Nike Ardilla Berbayang Bukit Ardilayang (Bagian II-Habis)

Oleh Yoyo Dasriyo Sejak jasad Nike menyatu dengan bumi Desa Imbanagara, lokasi makam itu turut mendongkrak arus wisatawan ke Ciamis. Tetapi sedikit orang tahu, jika keindahan bangunan pusara Nike Ardilla bukan karena makam artis kenamaan. Justru, itu wu

Nike Ardilla Berbayang Bukit Ardilayang (Bagian II-Habis)

Oleh: Yoyo Dasriyo Sejak jasad Nike menyatu dengan bumi Desa Imbanagara, lokasi makam itu turut mendongkrak arus wisatawan ke Ciamis. Tetapi sedikit orang tahu, jika keindahan bangunan pusara Nike Ardilla bukan karena makam artis kenamaan. Justru, itu wujud angan almarhumah, sepulang ziarah ke makam Bung Karno bersama Dessy Ratnasari saat promosi film “Olga Juara Sepatu Roda” di Blitar. “Si ‘Eneng’ pernah bilang, ‘Mih upami engke Eneng maot, makamna teh hoyong sapertos makam Bung Karno. Heug seueur nu sarumping. Duh, Eneng mah resep. Sae nya, ‘Mih!” tutur Ny Ningsihrat Kusnadi - ibunda Nike, menirukan lagi permintaan almarhumah. Kalimat berbahasa Sunda itu, bermakna permohonan “Eneng” (alm Nike Ardilla) bahwa jika nanti tutup usia, makamnya ingin dibuat seperti makam (alm) Bung Karno. Banyak otang berdatangan, yang membuatnya bahagia. Makam Nike pun lalu dibangun artistik, memiripi makam Bung Karno. Tiang-tiangnya yang kokoh, berhias ukiran dari Jepara. Tak jauh dari makam, Mushola Nurul Ardillah dibangun, dekat monumen berpatung Nike. Monumen berukuran setengah badan yang berbahan batu onnyx itu, diresmikan 21 April 1996, sebagai tanda kecintaan Lia Nathalia, gadis berdarah Manado pemuja berat Nike. Dekat lahan makam yang dirindangi pepohonan, pernah tersedia kafe, fasilitas permainan anak, saung peristirahatan dan jejeran kios cinderamata. Hampir semua barang kerajinan yang dijualnya, berhias foto almarhumah. Semasa hidup (alm) RE Kusnadi, di lokasi itu pernah dirancang untuk bangunan penginapan. [caption id="attachment_32785" align="aligncenter" width="460"] Yoyo Dasriyo di depan pusara artis kondang (alm) Nike Ardilla, hari kedua setelah pemakamannya di Desa Imbanagara, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis (1995). Makam sang bintang belia berparas jelita itu, sudah lama dibangun memiripi bentuk makam (alm) Bung Karno di Blitar.(Dokumentasi Yodaz )[/caption]   Jauh sebelum nama Nike Ardilla dikenal, almarhumah merintis karier di pentas musik slow rock dengan nama Nike Astrina (1987). Nama itu pemberian (alm) Denny Sabri pengorbitnya, saat bersibuk mempromosikan kehadiran Nicky Astria. Karenanya, nama Nike Astrina mendekati Nicky Astria! Nama Nicky Astria pun temuan Denny Sabri dari nama R Nicky Nastiti Karya Dewi, karena proses kariernya terjadi di musim promosi motor Honda bermerk Astrea. Namun belakangan, itu berbeda dengan penuturan Nicky Astria... Muncul kemudian artis seangkatan Nike, bernama Nia Astarina. Itupun nama temuan Denny yang menangani karier Nia sebagai penyanyi pop, setelah diperkenalkan Nicky Astria. Jelang peluncuran album rekaman pertama Nike di putaran tahun 1989, (alm) RE Kusnadi dan Deddy Dores sepakat memilih nama Nike Ardilla! Nama yang lebih bagus dan komersial. Siapa sangka, kalau Ardilla yang melebur Astrina, menyimpan historis kampung leluhur almarhumah? “Ardilla itu saya petik dari nama bukit Ardilayang, yang melatari kawasan Desa Imbanagara di Ciamis! Itu untuk kenangan ke kampung halaman Eneng” ungkap RE Kusnadi sebelum berpulang. Terbukti Nike Ardilla, nama pengantar sukses gemilang sang bintang, atas perjuangan panjang setelah merintis karier penyanyi slow rock bersama Cut Irna, Lady Avisha, Evy Sopha dan Rossa. Nama kenangan dengan bukit Ardilayang itu, lalu abadi hingga akhir hidup sang “Mega Bintang”. Makam Nike Ardilla pula senantiasa bersaksi tentang terbangunnya citra Imbanagara. Perkampungan yang semula sunyi, kini melegenda dalam sejarah keartisan Indonesia. Imbanagara, lokasi dari batas akhir perjalanan Nike Ardilla. Sang mega bintang yang pernah membintang, di atas gemintang keartisan negeri ini. ( **)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA