Film Nasional Berwajah Jawa Barat Memudar (1)

Bukan hanya dari penceritaan. Kemasyhuran lagu pop Sunda pun, pernah ditambang ke dalam kemasan film nasional. Dalam fenomena sukses lagu Panon Hideung yang menasional, sutradara kampiun (alm) Nawi Ismail menggarap film Panon Hideung (1961).

Film Nasional Berwajah Jawa Barat Memudar (1)

Oleh: Yoyo Dasriyo FOKUSJabar.com: Bukan hanya dari penceritaan. Kemasyhuran lagu pop Sunda pun, pernah ditambang ke dalam kemasan film nasional. Dalam fenomena sukses lagu “Panon Hideung” yang menasional, sutradara kampiun (alm) Nawi Ismail menggarap film “Panon Hideung” (1961). Lagu karya (alm) Ismail Marzuki yang konon diadopsi dari lagu “Ochi Chornya” (Rusia) itu, membintangkan pelawak (alm) Us-Us, Anna Susanti, (alm) Eddy Soed dan Noortje Sopandi. [caption id="attachment_85838" align="aligncenter" width="450"] Sebuah adegan (alm) Rachmat Kartolo dan Nani Widjaya, dalam film drama musikal “Di Balik Tjahaja Gemerlapan” karya (alm) H Misbach Yusa Biran (1967). Sukses film ini, terdukung dengan penampilan seabreg penyanyi tenar.(Foto Koleksi Yoyo Dasriyo)[/caption] Sukses yang menyambut pasar film “Panon Hideung”, merupakan susulan dari film penjual kepopuleran lagu “Ayam Den Lapeh”. Sebuah lagu pop Minang karya A Hamid, yang meniup reputasi Nurseha dan Elly Kasim. Sutradara Gatot Iskandar mengemas film “Ayam Den Lapeh” (1960), yang dibintangi aktor (alm) Bambang Irawan dan (alm) Farida Aryani. Pasangan bintang pop, yang saat itu tampil memikat dalam film “Pedjoang” karya (alm) H Usmar Ismail. Tentu saja, kepopuleran lagu dan kemasyhuran bintang, jadi formula komersial untuk pasar film seperti itu. Namun lebih dimaknai lagi, kelahiran film “Ayah Den Lapeh” dan “Panon Hideung”, sebagai bukti pengakuan dari kekuatan pasar lagu daerah. Kedua lagu ini dinilai menjanjikan sukses komersial dalam film nasional. Tanpa menjual kepopuleran judul lagu, siasat memenangi pasar film era 1960-an, banyak ditempuh pula dengan menampilkan penyanyi tenar berlagu hit-nya. Lejitan lagu pop Sunda “Pileuleuyan” (Mus K Wirya) iringan Orkes “Los Suita Rama”, mengantarkan (alm) Lilies Suryani berlagu itu di film “Di Ambang Fadjar” (1966) karya (alm) Pietradjaya Burnama. Di film itu pula, pop Jawa “Bir Temu Lawak” didendangkan Hardjomulyo, membarengi Tutty Soebardjo berlagu “Ku Kan Menunggu”. Penyanyi idola tampil berlagu kesayangan, jadi bagian daya pikat penonton film, di luar penceritaan dan akting pelakonnya. Kondisi seperti itu menciptakan perbincangan film nasional ibarat film India, yang berdaya pikat dengan tari dan lagu-lagunya. Film Indonesia pernah memanjakan pula tema drama musikal, seperti legenda sukses film “Tiga Dara” (1956) karya (alm) Usmar Ismail. Orang tergoda memburu gedung bioskop, saat terkabar (alm) Alfian berlagu “Senja di Kaimana” dan “Semalam di Cianjur” di film “Tjek AA 42658” (1964), atau waktu Ernie Djohan berlagu di film “Belaian Kasih”. Masa industri film nasional masih berpayung mega mendung, kepopuleran lagu dan penyanyinya banyak dipertaruhkan dalam perwajahan film. Biduan ganteng, (alm) Rachmat Kartolo laris membintang. Bahkan, lagu pengibar reputasinya seperti “Kunanti Jawabmu” dan “Tak Kan Lari Gunung Dikejar”, dijual jadi judul film. Lagu hit lain dari Rachmat Kartolo, termasuk “Patah Hati”, “Pusara Cinta”, “Sengsara, “Oh Dewi” hingga “Cinta Maria”, mewarnai dalam banyak filmnya. Fenomena sukses lagu “Bengawan Solo” maupun “Tirtonadi”, menghangatkan wajah film negeri ini. Muncul pula lagu “Minah Gadis Dusun”, yang mencuatkan Titiek Puspa jadi pemeran utama filmnya. Terlebih dalam film “Di Balik Tjahaja Gemerlapan” (1967) karya (alm) H Misbach Yusa Biran, memuat seabreg artis penyanyi kondang. Film drama musikal ini menjayakan H Misbach Yusa Biran sebagai “Sutradara Terbaik” dan (alm) Soekarno M Noor “Aktor Terbaik”, dalam “Pekan Apresiasi Film Indonesia” 1967. Parade artis penyanyi tenar pula, yang diramu sutradara (alm) Nya’ Abbas Akup untuk film “Dunia Belum Kiamat” (1969) dan “Ambisi” (1974). Formula bisnis film dengan kepopuleran lagu dan penyanyi memusim, terdukung lagi dengan keterbatasan tayangan paket hiburan musik di TVRI. Empat tahun pasca sukses kebangkitan pertama perfilman nasional dari lejitan fantastis “Bernapas Dalam Lumpur” (1970) karya (alm) Turino Djunaedi, lahir film “Butet” (1974). Judul film garapan SA Karim itu, dipetik dari kemasyhuran lagu berkultur Batak. (Bersambung)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA