Keabadian Musim Bunga Dalam Pop Indonesia (Bagian II-Habis)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) nbsp Tetapi kalau dicermati, banyak penyanyi menembang bunga anggrek, atau merekam ulang. Anggrek pun mengembang di pentas musik pop, sejak Bunga Anggrek diadopsi Alfian dari

Keabadian Musim Bunga Dalam Pop Indonesia (Bagian II-Habis)

Oleh: Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut)   Tetapi kalau dicermati, banyak penyanyi menembang bunga anggrek, atau merekam ulang. Anggrek pun mengembang di pentas musik pop, sejak “Bunga Anggrek” diadopsi Alfian dari langgam keroncong iringan band D’Strangers. Tembang klasik “Bunga Anggrek”, lalu dikemas bersahutan dengan Tetty Kadi. Muncul kemudian pendendang “Anggrek Bulan” karya A Riyanto, mulai dari duet Emilia Contessa dan Boery Marantika, Muchsin – Titiek Sandhora, hingga ditembangkan Tetty Kadi. Bimbo dan Yanti Bersaudara pun berlagu “Anggrek Merah”, yang melukiskan batas cinta seorang dara. Suatu waktu sang bunga bakal layu ditelan waktu, dan merahnya pun memudar. Sebaliknya “Anggrek Merah” karya Bustami Tayeb/Lanny GR (1977) dilukiskan ibarat anggrek berwarna darah, yang jadi hiasan lelaki jantan. Lagu unggulan album perdana Dian Sonatha itu tak berdaya melambungkan penyanyinya, karena kelemahan promosi dan lirik lagu yang tak mudah dicerna. Bahkan, tembang kakak kandung Betharia Sonatha itu menuai kasus pembajakan hak cipta syairnya, yang diakui karya N Riantiarno untuk pementasan teater. Karier Dian Sonatha pun meredup. Justru, Betharia Sonatha yang melesat dengan lagu “Kau Tercipta Untukku” (1980) karya Rinto Harahap. Berselang 5 tahun, muncul “Anggrek Putih” (Otties Leleuya), unggulan album perdana Hana Marlina iringan musik Buche Pattie. Lagi-lagi kelemahan promosi menindih “Anggrek Putih”. Lagu komersial itu layu sebelum berkembang. Penyanyi asal Garut itu pun lalu bermain film “Bendi Keramat” (1988). [caption id="attachment_18903" align="aligncenter" width="460"] Hana Marlina dan Yoyo Dasriyo, saat rekaman album “Anggrek Putih” di studio “Gelora Seni” Jakarta (1985). Penyanyi pop asal Garut itu lama menghilang dari percaturan, selepas bermain film “Bendi Keramat” (1988) dan sinetron “Impian Pengantin” (1993/1994). (Foto: Otties Leleuya)[/caption]   Meski pamor Hana Marlina pernah tergosok dengan lagu “Som-Se” (Doel Sumbang), dan berlakon sinetron “Impian Pengantin” (1993/1994), tetapi artis ini kemudian hilang dari percaturan. Selain anggrek, pemujaan bunga melati bukan hanya Diana Nasution, tercatat juga (alm) Lilies Suryani (“Bunga Melati”), dan Eddy Silitonga (“Oh Melati”). Musim berbunga pun mempopulerkan nama bunga yang kurang dikenal, seperti sedap malam dan bougenvile. Dalam dua lagu berlainan, Bimbo dan Iis Sugianto berlagu “Bunga Sedap Malam”. Lagu “Bougenville” lahir sebagai karya dan tembang Is Haryanto. Akan tetapi meski tidak banyak dipuja orang, lagu “Bunga Lily” sukses meniup pamor duet Andry & Leon iringan Orkes Pelangi, ketika Koes Bersaudara berjaya di pentas musik era 1960-an. Bahkan musim bunga dalam lagu pop, tak selalu pemujaan nama bunga tertentu, termasuk “Hilang Tak Berkesan” karya Djuhari. Rangkuman syair puitis.dalam tembang Broery Marantika itu bertutur luka hati atas kepergian seseorang, ibarat gugurnya sekuntum bunga di taman. Tanpa nama bunga, Tutty Subardjo pun berlagu “Sekuntum Bunga”, Uci Bing Slamet (”Bukit Berbunga”), Koes Plus (“Bunga di Tepi Jalan”), hingga Bebby Romeo dengan “Bunga Terakhir”. Namun, belum berarti musim bunga selesai sampai di situ. Bunga seolah tak pernah layu, dalam kreasi lagu tentang pemujaan. (**)  

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA