Buku Pelajaran Kok Isinya Faham Radikal?

Kalangan DPRD Jawa Barat menyayangkan beredarnya buku pelajaran siswa SMA SMK yang mengandung faham radikalisme. Hal ini dikhawatirkan berpengaruh terhadap perkembangan mental dan anak ke depan. Demikian diungkapkan anggota Komisi V DPRD Jabar, Maman Ab

Buku Pelajaran Kok Isinya Faham Radikal?

BANDUNG, FOKUSJabar.com: Kalangan DPRD Jawa Barat menyayangkan beredarnya buku pelajaran siswa SMA/SMK yang mengandung faham radikalisme. Hal ini dikhawatirkan berpengaruh terhadap perkembangan mental dan anak ke depan. Demikian diungkapkan anggota Komisi V DPRD Jabar, Maman Abdurrachman saat ditemui di Gedung DPRD Jabar, Bandung, Senin (30/3/2015). Menurut dia, pengawas pendidikan harus turun tangan menyikapi hal itu. "Pengawas pendidikan harus turun tangan, harus dievaluasi. Dari mana itu datangnya?. Harus ditolak, masa isinya radikal," kata Maman. Menurutnya, buku-buku tersebut harus segera ditarik dan dilarang peredarannya. Pihaknya khawatir buku itu akan memengaruhi kondisi anak-anak. "Ini akan mempengaruhi anak didik kita. Kalau belum ada evaluasi, dibuat dong evaluasinya," tegasnya. Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Soenaryo Kartadinata mengatakan, isi buku pelajaran seharusnya tidak mengandung unsur negatif, terlebih yang mampu merusak keutuhan dan kondusifitas bangsa. Kandungan buku pelajaran, kata Soenaryo, harus memiliki misi yang membantu perkembangan bangsa. "Jika itu (berisi) keyakinan, harus hati-hati. Ini hal sensitif," kata Soenaryo. Soenaryo menjelaskan, para penulis buku pelajaran harus mempertimbangkan berbagai hal sebelum merilis bukunya itu. Kerukunan bangsa harus jadi pertimbangan. Seorang penulis, seorang guru, akan punya filter, karena dia punya filsafat. Terlebih, Soenaryo mengatakan, isi buku pelajaran akan berpengaruh besar terhadap pemikiran setiap siswa. Sehingga, kata dia, akan lebih bagus jika buku pelajaran berisi pikiran dan aktivitas sehari-hari antara guru dan siswa didiknya. "Ini berpengaruh terhadap anak-anak yang berkembang. Jika keliru, akan sulit," pungkasnya. Seperti diketahui, di SMAN 9 Bandung ditemukan buku pendidikan agama dan budi pekerti yang di dalamnya memuat faham radikalisme. Buku setebal 206 halaman itu merupakan terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, pada 2014 lalu. (LIN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA