Bagaimana Hukum Arisan Kurban? Ini Jawaban MUI Kota Banjar

Fenomena sosial menjelang hari raya Idul Adha atau kerap disebut dengan lebaran kurban selalu dimanfaatkan oleh para Agnia untuk berkurban. Ada yang caranya dengan berkurban atas nama pribadi atau rereongan dengan cara arisan kurban. Apakah arisan kur

Bagaimana Hukum Arisan Kurban? Ini Jawaban MUI Kota Banjar

BANJAR, FOKUSJabar.com: Fenomena sosial menjelang hari raya Idul Adha atau kerap disebut dengan lebaran kurban selalu dimanfaatkan oleh para Agnia untuk berkurban. Ada yang caranya dengan berkurban atas nama pribadi atau "rereongan" dengan cara arisan kurban. Apakah arisan kurban diperbolehkan? Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjar, KH Mukhtar Gozali mengungkapkan bahwa arisan kurban diperbolehkan. Karena menurut dia itu berdasarkan hadist dan ketentuan syar'iat Islam. "Sapi, Unta, Kerbau boleh dijadikan sebagai hewan kurban maksimal untuk tujuh orang. Tetapi tidak untuk kambing dan domba, itu hanya diperbolehkan untuk satu orang," urainya, Jum'at (25/08/2017). Hadits Rosulullah SAW : “Kami menyembelih hewan pada saat Hudaibiyah bersama Rasulullah SAW. Satu ekor badanah (unta) untuk tujuh orang dan satu ekor sapi untuk tujuh orang”. (HR. Muslim, Abu Daud dan Tirmizy) Kemudian, KH. Mukhtar Gozali menerangkan bagi para umat muslimin muslimat yang akan berkurban harusnya memperhatikan hewan yang akan dijadikan kurban. Dia juga memberikan tips bagaimana memilih hewan kurban sesuai syar'at Islam. 1. Hewan kurban tidak boleh cacat. Sebelum menentukan pilihan untuk hewan kurban kata KH. Mukhtar, hewan harus sehat dan tidak cacat. Contoh, patah tanduk. 2. Harus sesuai dengan ketentuan umur yaitu sudah berumur dua tahun. "Minimal giginya telah patah satu, maka itu diperbolehkan. Khusus untuk hewan kurban bentina jangan yang sedang hamil anak," imbuhnya. KH Mukhtar Gozali menambahkan, pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dilaksanakan pada tanggal 10,11,12 Dzulhijjah. Sebab dihari-hari tersebut adalah hari suka cita dan makan-makan bagi umat Islam. Atau di hari Tasyrik dua hari setelah Idul Adha. "Hukum Qurban adalah sunnah mu’akkad dan merupakan syi’ar yang nampak (dhohir) bagi setiap muslim yang mampu untuk menjaganya (melestarikannya) untuk meningkatkan rasa ketakwaan pada Allah SWT," pungkas dia. (Boip).

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA