Terorisme di Selandia Baru dan sejarah penargetan masjid

Melawan serangan teroris ini mengharuskan kita untuk terutama menantang wacana yang lebih luas yang telah memungkinkan diskriminasi hukum umat Islam

Terorisme di Selandia Baru dan sejarah penargetan masjid

ISTANBUL

Teroris supremasi kulit putih itu seharusnya bisa memilih berbagai tempat dan obyek lain untuk melakukan serangan. Tetapi dia memilih sebuah tempat peribadatan umat Islam. Kenapa? Mari kita mengingat kembali Anders Behring Breivik, yang membunuh 77 remaja di sebuah kamp Pemuda Sosialis di Utoya, Norwegia, 2011 lalu. Dia sengaja memilih tempat itu, menyasar generasi muda sosial demokrat yang berpikiran terbuka yang mendorong Islamisasi di Eropa. Breivik, yang di dalam manifesto terroris-nya mengacu kepada “Knight Justiciar Breivik” (Kesatria Justiciar Breivik) di mana dia mendapatkan “aspirasi yang benar”, seharusnya bisa menjadi cetak biru bagi tindakan teror yang lain. Tetapi dia justru pilih masjid. Kenapa?

Pada awalnya, pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun kita mesti merenung sejenak tentang aspek terorisme. Ini bukan soal apakah mesjid sebagai simbol dari orang-orang Muslim – karena ini tidak masalah bagi supremasi kulit putih – seperti tentang bagaimana masjid telah menjadi metafora untuk proyeksi-proyeksi jahat yang kita temukan dalam ideologi Islamofobia.

Bahkan, dalam khayalan para ideolog anti-Muslim, ada sesuatu yang telah dianggap sebagai "simbol" Islam; simbol yang telah berubah menjadi masalah kontestasi politik. Simbol yang paling menonjol dan tidak diragukan lagi adalah hijab (penutup kepala yang dikenakan oleh perempuan Muslim) dan Mesjid.

Orang bisa mengamati bagaimana benda-benda tersebut telah dibingkai ulang. Sama seperti jilbab saat ini dibayangkan sebagai simbol "penaklukan perempuan" dalam masyarakat Muslim patriarki. Mesjid dicitrakan sebagai tempat radikalisasi, di mana masyarakat Muslim diajarkan untuk membenci orang lain yang tidak seagama atau dilihat sebagai tempat di mana teroris dilahirkan.

Ini pembingkaian kembali makna dari benda-benda tersebut yang menyebabkan orang-orang Muslim di berbagai tempat kehilangan kemerdekaannya. Saat kebebasan beragama telah menjadi sentral bagi sebagian besar negara-negara Barat sejak berakhirnya Perang Dunia II, hak tersebut telah dipertanyakan kepada kaum Muslim dengan berbagai cara sejak tahun 1990-an. Dan bersamaan dengan perkembangan kelompok radikal sayap kanan sejak tahun 2000-an, telah dimasukkan ke dalam undang-undang. Islamofobia yang dilembagakan telah menjadi hal normal saat ini. Perempuan Muslim tidak diizinkan memakai hijab; di berapa tempat larangan ini hanya untuk para murid, di tempat lainnya pembatasan tersebut untuk para guru, dan juga di beberapa layanan publik. Selain itu, masjid telah menjadi masalah yang diperdebatkan, mulai dari larangan menara masjid yang heboh di Swiss hingga larangan yang diam-diam, misalnya, pembangunan masjid dan menara di dua negara Austria. Dan, mari kita tidak melupakan perdebatan seputar apa yang disebut Mesjid Ground Zero di New York atau perdebatan lain yang mengemuka sekitar pembangunan sejumlah masjid yang akhirnya selesai di Cologne atau distrik Istanbul Taksim.

Ingat, betapa frustrasinya Muslim AS karena Barack Obama, yang disebut presiden "harapan", tidak dapat mengunjungi masjid, sehingga menyerah pada suasana ketakutan yang dipicu oleh retorika anti-Muslim radikal yang disebarkan oleh orang-orang seperti Pamela Geller di samping anggota Tea Party. Masjid tidak lagi menjadi simbol pemberdayaan, seperti yang diingat oleh begitu banyak orang Afrika-Amerika, tetapi sebaliknya telah berubah menjadi objek ketakutan. Situasi ini telah meninggalkan bekas.

Di sisi lain, pada teroris anti-Muslim. Daftar masjid yang menjadi target di mana orang ditembak mulai dari Masjid Finsbury Park London hingga Masjid Christchurch di Selandia Baru. Sementara penembakan massal di Selandia Baru baru-baru ini merupakan yang paling mematikan dalam sejarah, masjid telah lama menjadi sasaran, mulai dari penggerebekan polisi di Prancis hingga serangan di Jerman. Hanya pada tahun 2017, polisi menanggapi hampir 1.000 serangan terhadap masjid di Republik Federal, yang berarti bahwa setiap tiga hari, sebuah masjid menjadi sasaran. Sebuah situs web telah memetakan kejahatan rasial dan serangan terhadap masjid sejak 2015.

Tidak heran, kemudian, bahwa masjid memainkan peran sentral dalam manifesto yang diposting oleh teroris supremasi kulit putih sebelum serangan. "Kami akan menghancurkan setiap masjid dan menara di kota Konstantinopel," katanya, merujuk pada nama lama Istanbul ketika kota itu berada di bawah kekuasaan Kristen. Dia sengaja memilih masjid Christchurch karena, baginya, "memiliki lebih banyak penjajah" dan mewakili "bangunan asing yang kasat mata" dan memiliki kaitan dengan "ekstremisme". Masjid baginya adalah simbol yang mewakili berbagai jenis keberbedaan; ekstremisme, asing, supremasi (melalui pengambilalihan kepemilikan). Inilah krisis kulit putih yang dialami oleh teroris, yang diproyeksikan pada salah satu penanda kehidupan Muslim yang paling terlihat.

Dengan demikian, menghadapi serangan teroris ini mengharuskan kita untuk terutama menantang wacana yang lebih luas yang telah memungkinkan diskriminasi hukum terhadap Muslim serta membuka jalan bagi penghancuran mereka, seperti yang telah kita lihat dalam pembantaian terbaru.

Dr. Farid Hafez adalah peneliti senior di Departemen Ilmu Politik, Universitas Salzburg dan peneliti senior untuk The Bridge Initiative di Universitas Georgetown.

* Opini yang dikemukakan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Anadolu Agency.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA