Perceraian Pasangan Muda Picu Perkembangan Trafficking

Tingginya angka perceraian di beberapa kabupaten kota di Jabar memicu perkembangan trafficking (perdagangan manusia). Sebab, istri yang diceraikan bisa melakukan apa saja demi menghidupi anaknya meskipun tanpa keahlian. Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pem

Perceraian Pasangan Muda Picu Perkembangan Trafficking

Oleh: Solihin BANDUNG,FOKUSJabar.com: Tingginya angka perceraian di beberapa kabupaten/kota di Jabar memicu perkembangan trafficking (perdagangan manusia). Sebab, istri yang diceraikan bisa melakukan apa saja demi menghidupi anaknya meskipun tanpa keahlian. Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP24) Jawa Barat Netty Prasetyanimenuturkan, para isteri yang bercerai akan mudah terjebak menjadi korban trafficking. Terlebih perceraian berkolerasi terhadap trafficking, sebab jika struktur keluarga terpecah maka istri mempunyai tanggung jawab terhadap anaknya. Menurutnya, rumah tangga rentan mengalami perceraian, terlebih pasangan yang menikah di bawah umur. Seusai perceraian, biasanya istri memiliki tanggung jawab untuk menghidupi rumah tangganya. "Kebanyakan perempuan yang menikah muda itu lulusan SMP. Itu sebabnya jenis pekerjaan yang dilakukan adalah sektor informal. Nah, ini yang membuat mereka pragmatis untuk menerima pekerjaan apa saja untuk bisa membiayai anaknya," jelas Netty di Gedung Sate Bandung, Rabu (27/8/2014). Biasanya, lanjut dia, mereka menjadi pelayan, pemandu lagu, pelayan restoran, termasuk pembantu rumah tangga. Menurut Netty, pelaku trafficking biasanya memanfaatkan kondisi tersebut dengan iming-iming gaji besar.Alhasil, banyak yang terjerat trafficking karena usianya relatif muda dan pendidikannya rendah. Saat ini Indramayu menempati tingkatan tertinggi di Jabar. Terlebih, banyak orangtua mendorong anak menikah dini. Sering kali orang tua menggap anak sebagai beban masalah. Sehingga, secara tidak langsung anaknya di dorong untuk menikah dini. "Anak yang menikah dini pasti tak akan memiliki kedewasaan dalam menyelesaikan masalah," katanya. Lebih lanjut Netty berharap, Kemenag dan BKKBN mampu berkoordinasi, salah satunya dengan mengoptimalkan penyuluh agama agar bisa memberikan penyuluhan terkait pernikahan dengan baik pada masyarakat. Dengan begitu, masyarakat bisa memiliki pengetahuan tentang pernikahan yang bukan sekedar mengendalikan nafsu.(**)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA