Trade Expo Indonesia raih Rp127 triliun, jauh lampaui target

Namun secara umum dengan rata-rata ekspor USD14,5 miliar per bulan Indonesia tetap kesulitan mencapai target pertumbuhan ekspor 11 persen tahun ini

Trade Expo Indonesia raih Rp127 triliun, jauh lampaui target

JAKARTA

Pengusaha-pengusaha Indonesia berhasil meraih transaksi sebesar USD8,45 miliar atau setara Rp126,77 triliun dalam penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2018, pekan lalu di Tangerang, Banten.

Transaksi ini mencapai lima kali lipat dari target yang ditetapkan yaitu USD1,5 miliar, kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

“Ini membuktikan produk nasional kita semakin diakui kualitasnya secara luas dan disegani sesuai selera pasar ekspor,” ujar dia saat menutup acara tersebut Minggu pekan lalu.

Nilai tersebut berasal dari transaksi investasi sebesar USD5,55 miliar, transaksi pariwisata sebesar USD170,5 juta, dan transaksi produk dengan total USD2,73 miliar.

Untuk transaksi produk terdiri atas barang dan jasa masing-masing sebesar USD 1,42 miliar dan USD 1,31 miliar.

Transaksi produk barang berasal dari transaksi MoU misi pembelian produk sebesar USD811 juta, transaksi langsung saat pameran USD470,65 juta, misi dagang lokal USD85,6 juta, business matching USD51,29 juta, dan Pameran Kuliner dan Pangan Nusantara USD680 ribu.

Nilai ini akan terus bertambah setelah TEI ditutup karena sejumlah transaksi masih berlangsung, kata Menteri Enggar.

Menurut Menteri Enggar, Kedutaan Besar, Konsulat Jenderal, Atase Perdagangan, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) berperan besar mendatangkan pembeli dan kontak dagang potensial dalam acara ini.

Produk-produk yang banyak diminati para buyers adalah dari sektor teknologi informasi, makanan olahan, produk-produk kimia, minyak kelapa sawit mentah (CPO), produk-produk perikanan, serta kertas dan produk kertas.

Sedangkan, negara-negara dengan nilai transaksi perdagangan keseluruhan tertinggi yaitu Arab Saudi, Jepang, Inggris, Mesir, dan Amerika Serikat.

“Dengan transaksi yang besar ini, kita sudah berhasil untuk menciptakan produk untuk buyer global, sesuai tema TEI tahun ini ‘Creating Products for Global Opportunities’,” ujar Menteri Enggar.

Misi dagang lokal dari Provinsi Jawa Timur yang digelar Jumat pekan lalu juga sukses mencatatkan transaksi USD85,6 juta dengan 10 besar produk-produk unggulan yaitu gula semut, kunyit basah, bawang putih, manggis, lada putih, jambu merah, beras jagung, telur, arang batok kelapa, dan tepung tapioka.

Tahun ini ada 1.160 perusahaan yang berpartisipasi, lebih tinggi dari target yang ditetapkan sebanyak 1.100 peserta.

Jumlah pengunjung juga naik 1,6 persen menjadi 28.155 orang dari 132 negara dibandingkan tahun lalu yang sebanyak 27.711 orang dari 117 negara.

Pengunjung mancanegara mencapai 5.183 orang dengan jumlah terbanyak berasal dari Malaysia (371 pengunjung), Arab Saudi (312 pengunjung), Afghanistan (276 pengunjung), China (273 pengunjung), dan Jepang (239 pengunjung).

“Ini sinyalemen positif dari para buyers terhadap produk-produk Indonesia di tengah situasi ekonomi global yang diliputi ketidakpastian,” ujar Menteri Enggar.

“Produsen Indonesia harus terus melakukan inovasi agar bisa bersaing di tingkat global,” tambah dia.

Realisasi target ekspor tetap sulit

Transaksi di TEI sedikit banyak akan menyumbang realisasi ekspor non migas Indonesia tahun ini yang ditarget sebesar USD188,7 miliar atau naik 11 persen dari realisasi 2017 sebesar USD169 miliar.

Target ini dirasakan oleh kalangan pengusaha sebenarnya cukup berat, karena realisasi ekspor Januari-Mei secara kumulatif dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) baru mencapai USD74,93 miliar.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengatakan ada banyak faktor yang membuat target ekspor sulit tercapai, seperti Kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah, hingga perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat.

Kenaikan suku bunga dan pelemahan mata uang membuat sektor manufaktur sulit bergerak, karena masih tergantung bahan baku impor, kata Shinta.

“Kalau mengandalkan ekspor dari sektor perkebunan dan pertambangan juga sulit karena harganya sangat fluktuatif dan dipengaruhi perang dagang,” ujar dia.

Agustus lalu BPS mencatat nilai ekspor non migas pada Agustus mengalami penurunan 2,8 persen dari USD14,86 miliar pada Juli 2018 menjadi USD14,43 miliar.

Dengan rata-rata nilai ekspor sebesar USD14,5 miliar per bulan maka dalam waktu satu tahun hanya akan memperoleh USD175 miliar, masih di bawah target USD188,7 miliar tersebut.

Harapan untuk meningkatkan transaksi ekspor adalah dengan menggencarkan pasar-pasar baru, kata Shinta. Namun, syaratnya industri di dalam negeri juga harus berbenah seperti pembangunan smelter dan peningkatan kapasitas produksi pertanian.

“Jika tidak maka pembukaan pasar baru tetap tidak efektif,” ujar dia.

Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan pencapaian pada pameran dagang tidak selalu berbanding lurus dengan penetrasi daya ekspor.

Karena itu, kata Faisal, hasil pameran harus dilanjutkan dengan upaya menyeluruh memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.

Menurut Faisal, Indonesia mempunyai regional comparative advantage yang rendah dibanding dengan Thailand, Vietnam dan Malaysia untuk bersaing di negara-negara pasar tradisional seperti Amerika Serikat, China dan Eropa.

Vietnam mempunyai keunggulan pada upah buruh yang rendah dan logistik yang lebih efisien mencapai negara tujuan ekspor yang sama dengan Indonesia.

Dibanding dengan Malaysia dan Thailand, Indonesia kalah bersaing dalam produk elektronika dan teknologi tinggi seperti otomotif.

“Jadi Indonesia memang mempunyai kompetitor yang relatif lebih unggul di semua sisi,” ujar dia.

Menurut Faisal, dia juga belum melihat upaya percepatan ekspor yang signifikan dari pemerintah.

Saat ini pemerintah malah melakukan pengetatan impor, yang sebenarnya bisa berakibat negatif bagi industri dalam negeri terutama sektor yang masih bergantung bahan baku impor, kata dia.

Selain itu, kata Faisal, ada juga kebijakan tentang penggunaan Letter of Credit (LC) bagi sektor minerba bisa menjadi disinsentif bagi eksportir karena akan menyulitkan.

Sementara program insentif seperti tax holiday dan tax allowance untuk sektor manufaktur berorientasi ekspor masih belum diminati dan baru dirasakan dampaknya beberapa tahun ke depan.

“Kebijakan terakhir menekan impor, konversi dana hasil ekspor ke rupiah justru berpotensi menekan ekspor. Karena tidak diikuti dengan kebijakan lain yang mendorong ekspor, terutama kebijakan-kebijakan yang mempermudah prosedur,” ujar dia.

Jangan tinggalkan pasar lama

Menurut Faisal, pilihan pemerintah untuk menggarap pasar ekspor baru seperti Arfika dan Asia Selatan adalah pilihan tepat di tengah menurunnya permintaan barang dari negara pasar tradisional.

Namun, pasar-pasar baru itu tidak bisa menggantikan peranan pasar tradisional, karena nilai ekspornya masih sangat kecil.

“Pasar baru itu bukan pengganti pasar tradisional. Ini salah kaprah. Nilai ke pasar tradisional itu berpuluh-puluh kali lipat. Ini hanya tambahan,” ujar dia.

Indonesia, menurut dia, bisa menggunakan kedekatan dalam preferensi produk halal untuk berdagang dengan negara-negara Timur Tengah dan Islam.

Namun di kawasan ini Indonesia malah kalah dengan produk dari Thailand, tambah Faisal.

"Kebutuhan jamaah haji dan umroh seharunya kita lebih tahu, karena kita pengirim jamaah terbesar ke sana,” ujar dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA