Tim AS kunjungi Ankara untuk penyelidikan "penting" FETO

Kementerian kehakiman Turki mengatakan kementerian kehakiman AS meminta untuk melihat data digital mengenai keterkaitan FETO dengan usaha kudeta

Tim AS kunjungi Ankara untuk penyelidikan

ANKARA

Kunjungan delegasi AS ke Ankara sebagai bagian penyelidikan atas Organisasi Teroris Fetullah (FETO) akan mengarah pada perkembangan kasus, ujar kementerian kehakiman Turki pada Sabtu.

Berbicara kepada wartawan di Ankara, Abdulhamit Gul mengatakan FETO terlah terbukti sebagai sebuah kelompok teroris dan "pengakuan AS mengenai hal ini adalah penting".

Delegasi AS termasuk pejabat FBI tiba di ibu kota Turki apda Kamis untuk mendiskusikan perkembangan penyelidikan AS mengenai Organisasi Teroris Fetullah (FETO), kelompok di belakang upaya kudeta yang gagal pada 2016 di Turki.

Menteri kehakiman Turki mengatakan otoritas AS di Ankara meminta untuk dapat melihat data digital terkait keterlibatan FETO dengan upaya kudeta yang mematikan.

Gul mengatakan Turki siap untuk memberikan semua dokumen penting untuk investigasi AS mengenai organisasi teroris FETO.

Dua jaksa, satu dari New York dan satu dari Washington, datang ke Turki.

"Mereka melihat sendiri dan bertanya. Ini seolah terjadi di hadapan jaksa di New York," kata Gul. 

"Jadi, saya pikir setelah apa yang disaksikan oleh delegasi AS, investigasi AS atas FETO akan mengalami perkembangan," ujar Gul.

Kementerian kehakiman mengatakan kunjungan otoritas kehakiman AS adalah hal "penting" sebagaimana dapat dibuktikan Turki menyelenggarakan peradilan yang adil dan terdapat bukti untuk mencapai kesimpulan.

Gul mengatakan kasus ekstradisi pemimpin FETO adalah hal lain, bagaimanapun juga, kesimpulan dari otoritas AS akan memiliki dampak yang positif.

Dia mengatakan 241 dari 289 kasus yang memiliki kaitannya dengan upaya kudeta FETO telah diselesaikan.

Kementerian Kehakiman mengatakan sebanyak 3.908 jaksa dan hakim telah dipecat dan 31.088 orang dikembalikan dipenjara karena hubungan mereka dengan kelompok teror FETO.

FETO dan pemimpinnya -yang berbasis di AS- Fetullah Gulen mengatur upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016 di Turki, yang mengakibatkan 251 orang tewas dan hampir 2.200 orang mengalami luka-luka.

Ankara juga menuduh FETO berada di belakang upaya untuk meruntuhkan negara dengan melakukan infiltrasi ke beberapa institusi, termasuk militer, polisi dan lembaga peradilan.


TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA