Tim forensik ungkap cara identifikasi penumpang Lion Air JT-610 yang nahas

Hingga Selasa pagi, tim DVI menyatakan sudah ada 27 jenazah yang berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga

Tim forensik ungkap cara identifikasi penumpang Lion Air JT-610 yang nahas

JAKARTA

Hari kesembilan evakuasi penumpang pesawat Lion Air PK LQP JT-610 yang jatuh di perairan Laut Jawa, tim Disaster Victim Identification (DVI) Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto mengungkapkan sistem kerja bagian antemortem.

Hingga Selasa pagi, tim DVI menyatakan sudah ada 27 jenazah yang berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga. Dari 27 jenazah tersebut di antaranya 18 laki-laki dan sembilan perempuan.

Tercatat, data antemortem yang diterima sebanyak 256 buah yang terdiri dari 213 yang melapor melalui posko di RS Polri Jakarta, sedangkan 43 lainnya di posko yang terdapat di Bangka Belitung.

Ketua Tim Antemortem, Kombes Pol Saljiyana mengatakan, hingga hari ini masih banyak keluarga korban yang bertanya kepada pihaknya mengenai proses identifikasi penumpang.

Dalam konferensi pers di RS Polri hari ini, Saljiyana menyebut salah satu pertanda identifikasi jenazah hampir rampung adalah ketika anggota timnya mulai berkali-kali mengontak ataupun berkomunikasi dengan keluarga penumpang.

“Keluarga yang sering dihubungi itu yang sudah mendekati [hasil identifikasi]. Sehingga pada saat rekonsiliasi kembali dengan data yang lengkap, itu bisa diputuskan dalam sidang rekonsiliasi,” kata Saljiyana.

Lebih detail, dia menuturkan mekanisme tim antemortem dilakukan pertama dengan menerima dokumen-dokumen yang dilaporkan oleh keluarga penumpang untuk digunakan dalam proses identifikasi.

Pertama, tutur Saljiyana, tim akan mendata secara umum hubungan penumpang dengan keluarga yang melaporkan. Kemudian dari pelapor tersebut dikumpulkan data tentang alamat penumpang yang menjadi korban.

“Kita tanya jenis kelamin, umur, suku ataupun ras. Ini yang sangat umum tapi penting sekali karena nanti dibawa di rekonsiliasi,” ujar dia.

Dokumen penting lainnya yang dibutuhkan adalah sidik jari. Umumnya, sidik jari penumpang diambil dari dokumen yang terdapat sidik jari seperti ijazah asli, paspor ataupun Surat Izin Mengemudi (SIM).

Data pribadi lain yang juga menjadi kunci pemeriksaan tim antemortem adalah data gigi korban. Tak hanya berpegang pada keterangan pihak keluarga, tim forensik juga menelusuri hingga dokter gigi yang pernah merawat kesehatan gigi penumpang.

“Di gigi ada keistimewaannya karena sangat individual. Tidak ada satu manusia pun yang sama. Jadi tidak ada yang sama atau yang identik,” tukas Saljiyana.

Tidak hanya itu, kemampuan gigi yang tahan terhadap thermis atau panas juga membuat informasi tentang gigi sangat membantu proses identifikasi.

“Dokter gigi akan dihubungi atau keluarga dapat menghubungi dokter korban untuk meminta rekam medis gigi,” imbuh dia.

Pemeriksaan lainnya yang dilakukan tim antemortem adalah dengan pengambilan sampel DNA dari keluarga yang memiliki satu garis keturunan.

Setelah dokumen-dokumen tersebut diserahkan, tim akan melakukan wawancara dengan pihak keluarga. Pertanyaan yang diberikan dalam fase ini berupa ciri-ciri korban dari ujung rambut hingga ujung kaki; jenis, warna dan panjang rambut; ciri-ciri di wajah yang bisa dikenali; tanda lahir hingga tanda tubuh seperti tato.

“Keluarga dekat ini pasti bisa menggambarkan. Seperti kemarin bisa diidentifikasi karena ada salah satu korban yang memakai tato,” tukas Saljiyana.

Untuk properti yang dikenakan oleh penumpang atau korban pada saat terakhir kali terlihat, disebut Saljiyana, juga menjadi informasi berguna untuk tim identifikasi.

Tak hanya model pakaian, namun tim forensik juga membutuhkan informasi seperti jenis bahan dan merek baju yang terakhir kali dikenakan, perhiasan seperti kalung dan jam tangan, hingga sepatu beserta ukuran kaus kaki dan warnanya.

“Sampai ke celana dalam. Itu biasanya istri atau suami tahu merknya apa yang spesifik. Ini kita gali semuanya. Kita peroleh dari pihak keluarga. Kita catat semua,” papar Saljiyana.

Jika sudah terdata dan masih ada informasi yang dirasa tertinggal, Saljiyana menambahkan, keluarga korban dapat mengontak call center yang telah disiapkan.

Semua data yang didapatkan akan disandingkan dengan data postmortem sebelum akhirnya dilakukan sidang rekonsiliasi.

“Tempat sidang rekonsiliasi inilah tempat diskusi para expert untuk menentukan identitas penumpang tersebut. Apabila dari PM ataupun AM ada yang masih kurang, kita ricek kembali,” tutur dia.

Pendataan kelengkapan tubuh oleh tim Postmortem

Di tempat yang sama, Spesialis Patologi Forensik dr. Adang Azhar menjabarkan sistem kerja bagian postmortem sebagai tim yang pertama kali menerima barang-barang ataupun tubuh penumpang yang berhasil dievakuasi dari lokasi kecelakaan.

Adang menyebut, kantung-kantung jenazah yang dikirim ke RS Polri banyak yang berisi barang-barang milik penumpang dan bagian tubuh. Dengan kondisi itu, tim postmortem melakukan pelabelan atau registrasi atas temuan.

“Setelah di-labeling selanjutnya nanti di ruang otopsi atau kamar pemeriksaan kita periksa dan mendeskripsi apa yang ada di dalam kantong jenazah atau body bag itu,” kata Adang.

“Sebab kita menerima juga barang-barang yang tidak melekat di dalam tubuh itu. Jadi misalnya, dalam body bag itu hanya barang-barang yang sudah lepas,” imbuh dia.

Barang-barang tersebut kemudian diatur oleh tim postmortem dalam sebuah ruangan. Di kamar jenazah, kata Adang, pemeriksaan dipimpin oleh dokter forensik, tim ordontologi forensik, Inafis (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System), dan tim DNA.

“Kalau ditemukan misalnya sidik jari atau jari-jari di situ kita konsulkan ke bagian Inafis. Semua saling mendukung untuk proses identifikasi,” sebut Adang.

Setelah pemeriksaan dan pencatatan tersebut dijalankan, tim postmortem akan memasukan kembali tubuh atau bagian tubuh ke dalam kantung jenazah yang baru dengan menggunakan label nomor yang digunakan pertama kali.

“Ada juga kita menerima bagian-bagian yaitu barang-barang dalam satu kantong itu yang dimiliki oleh penumpang. Kita hanya mendata saja, karena itu tidak melekat di dalam tubuh. Kalau yang melekat dalam tubuh itu baru dideskripsi lebih mendetail,” pungkas Adang.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA