Perlu Komitmen Kuat Berantas Narkoba

Kalangan DPRD Jawa Barat merasa prihatin atas tingginya kasus peredaran Narkoba di Jabar. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jabar, Jabar menjadi provinsi terbesar kedua dalam kasus peredaran narkoba di Tanah Air. Wakil Ketua Komi

Perlu Komitmen Kuat Berantas Narkoba

BANDUNG, FOKUSJabar.com: Kalangan DPRD Jawa Barat merasa prihatin atas tingginya kasus peredaran Narkoba di Jabar. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jabar, Jabar menjadi provinsi terbesar kedua dalam kasus peredaran narkoba di Tanah Air. Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar Yomanius Untung mengatakan, saat ini Jabar masuk pada darurat narkoba. Bahkan Jabar menjadi terbesar kedua setelah DKI untuk peredaran Narkoba. Hal itu sangat memprihatinkan dan membahayakan generasi muda bangsa. "2014 kemarin, jumlah pengguna Narkoba di Jabar hampir mencapai 1 juta, kondisi itu tidak jauh berbeda dengan tahun 2013," kata Untung di Gedung DPRD Jabar, Selasa (31/3/2015). Untung menjelaskan, kasus paling banyak terjadi pada penggunaan ganja dengan jumlah pengguna sekitar 600 ribu. Sedangkan peringkat kedua adalah penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu yang jumlahnya mencapai sekitar 200 ribu orang, kemudian ekstasi mencapai 100 ribu orang. "Sisanya merupakan pengguna heroin. Jadi darurat Narkoba ini tidak hanya terjadi di pusat saja, tetapi di Jabar pun sudah terjadi," tuturnya. Menurut dia, angka penyalahgunaan Narkoba yang muncul, baru permukaannya saja. Pihaknya menduga penyalahgunaan Narkoba di Jabar lebih besar dari angka itu. "Itu yang terlihat di permukaan, tapi yang tidak terdekteksi itu lebih besar. Ini sangat memprihatinkan, bahaya bagi generasi muda," jelas Untung. Hal itu harus segera diantisipasi baik oleh Pemprov Jabar dan kabupaten/kota maupun lapisan masyarakat. Menurutnya, butuh komitmen yang kuat agar bisa menyiapkan program yang jelas dibarengi anggaran yang signifikan untuk pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan Narkoba. "Kalau tidak begitu angkanya akan naik terus. Kita butuh komitmen," tegasnya. Untung pun menyebut, yang lebih memprihatinkan lagi adalah banyaknya generasi muda yang terlibat penyalahgunaan narkoba. Terlebih dominan generasi produktif antara usia 20-29, 10-19 dan 40-49 tahun. Artinya harus ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum terhadap para pengedar narkoba. Pasalnya, pihak yang paling bertanggungjawab terhadap kejadian ini adalah para pengedar. "Tapi tidak hanya itu saja, harus ada pencegahannya. Langkah tegas hukuman mati oleh pemerintah pusat pun cukup baik. Tetapi untuk di tingkat provinsi, gubernur harus memberikan kehendak yang kuat. Ini sepertihalnya korupsi," pungkasnya. (LIN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA