Harga Rokok Naik, Picu Inflasi di Kota Cirebon

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon Jawa Barat mengaku, ada kekhawatiran terhadap wacana kenaikan harga rokok yang akan ditetapkan oleh pemerintah pusat. Pasalnya, berdasarkan survey biaya hidup tahun 2012 timbangan konsumsi rokok di Kota Cirebon m

Harga Rokok Naik, Picu Inflasi di Kota Cirebon

CIREBON, FOKUSJabar.com: Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon Jawa Barat mengaku, ada kekhawatiran terhadap wacana kenaikan harga rokok yang akan ditetapkan oleh pemerintah pusat. Pasalnya, berdasarkan survey biaya hidup tahun 2012 timbangan konsumsi rokok di Kota Cirebon mencapai 1,8. Menurutnya, jumlah tersebut berada di posisi setelah beras yang timbangan konsumsinya mencapai 5,1. Padahal, tingkat inflasi di Kota Cirebon pada Juli 2016 lalu tercatat sebagai yang terendah dari 26 kota di pulau Jawa. "Jadi kalau masyarakat Kota Cirebon penghasilannya Rp 100, digunakan untuk belanja beras Rp 5,1 dan untuk membeli rokok Rp 1,8. Itu lebih tinggi dibandingkan bahan bakar rumah tangga dan semen," katanya, Selasa (23/8/2016). Pihaknya mengkhawatirkan jika kebijakan tersebut diterapkan akan terjadi tarik menarik terhadap inflasi di daerah berkembang ini. Sehingga, masyarakat akan lebih memilih membeli rokok daripada minyak tanah atau gas. Namun, jika malah menghilangkan konsumsi salah satu kebutuhan rumah tangga, maka kebijakan tersebut tidak tepat sasaran. Menurutnya, jangan sampai masyarakat Kota Cirebon tidak mampu memenuhi kebutuhan lain lantaran uang belanjanya habis untuk membeli rokok. Apalagi, jikalau kenaikan harga rokok justru membuat tingkat konsumsi rokok di Kota Cirebon meningkat. "Makanya harus ada tindak lanjut agar dapat mengurangi konsumsi rokok. Misalnya dengan sosialisasi bahaya rokok secara intens. Agar konsumsi rokoknya berkurang," ujarnya. Dia memprediksi, pada Agustus ini tingkat inflasi di Kota Cirebon masih relatif stabil. Pada Juli 2016, tingkat inflasi di Kota Cirebon sebesar 0,24 persen. Inflasi tersebut dengan indeks harga konsumen sebesar 120,39. Dari 7 kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi yaitu kelompok sandang 0,65 persen, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,38 persen. Selanjutnya, kelompok pedidikan 0,28 persen, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,28 persen. Pada kelompok kesehatan 0,19 persen, kelompok bahan makanan 0,14 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakao 0,09 persen. Adapun sub kelompok yang memberikan andil terbesar adalah daging dan hasil-hasilnya. Dia berharap kebijakan pemerintah menaikkan harga rokok untuk mengurangi tingkat konsumsi rokok tersebut tepat sasaran. (Panji/DEN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA