Berpacu Berita Aktual Dalam Budaya Interlokal (Bagian II-Habis)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) Kondisi seperti itu terjadi, karena fasilitas telepon umum belum tersedia di wartel, apalagi di pedesaan. Sedikit beruntung, kalau wartawan bisa numpang interlokal di rumah tetangga. A

Berpacu Berita Aktual Dalam Budaya Interlokal (Bagian II-Habis)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) Kondisi seperti itu terjadi, karena fasilitas telepon umum belum tersedia di wartel, apalagi di pedesaan. Sedikit beruntung, kalau wartawan bisa numpang interlokal di rumah tetangga. Atau, minta bantuan fasilitas telepon perkantoran. Pasalnya, belum semua rumah wartawan dilengkapi pesawat telepon. Saat itu, sarana telepon baru tergelar di rumah orang-orang tertentu. Karenanya, saat tetangga pemilik telepon rumah mendadak berwajah masam, wartawan harus mencari lagi wajah-wajah manis di lain tempat. Mereka mesti fasih membaca kelainan wajah dan sikap pemilik telepon rumah, yang dihantui pembengkakkan pembayaran pulsa telepon dari resiko kebaikan pada tugas wartawan. Siapapun wartawan yang tahu diri, tak mau keterusan membebani orang lain. Mereka tahu, budaya interlokal berita harus berhitung beban biaya, selama teks berita dibacakan. Lebih memberatkan lagi, karena naskah berita jadi tak cukup dibaca satukali selesai. Kecuali perlu dibaca berulangkali, juga harus bertempo lambat. Terkadang harus dieja untuk kejelasan nama orang, tempat atau istilah. Bahkan sering terjadi dialog keredaksian. Ini yang meninggikan lagi beban ongkos kirim berita! Namun sampai tamat riwayat budaya interlokal berita, pihak redaksi suratkabar dan pembaca tak pernah tahu. Bahwa, banyak berita hangat dalam penerbitan media cetak, yang naskah beritanya belum selesai dikemas. Walau penulisan beritanya baru dikerjakan sebagian, sang wartawan berani menginterlokal ke redaksi. Tak perduli naskah berita diselesaikan di luar kepala, sambil bicara melalui telepon. Berulang terjadi, berita dikirim dari teks yang masih berupa coretan tulisan tangan. Itu terpaksa, kalau sulit menemukan mesin tik di lapangan. Seketika menyambar selembar kertas kosong. Bergegas menata kerangka berita, berisi bagian pentingnya. Dalam ketergesaan, harus memburu antre interlokal di kantor Telkom. Wajar, jika pemuatan berita keesokan harinya, rawan salah cetak...! Tentu, karena teks berita yang didengar redaksi melalui telepon, bisa sedikit lain dengan yang dibaca wartawannya. Tak jarang terjadi gangguan teknis yang menjengkelkan! Keterbatasan fasilitas jastel berjenis interlokal itu, membuat media cetak salah penulisan nama pelaku berita, atau nama daerah yang kurang populer dan sulit dieja..... Umpamanya berita dari Garut ke Jakarta, nama Pameungpeuk, Bayongbong atau Leuwigoong, termuat jadi Pamempek, Bayombong dan Lewigong. Kecamatan Samarang saja sering termuat jadi Semarang...   [caption id="attachment_27543" align="aligncenter" width="460"] Potret kenangan Yoyo Dasriyo di ruangan kerja. Sebuah mesin tik “Brother” sebagai pendamping setia dalam mengayuh profesi.(Foto: M Machfudin )[/caption] [caption id="attachment_27545" align="aligncenter" width="460"] Yoyo Dasriyo (kedua dari kiri) bersama para wartawan PWI Perwakilan Garut, saat berfoto dengan Bupati Kab Garut H Dede Satibi, keempat dari kiri (2001).[/caption]     Di balik teknis pengiriman berita berproses interlokal, peringanan biaya pun disiasati dengan pembayaran di pihak redaksi. Namun yang banyak diminati wartawan daerah, meminta pihak redaksi menelepon balik! Itu dilakukan, agar tidak memberatkan pemilik telepon rumah. Apa mau dikata, pilihan itu pun beresiko! Wartawan yang terpaksa mengulur waktu menunggu telepon balik, harus malu hati di batas penantian dering telepon balik! Sang wartawan dibuat keki, ketika bunyi telepon balik tak kunjung berdering. Jerih payah memburu berita, bahkan mesti terpanggang persaingan kecepatan itu, tercampak ke dalam kekecewaan. Apa boleh buat, jika naskah berita dikirim-ulang, bersama foto melalui jasa pos. Penerbitan berita pun tak bisa lagi bersaing. Tertinggal dari media cetak lain! Pembaca hanya mengomel atas keterlambatan pemuatan beritanya. Ledekan canda pun mengembang di kalangan rekan seprofesi. Apapun kenyataannya, budaya interlokal berita merupakan jenjang kemudahan jasa telekomunikasi hari kemarin, yang penah merentang dalam lintasan proses pengiriman berita. Semasa budaya interlokal, betapa kinerja pelaku profesi kewartawanan di daerah dipacu mengemas berita siap muat dalam segala kondisi. Tak sepraktis masa kini. Di abad internet, tergelar banyak kemudahan. Beragam fasilitas modernisasi teknologi, mendukung percepatan pekerjaan wartawan. Tetapi, di zaman serba mudah dalam iklim multi media itu, justru menegakkan martabat kewartawanan makin menyulitkan.... (**)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA