Halah! Revitalisasi Pasar Jadi Mainan Cagub Jabar Tarik Simpati

Oleh Solihin BANDUNG,FOKUSJABAR.COM Sejumlah pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, semakin sibuk menarik simpati masyarakat. Salah satunya dengan memainkan isu revitalisasi pasar tradisional. Dimana para kandidat memanfaatkan kesenjan

Halah! Revitalisasi Pasar Jadi Mainan Cagub Jabar Tarik Simpati

Oleh:Solihin BANDUNG,FOKUSJABAR.COM: Sejumlah pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, semakin sibuk menarik simpati masyarakat. Salah satunya dengan 'memainkan' isu revitalisasi pasar tradisional. Dimana para kandidat memanfaatkan kesenjangan antara pasar modern dengan tradisional sebagai ajang merebut suara dari kalangan pedagang pasar tradisional yang ditaksir jutaan pemilih.   Sebut saja Cagub dari Partai Golkar, Irianto MS Syafiuddin (Yance), yang menilai kesenjangan pasar modern dengan tradisional harus secepatnya dihapuskan, misalnya dengan revitalisasi. "Persaingan antara pasar modern dengan tradisional sudah sangat timpang, mestinya kesenjangan itu harus dihapuskan," kata Yance di pasar Kordon, Rabu (26/12). Pengembangan pasar tradisional penting guna menumbuhkan bisnis para pelaku Usaha Kecil dan Mikro (UKM). Untuk dana revitalisasi pasar ditaksir Yance hanya Rp15 miliar per pasar. Begitupun dengan Cagub dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Rieke Diah Pitaloka yang menilai persaingan modern dengan pasar tradisional bisa dikendalikan melalui penerapan peraturan pemerintah terkait jarak. Namun sayang, penerapan dari peraturan tersebut masih belum nyata karena toko modern masih berdekatan dengan pasar tradisional. "Pasar tradisional di Cipanas sudah direvitalisasi tapi tetep sepi karena jarak antara pasar modern dan tradisional terlalu dekat. Pelanggan pasar tradisional lari kesana jadinya," kata Rieke di RM Bancakan, Jalan Trunojoyo Bandung, Rabu (26/12). Selain persoalan jarak, revitalisasi pasar tradisional juga perlu bersinergi dengan industri pengolahan sampah. Terlebih di pasar tradisional kerap menjadi persoalan karena menumpuknya sampah dan bau yang menganggu pengunjung. Rieke mencontohkan, pengelola pasar induk Cibitung yang telah menerapkan sistem pengolahan sampah. Alhasil sampah olahan tersebut bisa menghasilkan cairan bahan bakar dengan harga jual Rp60.000 per botol. "Pemerintah bisa membangun tempat pengolahan sampah itu melalui dana APBD dan APBN," pungkasnya. Sementara itu, Pengamat Politik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Asep Warlan menilai pemilih dari kalangan pedagang pasar tradisional cukup 'seksi' untuk mendongkrak suara di Pilgub Jabar. Terlebih dengan jumlah pasar tradisional yang mencapai 690 dengan jumlah pedagang ditaksir mencapai ratusan juta orang. "Suara di pasar tradisional cukup strategis. Makanya banyak Cagub mengangkat isu revitalisasi pasar tradisional," jelas Asep. (NOER)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA