Gabungan ormas di Malaysia suarakan nasib Uyghur

MAPIM mengungkapkan para pelajar Muslim dari China di Malaysia juga tidak terlepas dari pemantauan

Gabungan ormas di Malaysia suarakan nasib Uyghur

JAKARTA

Gabungan ormas Islam di Malaysia memprotes keras penindasan pemerintah China terhadap Muslim Uyghur di Xinjiang.

Majelis Syura Ormas-ormas Islam Malaysia (MAPIM) menilai sudah selayaknya dunia memberikan perhatian terhadap situasi HAM di Xinjiang karena pelanggaran HAM telah berlangsung lama.

“Kebanyakan negara Islam seperti telah meletakkannya ke tepi nasib etnis Uyghur ini, hanya karena ingin melanjutkan hubungan ekonomi dengan China,” ujar Presiden MAPIM Mohd Azmi Abdul Hamid dalam pernyataannya pada Jumat.

Hamid menambahkan etnis Uyghur menjadi sasaran kekerasan pemerintah China dengan dalih terlibat gerakan separatis.

“Rezim China sejak tahun lalu bukan saja telah meningkatkan penindasan atas etnis Uyghur, bahkan juga terhadap kaum Muslimin,” ungkap Azmi.

Hamid mengungkapkan para pelajar Muslim dari China yang datang untuk belajar ke Malaysia juga tidak terlepas dari pemantauan dari pemerintah Beijing.

Hamid mendesak pemerintah Malaysia tidak mengabaikan hak dan keselamatan Uyghur dan kaum Musim China hanya karena ingin menjaga hubungan perdagangan dengan China.

Hamid juga menyerukan Turki menjadi mitra negosiasi dan melakukan segala upaya untuk bernegosiasi dengan China.

Wilayah Xinjiang adalah rumah bagi sekitar 10 juta warga Uighur. Mereka sejak lama menuding otoritas China melakukan diskriminasi budaya, agama, dan ekonomi.

Dalam dua tahun terakhir, China memperketat pembatasannya di kawasan itu. Pembatasan itu termasuk melarang laki-laki berjenggot dan perempuan memakai jilbab.

Sebanyak satu juta orang, atau sekitar tujuh persen dari populasi Muslim di Xinjiang, saat ini dikurung dalam jaringan "pendidikan ulang politik" di kamp-kamp.


TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA