Film Nasional Berlatar Kepariwisataan Garut (Bagian I)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan film dan musik, Anggota PWI Garut) Benar Garut tidak sebesar Bandung. Tetapi kota kabupaten berjarak 63 km dari ibukota Provinsi Jawa Barat itu, memiliki nilai historis dalam riwayat perfilman nasional. Garut tak sekecil daer

Film Nasional Berlatar Kepariwisataan Garut (Bagian I)

Oleh: Yoyo Dasriyo (Wartawan film dan musik, Anggota PWI Garut) Benar Garut tidak sebesar Bandung. Tetapi kota kabupaten berjarak 63 km dari ibukota Provinsi Jawa Barat itu, memiliki nilai historis dalam riwayat perfilman nasional. Garut tak sekecil daerahnya. Bahkan di luar Bandung, Garut terhitung kota kedua di Jawa Barat setelah Sukabumi, yang dikenal sebagai daerah tujuan lokasi syuting film. Sejumlah insan film nasional dan sinetron berdarah Garut, lalu banyak yang sukses membintang. Terdukung keragaman pesona alam kepariwisataannya, keberadaan Garut memagut percaturan dalam industri film nasional. Sebaris para pelaku keartisan film Garut bermunculan, sejak masa silam hingga kekinian. (Simak “Gemerlap Sinar Bintang Asgar Masih Berpijar”). Harga yang pantas, jika tahun lalu DPC PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) Garut bersama panitia “Gebyar Garut Festival 2012”, mengemas dokumentasi perfilman berlatar obyek wisata daerah ini. Peristiwa perfilman nasional di bumi Garut, kini mulai mendapat apresiasi dari pemkab setempat, sebagai penguat harga kesejarahan lain di Kab Garut. Tentu karena banyak daerah di Jawa Barat, yang masih mendambakan untuk terpilih sebagai daerah tujuan lokasi syuting film. “Kami bersyukur dan berbangga, karena Garut sejak lama sering dijadikan lokasi syuting film layar lebar. Melalui produksi perfilman itu, sangat menunjang bagi promosi asset kepariwisataan daerah Garut” kata Kepala Disbudpar Kab Garut, Yatie Rochayati SH, Msi. Bermula tahun 1961, film “Panggilan Tanah Sutji” (“Tauchid”) karya (alm) Drs H Asrul Sani, memotret kawasan wisata Garut di daerah Tarogong. Film religi itu, membintangkan (alm) H Ismed M Noor, Nurbani Yusuf, (alm) Aedy Moward, (alm) Mansyursah serta (alm) Marlia Hardi. Kini, tak banyak orang kenal nama Nurbani Yusuf, bintang kenamaan dari film “Asrama Dara”, “Anak Perawan di Sarang Penjamun” dan “Bajangan di Waktu Fadjar”. [caption id="attachment_11969" align="aligncenter" width="460"] Sutradara (alm) A Harris (kanan) menyutradarai Herman Pero dan Yatie Surachman, untuk film laga “Tendangan Iblis” (1983) di kawasan wisata Citiis, Kab Garut. (Foto: Yoyo Dasriyo)[/caption]   Peluang kecil sebagai figuran dari film itu pula, membuka karier keaktoran (alm) H Arman Effendy, sebelum berperan penting di film “Anak-Anak Revolusi” karya (alm) H Usmar Ismail (1964). Kemasyhuran Garut mencuat, saat Usmar Ismail menggencarkan sebagian syuting film perjuangan “Toha Pahlawan Bandung Selatan” (1962). Warga setempat berbangga, karena reputasi Usmar Ismail tengah berkilat, atas sukses film “Pedjoang” (1960), yang berbuah gelar Aktor Terbaik untuk (alm) Bambang Hermanto di festival film Moskow. Tahun 1965, Garut kembali dipilih untuk sebagian lokasi syuting film perjuangan “Segenggam Tanah Perbatasan” karya Jamal Halputra, yang proses syutingnya di kawasan wisata Citiis, Garut. Film ini membintangkan pasangan suami-isteri (waktu itu) aktor (alm) Dicky Suprapto dan (alm) Suzanna. Sedikit diingat orang, film itu pun berharga historis bagi karier Widyawati, yang lebih dikenal sebagai vokalis cantik dari kelompok “Trio Visca”. Setelah direntang “badai politik” dan bermacam gejolak, Garut selama enam tahun sunyi dari kegiatan film. Kejutan tergelar tahun 1971, saat Garut dijadikan bagian lokasi syuting film “Si Buta Dari Goa Hantu” pertama karya Liliek Sujio, di Cadas Gantung, Tutugan Leles, dan kawasan Curug Citiis. Film laga peniup reputasi (alm) Ratno Timoer itu, mendongkrak promosi kepariwisataan daerah Garut, karena cerita filmnya diunggah dari kepopuleran komik karya Ganes Th. (Bersambung) Simak lanjutannya disini!

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA