Yang Tertinggal dari Hari Film Nasional: Warga Tionghoa Berladang Film Indonesia (Bagian II-Habis)

Oleh Yoyo Dasriyo Kemasyhuran Liem Cam Pay, jadi bagian sukses karier (alm) Lilies Suryani. Ingat lagu Impian Semalam ? Waktu semalam, Bung Aku bermimpi Bertemu ular, Bung Besar sekali... dst. Itu lagu karya Oey Yok Siang, yang melegenda d

Yang Tertinggal dari Hari Film Nasional: Warga Tionghoa Berladang Film Indonesia (Bagian II-Habis)

Oleh: Yoyo Dasriyo Kemasyhuran Liem Cam Pay, jadi bagian sukses karier (alm) Lilies Suryani. Ingat lagu “Impian Semalam”? “Waktu semalam, Bung/ Aku bermimpi/ Bertemu ular, Bung/ Besar sekali...” dst. Itu lagu karya Oey Yok Siang, yang melegenda di ladang tembang lawas nyanyian (alm) Bing Slamet. Dalam jejeran bintang kenamaan, keturunan Tionghoa memanjangkan daftar. Sukses Jenny Rachman maupun George Ruddy Sutanto, bagai regenerasi kejayaan (alm) Tan Tjeng Bok dan (alm) Fify Young alias Tan Kiem Nio, maupun pelawak Ateng. Sederet penerus bintang berdarah Tionghoa, kini mengalir di tengah industri sinetron. Selepas era Candra Dewi, Sri Mulyati, Brigitta Maria, Eva Devi, Dewi Puspa, Hengky Nero serta Willy Dozan, muncul Ferry Salim, Devi Permatasari, Yurike Prasticia, Agnes Monica, Nia Lavenia serta Leonny. Di barisan remaja, Agnes Monica membintang menyusul pesona aktingnya dalam sinetron “Pernikahan Dini”, hingga merambah ke dunia nyanyi. Lejitan reputasi Agnes, membuat orang tak kenal lagi nama Lela Monica, kakak kandung Lucy Dahlia dari Bandung, yang pernah berjaya dalam kancah sinetron! Kondisi pembauran warga keturunan Tionghoa dalam percaturan film nasional, pun menggoda selera bisnis, dengan mendagangkan pamor artis Mandarin. Ini formula yang pernah menghangatkan wajah-wajah film Indonesia era-70-an. Sutradara  (alm) Turino Junaedi membintangkan Mona Kwok dan Clare Tso Tsing, untuk film “Ibuku Kekasihku”. Film lanjutan “Bernapas Dalam Lumpur” dan “Noda Tak Berampun”. Hadir kemudian film “Tiada Jalan Lain” (1974), yang menjual Teng Kuang Jung dan Tang Wei. Tetapi sukses besar film nasional berbintang Mandarin, hanya dicapai “Pandji Tengkorak” karya Yang Shih Ching dan (alm) A Harris (1971). Popularitas Shang Kuan Ling Fung, Charlie Chen dan Peter Chen mendampingi Deddy Sutomo, (alm) Maruli Sitompul dan Lenny Marlina, menguatkan nilai komersial film komik silat karya Hans Djaladara itu. Di saat  memusim bintang Mandarin, bermunculan pula film bertema asimilasi. [caption id="attachment_34710" align="aligncenter" width="460"] Aktris watak (alm) Fifi Young alias Tan Kiem Nio, yang pernah lama berjaya dalam perfilman nasional. Ini potret kenangan adegan Fifi Young dan (alm) Arman Effendy, dalam film “Hamidah” karya Iksan Lahardi (1972).(Dokumentasi Yoyo Dasriyo)[/caption] Bisnis film bermuatan pembauran etnis, terdorong dengan keberadaan sederet artis berdaya kemiripan figur warga Tionghoa. Di luar asset artis kenamaan berdarah campuran, penampilan Netty Herawati, (alm) Awaluddin, Titiek Puspa, Dhana Christina serta (alm) Suryana Fatah – pelawak “De Kabayan”, memiliki kekuatan spesifik untuk memvisualkan tokoh berkultur Tionghoa!! Namun film asimilasi masih sulit menuai sukses komersialnya. Film “Puteri Giok” pun gagal menciptakan kejutan pasar. Pengorbanan Dian Ariesta berkepala gundul, nyaris tak ada artinya. Padahal itu tuntutan lakon untuk menguatkan kemarahan orangtua gadis berdarah Tionghoa, saat anak gadisnya diketahui mencintai pria Indonesia. Rupanya tingkat sensasi film itu kalah bersaing dengan film “Rahasia Perkawinan” karya H Maman Firmansyah (1978). Meski rambut Yatie Octavia hanya digunting acak-acakan, tetapi pamor bintang kondang membuat film “Rahasia Perkawinan” berdaya jual tinggi! Sebaliknya nilai jual “Puteri Giok” hanya dipertaruhkan pada keberanian Dian Ariesta semata. Film asimilasi lainnya, “Titienku Sayang” (John Tjasmadi), “Kisah Fanny Tan” (Andjar Subiyanto), “Misteri In Hongkong” (Iksan Lahardi) serta “Mey Lan, Aku Cinta Padamu” karya (alm) Pietrajaya Burnama. Lagi-lagi film jenis itu masih rendah dalam takaran komersial. Termasuk juga pasar film “Apanya Dong” (1983), karya (alm) Nyak Abbas Akup - sutradara jagoan film komedi. Itu dimungkinkan terjadi, karena film pemuat asimilasi terkurung kedangkalan konflik, yang cenderung klise! Belum pernah lahir film dengan kekuatan materi cerita dan pemeranan, yang mampu mendongkrak martabat perdagangan tema asimilasi. Bukan alur cerita yang gampang ditebak penonton! Tak cuma aspek kebaruan tematis lakon dan kekuatan promosi, spekulasi membintangkan pendatang baru pun sering berbuah kegagalan. Terbukti tingkat popularitas Dian Ariesta di film “Puteri Giok”, atau Eva Devi (“Misteri In Hongkong” dan “Mey Lan, Aku Cinta Padamu”), belum melicinkan pasar filmnya. Meski bukan film laris, “Apanya Dong” yang diunggah dari judul lagu Euis Darliah karya Titiek Puspa, terhitung film paling berdaya artistik, dan karakteristik pemeranan bernuansa Tionghoa. Apapun hasilnya,penjualan tema asimilasi tak pernah henti. Pembauran etnis mewarnai wajah-wajah sinetron di televisi swasta. Sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” karya H Rano Karno pun, menghidupkan tokoh Ahong untuk merebut hati Zaenab (Maudy Koesnaedi). Ingat pula “Satu Atap Seribu Wajah” karya Ismail Soebardjo, yang melahirkan tokoh Lience. (Nia Lavenia) dan Nancy Lauw (Yurike Prastica) - janda muda keturunan Tionghoa. Tak ketinggalan, Ali Shahab memuat pembauran dalam sinetron “Angkot Haji Imron”. Lahir kemudian sinetron “Ujang Dan Aceng” (H Maman Firmansyah), dan “Bukan Cinta Sesaat” (Boyke Roring) menghadirkan Devi Permatasari sebagai gadis keturunan Tionghoa. Tak sedikit artis berdarah campuran, menguatkan kemasan cerita asimilasi. Tentu saja kesiapan deretan bintang populer berdarah campuran, untuk tokoh berpredikat Cina, bermakna besar dalam memvisualkan keutuhan film, maupun sinetron asimilasi Bahkan tanpa sungkan, Leony pernah tampil mendampingi Teddy Syah dalam FTV “Jangan Panggil Aku Cina”. Sebuah judul sinetron yang lebih gamblang!. Muatan ceritanya amat akrab dengan potret keseharian. Wajah film televisi itu terdukung dengan kecantikan setting alam Sumatera Barat. Tetapi,  bangunan konflik ceritanya belum banyak kebaruan, Masih juga mengusung formula lama! Walau begitu, tema asimilasi dalam sinetron di televisi, lebih berdaya pikat. Minat penonton televisi untuk sinetron asimilasi, bukan hanya karena mereka tidak dipersaingkan dengan beban tiket tontonan. Lebih dimungkinkan lagi, karena tema semacam itu dianggap barang baru. Tak banyak lagi orang ingat lakon sejenis dalam masa perdagangan film “Ibuku Kekasihku”, “Kisah Fanny Tan”, “Puteri Giok”, “Misteri In Hongkong” maupun “Mey Lan Aku Cinta Padamu”. Karenanya, penjudulan sinetron seperti “Jangan Panggil Aku Cina”, mampu membangun perhatian penonton televisi. Padahal, tematis ceritanya masih saja dangkal dalam lingkaran klasik (***)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA