Sukses Sutradara Film dari Profesi Wartawan (Bagian II)

Oleh Yoyo Dasriyo (Anggota PWI Garut, Wartawan senior film dan musik) Didedasikan untuk Hari Pers Nasional 9 Februari nbsp Film film sukses Usmar lainnya, tercatat seperti Tiga Dara , yang menuai kemasyhuran Chitra Dewi, Mieke Widjaya dan Indria

Sukses Sutradara Film dari Profesi Wartawan (Bagian II)

Oleh Yoyo Dasriyo (Anggota PWI Garut, Wartawan senior film dan musik) *Didedasikan untuk Hari Pers Nasional 9 Februari   Film-film sukses Usmar lainnya, tercatat seperti “Tiga Dara”, yang menuai kemasyhuran Chitra Dewi, Mieke Widjaya dan Indriati Iskak. Sebut pula “Delapan Pendjuru Angin”, “Toha Pahlawan Bandung Selatan”, “Anak-Anak Revolusi” hingga film “Ananda” (1970). Film terakhir itu yang meroketkan Lenny Marlina sang pendatang dari Bandung. Sutradara kampiun itu pula, pencetak sukses awal (alm) Suzanna, Nurbani Yusuf, Mila Karmila, (alm) Bambang Irawan, Rachmat Hidayat hingga (alm) Arman Effendy. Bersama “Perfini”, Usmar Ismail banyak membidani lahirnya film populer, dan deretan bintang idola. Sembilan tahun sebelum kehadiran Usmar, dunia wartawan melahirkan nama (alm) Andjar Asmara, penggarap film “Noesa Penida”. Film lainnya, “Djauh Dimata” dan “Anggrek Boelan” (1948) produksi SPFC (South Pasific Film Corporation). Bahkan, (alm) Ratna Asmara – isteri Andjar, pemeran utama film tersebut, tampil kemudian sebagai wanita sutradara film pertama di Indonesia, dengan menggarap film “Sedap Malam” (1950). Selepas sukses besar Usmar Ismail, sutradara berlatar wartawan bermunculan. Mereka terpacu untuk berekspresi dalam media perfilman nasional. Sukses Rd Arifien mantan wartawan Majalah “Varia”, menyatu dengan film “Apa Jang Kunanti?” (1957). Film bertema anak-anak itu, yang memicu lahirnya film “Kunang-Kunang” (alm. Wim Umboh), dan “Bintang Peladjar” (Basuki Effendi). [caption id="attachment_23920" align="aligncenter" width="367"] Potret kenangan Meriam Bellina dan Yoyo Dasriyo, di depan rumah sang artis di Bandung (1981). Saat itu, Meriam tampil perdana di film “Perawan-Perawan” karya Ida Farida, yang semula berprofesi sebagai wartawati.(Foto: alm, Denny Sabri)[/caption]     Tahun 1960, Rd Arifien menggarap pula film “Pendjual Koran”. Reputasi insan wartawan melatari juga (alm) H Misbach Yusa Biran, sang Sutradara Terbaik atas film “Di Balik Tjahaja Gemerlapan” (1967), yang sukses menjayakan (alm) Soekarno M Noer untuk “Aktor Terbaik”. Lahir kemudian nama (alm) Has Manan, Arizal, (alm) Franky Rorimpandey, Ismail Soebardjo, Bazar Kadarjono, (alm) Motinggo Boesje serta Ida Farida, mantan wartawati. Kehadiran film karya mereka, tak kering dari pujian. Bahkan Ismail Soebardjo membuat kejutan di Festival Film Indonesia (FFI) 1977 Jakarta, saat dewan juri festival memvonis tidak ada film terbaik! Film pertama karya Ismail Soebardjo bertajuk “Remaja 76”, justru berbuah gelar “Sutradara Harapan Terbaik”. Terbukti, predikat harapan terbaik itu bukan sekadar penghibur “luka hati” para insan film nasional, atas vonis menyakitkan dari dewan juri FFI. Berselang lima tahun, Ismail Soebardjo melesat dengan film “Perempuan Dalam Pasungan”, yang dihargai sebagai “Film Terbaik” dan merebut gelar “Sutradara Terbaik” FFI 1981 Surabaya. Reputasi cemerlang itu, merupakan susulan dari sukses (alm) Franky Rorimpandey, mantan wartawan SKM “Purnama”, yang bergelar Sutradara Terbaik dan melahirkan “Film Terbaik” FFI 1980 Semarang dengan film “Perawan Desa”. Duakali FFI berturut-turut, dua mantan wartawan merebut Piala Citra - sebagai lambang supremasi tertinggi perfilman nasional. Itu sejarah kebanggaan insan pers Indonesia! Tentu saja, karena mengemas sebuah film hingga berpredikat terbaik, bukan pekerjaan gampang. Walau tiada lagi karya Franky secantik “Perawan Desa”, atau karya Ismail sekuat “Perempuan Dalam Pasungan”, namun karya film mereka senantiasa dibicarakan. (Bersambung)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA