Biarkan Kereta Itu Lewat” dari sejarah, karena “Kereta Api Terakhir” di Garut tercatat tahun 1984. Lalu “Angkot Haji Imron” dan “Bajaj Bajuri” beroperasi. Banyak pula “Taxi” beraksi! Tetapi mengapa Garut jadi “Serpihan Mutiara Retak”? Tangis warga seperti “Telaga Air Mata”. Atas “Kuasa Illahi”, “Tokoh” sentral “Di Balik Pintu Dosa” pun terjaring. Tiada lagi “Satria Baja Hitam”, karena “Dikejar Dosa”! Takut “Rahasia Illahi” yang “Tiada Maaf Bagimu”, sebab “Hidup Tanpa Kehormatan” laksana “Perisai Kasih Yang Terkoyak”. Lebih seram dari “Hantu Ambulance” di “Terowongan Rumah Sakit”, atau “Kuntilanak” yang “Beranak Dalam Kubur”. Siapa berani: “Kejarlah Daku, Kau Kutangkap”? (Bersambung)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA