Diky Chandra Masih Keturunan Sukapura, Ini Kata Budayawan Garut

Siapa yang tidak mengenal sosok Rd. Diky Chandranegara atau beken dipanggil Diky Chandra. Dia berprofesi sebagai politikus, pelawak, Master of Ceremony (MC), sutradara, penulis naskah (skenario) sekaligus aktor dalam dunia hiburan di Indonesia. Terlebih

Diky Chandra Masih Keturunan Sukapura, Ini Kata Budayawan Garut

GARUT, FOKUSJabar.com : Siapa yang tidak mengenal sosok Rd. Diky Chandranegara atau beken dipanggil Diky Chandra. Dia berprofesi sebagai politikus, pelawak, Master of Ceremony (MC), sutradara, penulis naskah (skenario) sekaligus aktor dalam dunia hiburan di Indonesia. Terlebih, pria kelahiran Tasikmalaya, 12 Mei 1974 ini merupakan mantan Wakil Bupati Garut periode 2009-2014 yang pada saat itu berpasangan dengan Bupati KH. Aceng Fikri. [caption id="attachment_212024" align="aligncenter" width="735"] diky chandra[/caption] Nama besar Diky Chandra kembali menggema ketika dikabarkan bakal maju menjadi Bakal Calon (Balon) Wali Kota pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Tasikmalaya 2017 mendatang. Konon, suami tercinta Ny. Rani Permata yang juga Line Produser FTV “ Hidayah Untuk Suami Tercinta,“ masih keturunan Sukapura yakni dari Kanjeng Dalem Sawidak. Sejumlah tokoh masyarakat dan beberapa Partai Politik (Parpol) meminta sekaligus mengusungnya menjadi orang nomor satu di Kota Tasikmalaya. Salah seorang Budayawan Garut, Dedi Efendi (61) membenarkan hal itu. Menurut dia, jika dilihat dari buku “ Sejarah Babon Leluhur Sukapura “ (Sukapura Ngadaun Ngora), Diky Chandra memang termasuk keturunan Sukapura dari Kanjeng Dalem Sawidak. " Jika ditarik secara garis benang merahnya, pak Diky pantas dan layak menjadi Wali Kota Tasikmalaya. Selain masih keturunan Sukapura juga sudah mengenal lingkungan pemerintahan semasa menjabat Wakil Bupati Garut,” kata Dedi Efendi saat ditemui di rumahnya, Jalan Proklamasi Garut, Senin (7/3/2016). Menurut dia, sejumlah karya nyata telah dilakukan Diky Chandra semasa menjadi Wakil Bupati Garut. Terlebih, Rani Permata (istri Diky) kerap membantu korban trafficking dan membantu pengentasan buta huruf. Keduanya selalu mengedepankan kepentingan masyarakat ketimbang pribadi dan keluarganya. Kala itu, ketika menyandang gelar sebagai ibu pejabat, Rani tidak merentangkan jarak justru menciptakan romantisme kedekatan dengan masyarakat. Pola hidup sederhananya hingga kini masih diingat seluruh warga Garut. Terbukti, saat berkunjung ke Kota Intan, ke-duanya selalu disambut baik. “ Seingat saya, ibu Rani saat turun ke desa-desa untuk membantu meringankan beban masyarakat, sedikitpun tidak meminta bantuan dari anggaran Pemda. Semuanya dilakukan dari isi kantongnya sendiri. Bahkan rela 'mengamen' ke jalanan demi menghimpun dana bantuan,” kenang Dedi. Rani berdiri di garis paling depan membantu penderita Thalasemia, menanggulangi korban bencana alam, memberantas buta huruf hingga memberdayakan perempuan dan anak terkait masalah trafficking dan KDRT. Totalitasnya dalam berjuang untuk masyarakat terpinggirkan begitu mendalam. Semua dilakukannya semata karena ikhlas, bukan politis. Tak heran jika masyarakat menyebutnya “ indungna barudak Garut.” Kiprah yang tak mengenal rasa lelah, bersama sang suami, Rani membawa harum nama Garut di kancah nasional. Giat memperkenalkan eksotisme Garut di berbagai media, termasuk sinetron mendorong peningkatan pendapatan daerah dari sektor pariwisata. “ Terlebih di dalam diri pak Diky melekat jiwa kepemimpinan dan menyayangi sesama yang nasibnya kurang beruntung. Jadi tidak salah, jika masyarakat Kota Tasikmalaya meminta kesediaannya mencalonkan diri menjadi Wali Kota Tasikmalaya,” pungkas Dedi. (Bam’s)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA