Usulan gencatan senjata Libya hanya untungkan pemberontak Haftar

Gencatan senjata akan memungkinkan komandan militer yang membangkang, Khalifa Haftar, untuk mengkonsolidasikan posisi, memperkuat pertahanan

Usulan gencatan senjata Libya hanya untungkan pemberontak Haftar

TRIPOLI

Gencatan senjata di Libya kemungkinan akan menguntungkan kepentingan komandan militer pembangkang, Khalifa Haftar, setelah gerakan yang gagal untuk menguasai Tripoli, pusat pemerintahan Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB di Libya.

Pada awal April, Haftar, yang memimpin pasukan yang setia kepada penentang pemerintah yang berbasis di Libya timur, melancarkan gerakan secara luas untuk merebut ibukota.

Namun, setelah lebih dari sebulan bertempur sporadis di pinggiran Tripoli, gerakan Haftar telah gagal mencapai tujuan utamanya.

Sementara itu, beberapa negara - termasuk Prancis dan Rusia, yang keduanya mendukung Haftar - menyerukan gencatan senjata di antara para pihak yang bertikai.

Tetapi GNA telah menolak permintaan gencatan senjata, seraya mengatakan pasukan Haftar harus terlebih dahulu menarik diri dari semua posisi yang mereka ambil di dekat ibukota.

Pasukan Haftar sekarang menghadapi masalah pasokan logistik yang semakin menipis dan tekanan internasional untuk mengakhiri gerakan, sementara para pengkritiknya mengatakan dia harus dituntut atas kejahatan perang di hadapan Pengadilan Kriminal Internasional.

Pendukung Haftar sendiri, terutama Prancis, Rusia, Mesir, dan Uni Emirat Arab, menghadapi tekanan yang terus meningkat untuk mengakhiri dukungan militer dan diplomatik mereka bagi komandan pemberontak tersebut.

Dalam konteks ini, gencatan senjata mungkin akan menguntungkan Haftar, karena akan memungkinkannya untuk mengkonsolidasikan posisinya di luar Tripoli; memperkuat pertahanannya; dan memotong jalan pantai strategis yang menghubungkan Tripoli ke negara tetangga Tunisia.

Sejak gerakan militer Haftar dimulai, GNA telah kehilangan beberapa area kritis, termasuk kota-kota Sabratah dan Surman di barat Tripoli.

Kedua kota terletak di jalan pantai, yang tetap menjadi jalur pasokan penting untuk GNA.

Pasukan Haftar juga telah berhasil mengelilingi kota Zuwara, yang terletak sekitar 100 kilometer di barat Tripoli, dari timur dan selatan. Zuwara memiliki kepentingan strategis yang cukup besar karena mengendalikan perbatasan Ras Ajdir dengan Tunisia.

Haftar juga berhasil merebut kota Garyan, yang terletak sekitar 100 kilometer selatan Tripoli, memungkinkan pasukannya memotong jalan padang pasir yang menghubungkan Tripoli ke persimpangan Dehiba Wazin.

Tetapi jalan yang menghubungkan Tripoli ke kota Misrata, yang terletak sekitar 200 kilometer di sebelah timur ibukota, tetap terbuka, sehingga memastikan kelangsungan hidup GNA.

Karena keadaan, oleh karena itu, gencatan senjata hanya akan berfungsi untuk melemahkan posisi GNA - itulah sebabnya ia telah menolak gencatan senjata sebelum penarikan ke timur oleh pasukan Haftar.

Terlebih lagi, GNA tidak mempercayai Haftar, yang mengingkari janji kepada pemimpin GNA Fayez al-Serraj - yang ditemuinya pada bulan Februari - untuk mengakhiri "fase transisi" Libya dengan mengadakan pemilihan umum.

Namun, Haftar mengejutkan semua orang dengan meluncurkan kampanye Tripoli pada 4 April - hanya sepuluh hari sebelum konferensi dialog yang disponsori PBB.

Libya tetap dilanda gejolak sejak 2011, ketika pemimpin lama Muammar Gaddafi digulingkan dan terbunuh dalam pemberontakan yang didukung NATO setelah empat dekade berkuasa.

Sejak itu, negara kaya minyak itu telah melihat munculnya dua kursi kekuasaan saingan: satu di Libya timur, yang mana Haftar berafiliasi, dan satu lagi di Tripoli, yang menikmati pengakuan PBB.

* Ditulis oleh Mahmoud Barakat

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA