Yang Tertinggal dari Hari Film Nasional: Warga Tionghoa Berladang Film Indonesia (Bagian I)

Oleh Yoyo Dasriyo Sejarah perfilman nasional bersaksi. Warga Tionghoa dan keturunannya, yang tampil menggairahkan awal bisnis film di Indonesia. Jauh sebelum (alm) Usmar Ismail mengibarkan NV Perfini (1950), tiga bersaudara Wong dari Shanghai

Yang Tertinggal dari Hari Film Nasional: Warga Tionghoa Berladang Film Indonesia (Bagian I)

Oleh: Yoyo Dasriyo Sejarah perfilman nasional bersaksi. Warga Tionghoa dan keturunannya, yang tampil menggairahkan awal bisnis film di Indonesia. Jauh sebelum (alm) Usmar Ismail mengibarkan NV “Perfini” (1950), tiga bersaudara Wong dari Shanghai – Tiongkok datang, dan menggelar perusahaan “Halimoen Film” (1928). Peristiwa itu setelah G Kruger (Jerman) dan Heuveldop (Belanda), membidani kelahiran film “Loetoeng Kasaroeng” dan “Eulis Atjih” di Bandung. Berbagai sumber mengungkapkan, ketiga “Wong Bersaudara” yang terdiri dari Nelson Wong, Joshua Wong dan  Othniel  Wong, memproduksi film “Melati van Java” dan “Indonesia-Malaise” karya Nelson Wong. Alkisah, Wong Brothers itu yang menyuburkan warga keturunan Tionghoa, untuk berladang film di negeri ini. Lalu, Tan Khoen Hian mendirikan “Tans Film”, dan memproduksi film “Nyai Dasima” (1930) garapan Lie Tek Soei. Film itu banyak dianggap sebagai awal hadirnya film bersuara di Indonesia. Di  tahun yang sama, The Teng Chun sutradara dan produser dari “Cino Motion Pictures Corporation” membuat film “Bunga Ros Dari Tjikembang”. Tahun 1975, film itu  dikemas lagi sebagai produksi Agasam Film Corp.  Film karya The Teng Chun lainnya “Pat Bie Po” dan “Pat Kian Hiap”. Dari kerjasama “Tans Film” dan “Wong Brothers” (1938), menuai sukses film “Terang Boelan” (Albert Ballink). Berangkat dari cerita karya Saeroen (wartawan), film “Terang Boelan” mampu melejitkan sukses pasangan (alm) Rd Mochtar dan (alm) Roekiah, ibunda (alm) Rachmat Kartolo. Dua bintang romantis idola massa penonton film, hingga jadi maskot produksi “Tans Film” kemudian. Namun tahun 1948, “Tans Film” dan “Wong Brothers” gabung jadi “Tans & Wong Bros”. Sukses filmnya, “Tirtonadi”, “Dendang Sayang” dan “Bengawan Solo”, melegenda dalam riwayat perfilman. [caption id="attachment_34709" align="aligncenter" width="460"] Bintang populer hari kemarin, Brigitta Maria, yang berdarah campuran Tionghoa, tampil bersama Haryo Sungkono dalam film “Cinta Abadi” karya John Tjasmadi (1977). Setelah lama membintang, Brigitta Maria lalu menghilang.Dokumentasi Yoyo Dasriyo)[/caption]   Di era kemasyhuran (alm) Roekiah dan (alm) Rd Mochtar itu, The Teng Chun yang berganti nama Tachjar Edris mendirikan “JIP” (“Java Industrial Pictures”). Kubu film baru ini, mencetak sukses bintang tandingan bersosok (alm) Moch Mochtar, (alm) Hadidjah dan (alm) Tan Tjeng Bok (“Mat Item”). Flm produksi “JIP” dan “Tans & Wong Bros” bertitel “Air Mata Mengalir Di Tjitaroem” (1948) karya Rustam Palindih, membukukan awal karier (alm) Sofia WD. Laju karier aktris watak itu melesat, hingga tampil sebagai wanita sutradara kedua di Indonesia, setelah (alm) Ratna Asmara (1960). Reputasi kiprah “Wong Brothers”, Tan Khoen Hian dan The Teng Chun, memanjangkan cerita dalam sejarah perfilman nasional. Tachjar Edris makin eksis, saat melejitkan kelompok “Bintang Soerabaja”. Muncul pula nama Tan Sing Hwat, sutradara film “Rahasia Soekoe Domas” (1954), “Gadis Tiga Djaman” (1956) serta “Taman Harapan” (1957). Tan Sing Hwat yang berganti nama Tandu Honggonegoro itu pula, pengorbit Siti Aminah di film “Gadis Tiga Djaman”. Pemeran utama wanita asal Magelang dalam film pertamanya itu, lalu diberinya nama Aminah Cendrakasih. Sebuah nama keartisan, yang dikenal orang hingga kini. “Saya sendiri tidak tahu, apa arti ‘Cendrakasih’ itu? Saya cuma tahu nama burung Cendrawasih dari Irian. Waktu itu saya ‘nggak sempat nanya sama Oom Tan..” Begitu pernah diungkapkan Aminah Cendrakasih di Garut (1988),  di tengah kesibukan syuting film komedi “Bendi Keramat”. Dalam sisi lain riwayat perfilman nasional, terbukti sebaris warga keturunan Tionghoa banyak yang berdedikasi terpuji sebagai sutradara film. Sebut saja nama Lie Soen Bok, Iksan Lahardi, Bobby Sandy, Hengky Sulaeman serta H Usman Effendy. Mereka berkreasi menegakkan martabat perfilman nasional, hingga berpuncak dengan sukses besar (alm) Steve Liem alias Teguh Karya. Film-film garapan Iksan Lahardi seperti “Seribu Janji Kumenanti”, “Hamidah”, “Rindu” maupun “Misteri In Hongkong”, mewarnai pamor keartisan (alm) Tanty Yosepha, Widyawati, Yatie Octavia serta Eva Devi. Dari film Iksan pula, awal pamor Tanty Yosepha berkilat, dengan gelar “Aktris Harapan Pendatang Baru Terbaik” di FFI (Festival Film Indonesia) 1973 Jakarta, atas film “Seribu Janji Kumenanti”. Film “Puteri Giok”, jadi film keberanian sensasional Dian Ariesta berkepala gundul! Benar, tampilan Dian di film itu lebih berani, dibanding Yatie Octavia dalam film “Rahasia Perkawinan”. Dian Ariesta tampil botak seperti (alm) Sukma Ayu di sinetron “Kecil-Kecil Jadi Manten”! Namun nama Iksan Lahardi lalu terpatahkan sukses film-film karya Bobby Sandy. Sejumlah filmnya yang romantis dan apik, bahkan membayangi sukses film (alm) Wim Umboh. Filmnya yang populer, tercatat “Gaun Pengantin”, “Sentuhan Cinta”, “Selamat Tinggal Jeanette”, “Cinta Di Balik Noda” serta “Kulihat Cinta Dimatanya”. Banyak film karya Bobby Sandy pun mencuat dengan dukungan daya bintang setenar Widyawati, (alm) Sophan Sophiaan, Christine Hakim, Meriam Bellina dan Ria Irawan. Di pentas FFI 1982 Jakarta, film “Selamat Tinggal Jeanette” mengantar sukses Ria Irawan jadi “Aktris Pendukung Utama Terbaik”. Bahkan, film “Cinta Di Balik Noda”, menggosok gengsi Meriam Bellina sebagai “Aktris Terbaik” di FFI 1984 Yoyakarta. Selepas sejarah tempo doeloe berlalu, insan film keturunan Tionghoa seakan tak pernah surut. Kejutan sukses penyutradaraan film pun, dicapai (alm) Teguh Karya dengan film “Cinta Pertama”. Itu film penebus kegagalan Teguh dari film pertamanya “Wajah Seorang Laki-Laki” (1971), yang diperani Slamet Rahardjo, Rima Melati, (alm) WD Mochtar dan (alm) Tutty Indra Malaon. Sukses pasar film “Cinta Pertama” (1973) itu, momentum lejitan reputasi Teguh Karya, hingga sang sutradara jadi legenda baru dunia perfilman nasional! Warga keturunan Tionghoa lainnya seperti Tantra Suryadi, Akin, Harry Susanto, Thomas Susanto serta Adrian Susanto, dikenal kemudian sebagai kameraman film jempolan. Di luar profesi ‘pedagang’ film, sutradara dan kameraman, warga keturunan pun, mengemuka di bidang penata musik. Ingat kembali nama Tjok Shin Shoe, Liem Cam Pay dan Bubby Chen. Dari film “Harimau Tjampa” dan “Debu Revolusi” (1955), Tjok Shin Shoe bergelar “penata musik terbaik” dalam Pekan Apresiasi Film Indonesia. (Bersambung)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA