Memahami fenomena keberagamaan bernama Hijrah

Komunitas hijrah semakin berkembang karena didukung kebebasan berekspresi dan internet di Indonesia

Memahami fenomena keberagamaan bernama Hijrah

BANDUNG

Maghrib belum lagi menjelang, tapi Masjid Al-Lathief di Jalan Saninten, Cihapit, Kota Bandung, Jawa Barat sudah ramai dikunjungi jamaah.

Sebagian dari para jamaah, yang rata-rata berusia 20 hingga 30an tahun, sudah berada di masjid itu sejak azan Ashar berkumandang.

Semakin malam, semakin ramai, muda-mudi terus berdatangan. Jalan di depan dan sekitar masjid dipenuhi kendaraan jamaah. Di dalam masjid juga penuh, baik di bagian laki-laki maupun perempuan.

Selepas Isya, di masjid ini akan ada kajian keagamaan yang dinamai shift weekend, tiap Sabtu malam. Saat itu, penceramahnya adalah Imam Nuryanto, ustaz muda asal Bandung.

Shift adalah komunitas anak-anak muda di Bandung yang aktif berdakwah. Salah satu pendirinya adalah Hanan Attaki, dai lulusan Mesir asal Aceh. Anadolu Agency menyaksikan komunitas ini Januari lalu dan tetap populer hingga kini.

Pada kajian malam minggu itu, Imam Nuryanto berceramah tentang “bocoran surga”, yaitu perkara-perkara yang bisa membuat manusia selamat di dunia dan masuk surga.

Kata Imam dalam ceramahnya, manusia harus berhati-hati dengan salat dan zakatnya. Kemudian bisa menjaga amanah kemudian bisa menjaga nafsu dari perut, menjaga mulut dan kemaluannya.

“Kalau enam perkara ini dipelihara. Maka Allah akan menjamin dia masuk surga. Karena ada banyak manusia yang celaka karena enam perkara ini.”

Imam menyampaikan ceramahnya dengan santai, sering tersenyum, diselingi guyonan. Dia juga tidak berpakaian seperti penceramah lain yang biasanya mengenakan gamis panjang dan sorban, serba kaku. Dia tampak santai dengan baju berkerah gaya Shanghai, dilapisi jaket kulit.

Penampilan Imam tak beda dengan jamaahnya yang datang dengan bercelana berbahan denim, berkaos oblong ditambah jaket bomber.

Pemuda-pemudi ini tampak khusyuk menyimak ceramah Imam, sesekali tertawa lepas saat sang ustaz melontarkan guyonan dalam bahasa Indonesia bercampur Sunda.

Sejak didirikan pada 2015, komunitas Shift atau Pemuda Hijrah ini menyasar kaum muda sebagai ladang dakwah.

Mereka ingin menjadikan anak-anak muda ini dekat dengan Al-Quran, salat tepat waktu, giat mencari ilmu agama dan menebarkan syiar Islam di dalam aktifitasnya.

Karena itu para pegiat Shift ini ikut nongkrong bersama dengan komunitas motor, skateboarder, BMX atau skuter di sekitar Kota Bandung.

Jika berkunjung ke Masjid Al-Lathief, markas Pemuda Hijrah ini, mudah dijumpai anak-anak muda bermain skateboard, beratraksi dengan sepeda BMX atau seniman gondrong bertato.

Namun saat azan berkumandang mereka bergegas mengambil air wudu dan menunaikan salat wajib.

Ceramah-ceramah di Masjid Al-Lathief juga disebarkan di sosial media untuk menjangkau khalayak yang lebih luas.

Video yang diunggah Shift di platform youtube selalu ramai menarik minat para pengunjung yang sedang mendalami ilmu agama melalui internet.

Di platform youtube, ada beberapa channel yang berhubungan dengan Shift. Pertama Shift media sudah mempunyai 317 ribu subscriber dan 14 juta views.

Kemudian Hanan Attaki dengan 560 ribu subscriber dan sudah dilihat oleh 12 juta orang. Channel lain masih banyak, namun tidak diketahui channel resmi atau bukan.

Kelompok Shift adalah salah satu bagian dari fenomena hijrah yang belakangan marak di Indonesia. Dalam konteks ini, “hijrah” berarti meninggalkan perilaku di masa lalu yang tidak sesuai dengan tuntutan syariah dan menggantinya dengan kehidupan baru yang dipandang lebih islami, baik dalam perilaku, perkataan, hobi, gaya hidup, termasuk mengubah busana.

Tidak hanya Shift di Bandung, kota-kota besar lain juga dilanda demam hijrah. Masuknya beberapa publik figur ke dalam barisan ini membuat kelompok hijrah ini semakin menguat.

Teuku Wisnu, pemain sinetron, termasuk salah satu pesohor yang memulai gerakan masuk dalam arus besar hijrah.

Keputusan hijrah dia diambil saat mengalami kegalauan dalam hidupnya sebagai artis. Saat itu, kehidupannya sebagai pekerja seni yang sedang laris serba kecukupan, bisa menghasilkan uang lebih dari cukup.

Tapi ternyata, kehidupan seperti itu tidak membuatnya bahagia. “Nah, tapi ketika sudah mendapatkannya, kok merasa biasa saja, nggak bahagia, dan merasa hampa,” jelas Wisnu kepada Anadolu Agency, beberapa waktu lalu.

Sejak itu, pria berumur 34 tahun ini mulai terpikir untuk kembali ke jalan agama sebagai jalan keluar mengatasi kehampaan hidupnya. Wisnu mulai aktif mengikuti kajian-kajian keagamaan.

Wisnu juga terlihat memanjangkan janggut dan menggunakan gamis panjang dalam kegiatan sehari-hari.

Secara reguler, Wisnu aktif di “Komunitas Musyawarah” atau “Muda Sakinah Mawadah Warohmah”, sebuah komunitas para artis yang berhijrah untuk belajar bersama dan saling menguatkan.

“Kita saling sharing satu sama lain dengan guru-guru kita,” kata dia.

Di komunitas ini Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdus Somad, Ustadz Khalid, Basalamah, Ustadz Hanan Attaki sering mengisi pengajian.

Wisnu kini juga aktif menjalankan bisnis makanan, herbal, juga busana Muslim yang dianggap lebih mendekatkan diri pada sang pencipta.

Namun ternyata proses yang dialami Wisnu ke dalam komunitas hijrah ini tidak gampang. Dia mengatakan sering mendapatkan cemoohan dari orang lain saat ingin berubah menjadi lebih baik.

Wisnu mengaku hijrah membuatnya semakin belajar untuk menjaga sopan santun kepada orang lain. Hijrah menurutnya tidak boleh membuat seseorang mempunyai lisan tajam atau bersikap kasar kepada yang lainnya.

“Hati harus dijaga banget jangan sampai kita jadi orang yang sombong,” ujar suami artis Shireen Sungkar ini.

Dia juga membantu komunitas dakwah anak muda bernama “Ngobrol Yuk" dan komunitas "Motoran Yuk” untuk para penggemar sepeda motor.

Catatan Anadolu, kelompok hijrah juga ingin membangun perekonomian berbasis komunitas. Antara lain dilakukan dengan melakukan transaksi perdagangan antar kelompok mereka, seperti melakukan perdagangan obat-obatan herbal, yang dipercaya halal dan islami.

Atau membangun komplek perumahan dengan konsep Islami yang ditawarkan secara terbatas. Perumahan itu dipasarkan tanpa melalui kredit perbankan.   

Maklum, salah satu ciri kelompok hijrah adalah menghindari pinjaman dan sistem keuangan konvensional karena ingin menghindari riba. Mereka tidak segan untuk beralih dari pekerjaan dan memilih membangun usaha kecil dari nol daripada harus berbisnis riba. 

Fenomena lama

Fenomena hijrah yang muncul belakangan ini menurut sosiolog dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Hariyadi mempunyai akar sejarah yang panjang.

“Hijrah” menurut Hariyadi sudah diramalkan akan terjadi oleh sosiolog Amerika Serikat, Peter Berger pada dekade 70-an dengan gejala saat itu yang dia sebut “de-sekularisasi.

Saat itu, Berger melihat masyarakat mulai mengembalikan ciri-ciri keagamaan ke ranah publik. Saat itu terjadi fenomena banyaknya anak-anak muda di Amerika berbondong-bondong aktif di gereja dan giat mempelajari agama Kristen.

Fenomena ini terjadi setelah Amerika dilanda gelombang sekularisasi, yang secara umum dimaknai sebagai proses meminggirkan kehidupan beragama dari ranah publik ke ranah privat.

Sekularisasi sering dianggap sebagai satu ciri modernisasi yang sudah melanda dunia berabad-abad lampau.

Pada sisi lain, pada waktu yang relatif bersamaan, terjadi gelombang pertama “kebangkitan Islam”. Saat itu Islam muncul sebagai konsep ideologi politik yang menjadi alternatif dari “barat” yang ditandai dengan munculnya Revolusi Iran.

Kebangkitan ini kemudian disusul dengan gelombang kedua yang sedikit berbeda. Jika sebelumnya kebangkitan Islam kental dengan nuansa politik ideologi, maka kali ini bangkit pada ranah non-politik dengan spektrum lebih luas, kata Hariyadi.

Islamisasi muncul mulai dari sektor ekonomi seperti munculnya lembaga-lembaga keuangan berbasis syariah, Kemudian gaya hidup muslim, dunia pendidikan, hingga teknologi informasi seperti aplikasi bernuansa Islam.

Karakteristik “gelombang kedua kebangkitan Islam” ini mulai meninggalkan ambisi politik mendirikan negara Islam, dan menggantinya dengan hasrat untuk menerapkan ajaran Islam tanpa harus menerapkan hukumnya secara resmi.

“Gelombang hijrah Indonesia tidak bisa lepas dari konteks sejarah sosial yang panjang tersebut. Gerakan ini lebih pantas dimasukkan dalam kategori gelombang kedua daripada gelombang pertama, namun ada nuansa baru pada gerakan hijrah,” ujar dia.

Nuansa baru itu menurut Hariyadi adalah masifikasi hijrah, yaitu meluasnya pengaruh gerakan ini dan menghimpun banyak pengikut di tengah masyarakat.

Masifikasi ini terjadi dengan melibatkan pesohor yang menyatakan diri berpindah dari gaya hidup sekuler ke religius lewat media sosial atau reality show. Para pesohor inilah yang meluaskan pengaruh hijrah hingga menjangkau segmen lebih luas.

Menurut Hariyadi, hijrah juga menjadi saluran alternatif, karena ormas-ormas keagamaan yang ada dianggap terlalu dekat dengan politik. Padahal, pelaku hijrah yang sebagian besar anak muda cenderung “anti politik” mereka merasa kecewa karena lembaga-lembaga politik yang ada dianggap tidak bisa membawa perubahan berarti.

Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Mohammad Najib Azca mengatakan media sosial menjadi wahana penting bagi penyebaran gagasan hijrah ini, terutama pada kaum muda.

Tindakan yang dilakukan oleh sejumlah pesohor bisa punya resonansi besar, jika ada pesohor dengan follower banyak, serta merta apa yang dilakukannya bisa mempunyai resonansi yang lebih besar.

Di tengah zaman yang serba digital ini, anak muda yang sedang mencari identitas sering menemukan panutannya di media sosial.

“Kalau dulu orang yang berpengaruh besar dalam soal keagamaan itu kiai, sekarang itu mulai diambil alih oleh media sosial,” ujar dia.

“Jadi, ustaz yang terkenal di media sosial itulah yang menjadi panutan anak-anak muda,” tambah dia.

Problem kedalaman

Namun, pada fenomena media sosial seperti ini ada hal yang harus diwaspadai, yakni masalah kedalaman beragama, kata Najib.

Jika penyebaran hijrah lebih banyak lewat media sosial, akan ada proses simplifikasi kajian beragama.

Ada hal-hal yang tidak bisa diberikan oleh media sosial dalam menyampaikan kajian keagamaan, yaitu kedalaman. Akibatnya kedangkalan pemahaman agama terhadap suatu persoalan dapat berpotensi meluas dengan cepat dan massif.

Tidak ada lagi proses pembelajaran panjang, proses dialog, dan bertahap sesuai tingkatan pemahaman keagamaan seperti yang dilakoni santri-santri zaman dahulu untuk mencapai kadar keimanan tertentu.

“Dunia digital ini melahirkan budaya cepat dan instan. Sehingga formula yang lebih sederhana dan dangkal lebih mudah dicerna dan langsung diterima,” ujar dia.

Pada dasarnya, kata Najib gerakan hijrah menawarkan suatu jalan untuk melakukan transformasi diri, dari posisi satu ke posisi lain. Namun kata dia, perpindahan ini sering kali lebih menonjolkan dimensi simbolik, seperti perubahan gaya berpakaian dan atribut lain.

“Misalnya dari yang tadinya tidak berjilbab menjadi berjilbab. Yang sudah berjilbab, jilbabnya tambah panjang dan tidak memakai yang berwarna-warni,” ujar dia.

Hasilnya, pelaku hijrah mengalami “new born” atau lahir menjadi muslim yang baru dengan militansi tinggi diiringi proses instan dan pengetahuan yang dangkal.

Kata Najib, pelaku hijrah ini perlu menjalani fase pendalaman mengikuti jejak para santri memahami ilmu agama. Dalam arti, ada tingkatan, tahap, dan dialog. Apalagi jika hanya melalui internet, seperti di youtube, facebook, dan instagram.

Menurut Najib, NU dan Muhammadiyah sebagai ormas keagamaan yang sudah berdiri lama tidak begitu populer oleh para pelaku hijrah, karena perbedaan karakteristik dakwah.

Sejumlah kyai NU menggunakan komunikasi cara lama dan tidak mampu membungkus ulang ajaran-ajarannya dalam pola yang lebih sederhana, sesuai dengan karakteristik media sosial atau ceramah yang lebih pendek.

Bagaimana pemerintah memandang kelompok hijrah? Pandangan pemerintah, setidaknya, tergambar dari pendapat Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Jaleswari Pramodhawardani.

Dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu, Jaleswari mengatakan selalu ada pertarungan gagasan antara kelompok pro dan kontra dalam memahami fenomena keberagamaan yang mengisi ruang publik, termasuk fenomena hijrah ini.

"Yang perlu dilakukan adalah bagaimana memberikan pemahaman yang lebih baik dan mendorong mereka untuk tidak bersikap diskriminatif, judgemental, berprasangka dan seterusnya terhadap kelompok lain yang tidak beragama secara ekspresif," ujar dia dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Jaleswari berharap, masyarakat memaknai hijrah sebagai suatu gerakan kolektif kebangsaan. Selain membenahi diri secara internal, masyarakat juga harus menjadikan hijrah sebagai semangat untuk turut berkontribusi memajukan negara.

"Selama outcome hijrah itu menuju arah penggalangan semangat kolaboratif dan kolektif untuk membuat bangsa ini lebih baik, maka hijrah seperti itulah yang harus diprovokasikan ke seluruh lapisan elemen anak bangsa," ujar dia.

Masih moderat

Erick Yusuf salah seorang ustadz yang sering membimbing artis berhijrah, menepis isu kelompok ini mudah disusupi paham keagamaan yang intoleran dan mengancam persatuan bangsa.

Menurut Erick, tuduhan ini cenderung politis karena ada anggapan pelaku hijrah ini memiliki afiliasi politik yang berbeda dengan pemerintah.

Erick, yang juga pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Seni dan Budaya, memastikan para artis dan pelaku hijrah murni belajar agama dengan pemahaman yang moderat.

“Jadi kalau digoreng kepada isu radikalisme, itu tidak relevan,” kata Erick.

Pimpinan dakwah kreatif iHAQi ini mengatakan karakteristik muslim Indonesia berpaham Ahlussunnah wal jamaah.

Mereka, kata Erick, tidak mudah mengkafirkan dan menyalahkan orang lain.

“Muslim Indonesia itu ummatan wasathan (umat pertengahan) yang tidak terlalu ke kanan, dan tidak terlalu ke kiri,” kata dia.

Namun demikian, dia mengaku ada sejumlah orang yang terlalu berlebihan setelah belajar agama.

Mereka kata Erick mudah menyalahkan pemahaman agama orang lain karena terlalu instan belajar agama.

Namun, Erick memastikan jumlah pelaku hijrah yang seperti itu sedikit.

“Mayoritas aman-aman saja pemikirannya,” kata dia.

Erick mengatakan tren hijrah kini semakin semarak karena wadah yang menaungi banyak muncul di masyarakat.

Dahulu, kata Erick, orang yang hijrah cenderung menutup diri karena tidak banyak pihak yang mendukung. Namun kini, kalangan pelaku hijrah sudah berani terbuka karena banyak komunitas yang mewadahi.

Bahkan para artis yang berhijrah kini tetap melakukan aktivitas pekerjaannya karena industri juga mendukung.

“Walaupun berhijrah, mereka tetap bisa fashionable,” kata Erick.

Begitulah fenomena hijrah yang sedang marak di Indonesia, dilihat dari banyak sisi. Kelompok ini dapat membesar, mengisi ruang-ruang publik karena didukung oleh kebebasan berekspresi dan kuatnya pengaruh media sosial di Indonesia.


TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA