Dangdut Hanya Bisa Datangkan Kurang dari 20 Persen Raihan Suara

Menjelang Pilgub Jabar 24 Februari mendatang, seluruh kandidat calon terus bergerilia mendatangi konsituen guna meraih suara. caption id attachment 23579 align aligncenter width 460 Prof. DR.H. Asep Warlan Yusuf, SH.,MH(Foto web) caption

Dangdut Hanya Bisa Datangkan Kurang dari 20 Persen Raihan Suara

Oleh: Solihin BANDUNG,FOKUSJabar.com: Menjelang Pilgub Jabar 24 Februari mendatang, seluruh kandidat calon terus 'bergerilia' mendatangi konsituen guna meraih suara. [caption id="attachment_23579" align="aligncenter" width="460"] Prof. DR.H. Asep Warlan Yusuf, SH.,MH(Foto: web)[/caption]   Berbagai cara meraih simpatik calon pemilih dilakukan calon dan tim pemenangan sejak 7 hingga 20 Februari mendatang. Mulai dari mengadakan kegiatan kampanye simpatik, arak-arakan hingga menggelar acara hiburan, seperti panggung musik dangdut, rebana dan sejumlah panggung hiburan lainnya guna pemikat masyarakat untuk mengenal calon pemimpinnya. Menanggapi cara kampanye dengan mengadakan pagelaran panggung hiburan, seperti dangdut, Pengamat Politik dari Unpar (Universitas Katolik Parahyangan) Asep Warlan Yusuf menilai bahwa cara tersebut bisa dilakukan di sejumlah daerah. Terlebih di daerah yang memang biasa dengan panggung hiburan, namun tidak untuk daerah lainnya. Bahkan Asep menilai bahwa panggung hiburan seperti itu, hanya akan menarik suara kurang dari 20 persen. “Kalau yang hadir dalam panggung hiburan itu 1000 orang, mungkin hanya 100 orang yang berpotensi memilih kandidatnya,” kata Asep melalui sambungan telepon, Kamis (14/2). Menurutnya, hiburan yang diadakan hanya akan menjadi sarana pemikat publik untuk hadir, melihat, mengenal dan mengingat calon yang dihadirkan dalam panggung hiburan itu. Selebihnya pengunjung hanya akan menikmati isi dari hiburan tersebut, apalagi yang diharikan adalah artis populer yang mereka kenal, seperti artis Ibukota dan lainnya. “Yang jelas hiburan seperti dangdut tidak ada menimbulkan referensi untuk meraih suara di Pilgub Jabar,” terangnya. Lebih lanjut Asep mengungkapkan, metode kampanye yang ‘ampuh’ adalah kampanye yang dilakukan tidak hanya sekali, seperti berkunjung, menyapa dan berdialog dengan konsituen berkali-kali. Dimana kandidat bisa mendatangi calon pemilih untuk memperkenalkan diri, untuk selanjutnya diulang dengan meyakinkan kembali untuk memilih dirinya. “Nah, menjelang akhir kampanye, kandidat bisa mengingatkan kembali. Misalnya dengan pesan singkat atau lainnya,” jelasnya. Untuk melakukan hal itu, diperlukan peran aktif dari tim pemenangan untuk terus mengingatkan calon pemilih dan meyakinkan mereka untuk menjatuhkan pilihannya kepada kandidat. “Saya pikir itu paling efektif. Cara ini pula yang dilakukan HADE di Pilgub 2008 silam,” pungkasnya.(**)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA