Irma Bastaman: Angka Kemiskinan Tinggi, Indeks Kebahagiaan Kota Banjar Dibawah Nasional dan Jawa Barat

Esensi keberhasilan Pemilihan Umum (Pemilu) dapat melahirkan pemimpin yang piawai dalam pengelolaan serta pemerataan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Dibuktikanya dengan perbaikan pembangunan infrastruktur yang baik. Akses mobilitas masyarakat yang muda

 Irma Bastaman: Angka Kemiskinan Tinggi, Indeks Kebahagiaan Kota Banjar Dibawah Nasional dan Jawa Barat

BANJAR, FOKUSJabar.com: Esensi keberhasilan Pemilihan Umum (Pemilu) dapat melahirkan pemimpin yang piawai dalam pengelolaan serta pemerataan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Dibuktikanya dengan perbaikan pembangunan infrastruktur yang baik. Akses mobilitas masyarakat yang mudah ini dapat mencerminkan kesuksesan dari daerah tersebut. Akan tetapi, membangun indeks manusia hanya memiliki persentase kecil dibandingkan pembangunan berbasis proyek infrastruktur. Dampaknya, angka kemiskinan dan pengangngguran akan naik segnifikan tanpa ada solusi yang pro terhadap keberlangsungan bangsa itu sendiri. Hal inilah yang menjadi dasar, bagi Bakal Calon Wali Kota Banjar, Irma Bastaman untuk mengembalikan kembali pada jati diri Kota Banjar yang hakiki. Sebagai politisi perempuan dari Partai Demokrat, Irma memiliki beberapa trobosan ide gagasan untuk membangun index of happines (indeks kebahagian) masyarakat Kota Banjar yang dianggap lumpuh pada bidang perekonomian. “Saya memiliki beberapa fakta yang mengatakan Banjar lumpuh dari sektor perekonomian. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Sosial menyatakan bahwa sedikitnya 13 ribu rumah miskin jika dihitung penduduknya itu ada sekitar 40 ribu orang. Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Banjar sebanyak dibawah 200 itu sudah 20%. Angka ini sudah melampaui dari angka kemiskinan diatas Nasional juga Jawa Barat,” ungkap dia saat dihubungi FOKUSJabar.com. Minggu (17/09/2017). Masih menurut Irma, pendapatan perkapita masyarakat Banjar itu masih Rp 280 ribu dibawah Rp 10 ribu perbulan. Sedangkan harga beras sudah masuk pada harga Rp 10 ribu, sehingga bagi dia Banjar termasuk kota yang belum hidup kota. Selain itu, dia juga mengungkapkan fakta sebanyak 7 ribu warga Banjar menjadi pengangguran terbuka. Data tersebut ia dapatkan dari BPS dan Dinas Sosial sebagai bahan penelitian indeks kebahagian Kota Banjar. “Saya sebagai asli warga Banjar merasa prihatin dengan kondisi itu. Sehingga saya bertekad untuk mengangkat derajat masyarakat Banjar. Karena puncak kebahagiaan seseorang itu adalah tingkat kesejahteraan yang terpenuhi,” jelas dia. (BOIP/Bam's)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA