Tutup tahun, IHSG bertahan di atas level 6.000

Frekuensi perdagangan sepanjang tahun menjadi 386.696 kali per hari, paling tinggi di bursa regional Asia

Tutup tahun, IHSG bertahan di atas level 6.000

JAKARTA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada pada zona hijau saat penutupan perdagangan 2018, di level 6.194,50 atau menguat 3,86 poin (0,06 persen).

Penutupan perdagangan 2018 dilakukan oleh Presiden Joko Widodo di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Jumat.

Meski demikian posisi IHSG pada saat penutupan tahun ini masih lebih rendah dibanding tahun lalu yang mencapai level 6.355,65.

“Pencapaian pada tahun ini sesuai target IHSG di atas 6.000,” ungkap Presiden.

Menurut Presiden, kinerja BEI relatif positif meskipun kondisi ekonomi global masih sangat dinamis dan sulit diprediksi. Pasar modal dunia juga terus bergejolak dengan kondisi eksternal yang memengaruhi psikologis pasar dalam negeri.

“Saya dapat bisikan bahwa IHSG kita saat ini merupakan yang terbaik kedua di dunia setelah India di tengah pasar saham dunia yang masih lesu,” ujar Presiden.

Menurut Presiden, ekonomi Indonesia mulai berada pada tahap transisi dari konsumtif ke produktif, meskipun ekonomi global sedang tidak mendukung.

Kondisi ini menurut dia, karena kerja sama yang sinergis antar-sektor moneter, fiskal, dan riil serta dunia usaha.

“Semuanya bisa berkonsolidasi dengan baik dan saling mengisi sehingga kita harap pertumbuhan ekonomi kita tahun ini mencapai di atas 5 persen,” jelas dia.

Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini menurut Presiden, diperkirakan sebesar 5,17 persen. Pencapaian ini didukung oleh inflasi yang rendah sekitar 3 persen atau lebih rendah dari tahun lalu yang berada di angka 3,61 persen.

“Dengan menjaga inflasi, kepercayaan pasar bisa dijaga dan investasi akan semakin baik,” imbuh Presiden Jokowi.

57 emiten baru sepanjang 2018

Presiden juga bersyukur semakin banyaknya jumlah perusahaan baru yang tercatat di BEI.

PT Bursa Efek Indonesia melaporkan pada 2018 total ada 57 emiten baru yang tercatat di lantai bursa sehingga secara total sudah ada 619 perusahaan yang melantai.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan perusahaan yang tercatat pada bursa tahun ini merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah BEI atau semenjak BEI privatisasi pada 1992.

Sedangkan penggalangan dana perusahaan-perusahaan yang baru tercatat di bursa mencapai Rp16,01 Triliun atau meningkat 68 persen dibandingkan 2017.

"Penggalangan dana itu merupakan yang terbanyak di (kawasan) ASEAN," ujarnya.

Menurut dia, ada kenaikan jumlah investor pasar modal sebesar 35 persen atau sejumlah lebih dari 222 ribu investor menjadi 851.903 investor.

“Kalau dilihat dari segi aktivitas perdagangan, sampai dengan 27 Desember 2018 rata-rata transaksi harian mencapai Rp8,5 triliun per hari, atau naik 11 persen,” kata Inarno.

Rata-rata frekuensi perdagangan pada 2018 menurut dia, juga naik 24 persen menjadi 386.696 kali per hari.

“Itu merupakan yang terbesar atau yang tertinggi di bursa-bursa regional Asia, bahkan melebihi Thailand,” ujar Inarno.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA