Di Majalengka, 3.500 Pasangan Cerai Tahun Ini

Oleh Asep Sutrisno MAJALENGKA, FOKUS JABAR COM Tingginya angka perceraian di Kabupaten Majalengka, salah satunya diakibatkan maraknya pernikahan dini dengan didorong rendahnya tingkat pendidikan dan kemiskinan. Apalagi saat ini berdasarkan data dari

Di Majalengka, 3.500 Pasangan Cerai Tahun Ini

Oleh: Asep Sutrisno MAJALENGKA, FOKUS JABAR COM:  Tingginya angka perceraian di Kabupaten Majalengka, salah satunya diakibatkan maraknya pernikahan dini dengan didorong rendahnya tingkat pendidikan dan kemiskinan. Apalagi saat ini berdasarkan data dari Pengadilan Agama (PN) Majalengka, angkanya sudah mencapai 3500 orang pasangan suami istri (Pasutri) di tahun 2012 ini. Pernyataan itu ditegaskan anggota DPRD Kabupaten Majalengka Asep Aminudin, Minggu, (23/12) malam. Asep memaparkan, menyikapi persoalan tersebut, pihaknya meminta semua elemen masyarakat terutama Kementerian Agama (Kemenag), agar berperan aktif memberikan penerangan terkait masih banyaknya pernikahan dini. Sebab akibat persoalan ini, tercatat tingkat perceraian setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. "Rendahnya tingkat pendidikan, menyebabkan rasionalitas dan daya analitisnya menjadi rendah, sehingga tidak memikirkan konsekuensi setelah menikah,"jelasnya. Sementara faktor kemiskinan, lanjut dia, turut menjadi pemicu pernikahan dini. Menikahkan anak terutama anak gadis yang putus sekolah, masih dijadikan alat agar bisa membantu atau keluar dari jerat kemiskinan. Maka dari itu, dari segi peraturan perundang-undangan juga diharapkan ada kesinkronan. Sebab dalam UU Pernikahan, perempuan boleh menikah ketika usianya minimal 16 tahun dan laki-laki 18 tahun. Sementara dari penelitian, usia paling tepat untuk menikah secara matang/reproduktif adalah ketika perempuan mencapai usia 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Tak hanya sekedar itu, sambung dia, perlu adanya penguatan tupoksi penyuluh agama di masing-masing kecamatan, karena peran merekalah (KUA) yang berhadapan langsung dengan masyarakat. "Aparat KUA misalnya, harus tegas mengikuti aturan UU Pernikahan, jangan juga ikut-ikutan untuk merekayasa umur anggota masyarakat yang belum cukup usia agar bisa menikah," katanya. Ditambahkan dia, berdasarkan penelitian yang dilakukan perguruan tinggi saat ini ada pergeseran dari penyebab masih tingginya angka perceraian. Sebab perceraian juga menerpa pasangan yang berasal dari ekonomi menengah ke atas. "Artinya masalah ekonomi bukan lagi menjadi penyebab perceraian. Ini yang perlu diwaspadai, ada apa ini," tuturnya. Hal senada juga diungkapkan Kyai Muda asal Kabupaten Majalengka, H. Didin Misbahudin. Dikatannya, penyebab angka perceraian di sejumlah daerah saat ini sudah menghawatirkan. "Kami yakin jika pemahaman agama yang kuat serta ditunjang pendidikan yang matang, maka semua orang tidak akan melakukan perceraian. Karena Allah SWT sangat membenci perkara tersebut," ujarnya. (MSU)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA