Inggris: Rezim Assad kehilangan legitimasinya di Suriah

Inggris sejak lama mengkritik Assad karena menargetkan warga sipil

Inggris: Rezim Assad kehilangan legitimasinya di Suriah

LONDON

Representatif khusus Inggris untuk Suriah mengatakan rezim Bashar al-Assad di Suriah kehilangan legitimasinya karena kekejamannya terhadap rakyat Suriah.

"Kami tidak berniat untuk membukanya kembali," ujar Martin Longden via Twitter, merujuk pada keputusan Inggris yang menutup kedutaan besarnya di Damaskus pada 2012.

Keputusan itu diambil setelah rezim Bashar al-Assad menargetkan warga Suriah yang menggelar protes anti-rezim.

Inggris sejak lama mengkritik Assad karena menargetkan warga sipil.

"Melindungi warga Suriah dan manyalurkan bantuan yang mereka butuhkan adalah hal terpenting," kata Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson, setahun yang lalu, sebagai tanggapan atas pengepungan rezim di Ghouta Timur.

"Inggris berkomitmen untuk bekerja sama dengan semua mitra internasional untuk memastikan berakhirnya pertumpahan darah yang mengerikan dan membuat kemajuan dalam mencapai solusi politik, yang merupakan satu-satunya cara untuk mewujudkan perdamaian bagi rakyat Suriah," kata dia lagi.

"Rezim Suriah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri. Senjata kimia bahkan menjadi senjata perang yang biasa dalam konflik Suriah," ungkap Peter Wilson, representatif Inggris untuk Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW).

Pernyataan Wilson dikeluarkan saat Pertemuan Dewan Eksekutif OPCW tahun lalu setelah serangan udara oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis ke sebuah fasilitas Assad di Suriah yang diperkirakan sebagai fasilitas senjata kimia.

Suriah telah terkepung dalam perang saudara mematikan sejak awal tahun 2011, ketika rezim Assad menyerang kelompok demonstran dengan brutal.

Sejak itu, ratusan ribu warga sipil diyakini telah tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal akibat konflik.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA