TEI jadwalkan 9 pertemuan bisnis dengan mitra luar negeri

Targetkan transaksi USD1,5 miliar dan menunjukkan kesiapan Indonesia sebagai mitra bisnis global

TEI jadwalkan 9 pertemuan bisnis dengan mitra luar negeri

JAKARTA

Menjelang penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 24-28 Oktober mendatang sudah ada sembilan permintaan dari delegasi asing untuk menggelar pertemuan bisnis dengan kementerian, asosiasi pengusaha dan kamar dagang Indonesia.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Arlinda mengatakan para delegasi ini ingin membahas kesepakatan-kesepakatan bisnis. Topik yang akan antara lain terkait peluang bisnis dan investasi di berbagai bidang seperti konstruksi, agroindustri, pariwisata, manufaktur, niaga elektronik, makanan dan minuman, kelapa sawit, kosmetik, perhotelan, serta peralatan laboratorium.

“Kami menyiapkan berbagai ruangan untuk pertemuan tersebut,” ujar dia dalam siaran pers, Rabu.

Permintaan fasilitasi tersebut antara lain datang dari Kedutaan Besar di Alger, Aljazair yang menyampaikan permintaan untuk memfasilitasi pertemuan antara 31 delegasi bisnis Aljazair dengan perwakilan Kadin dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Kemudian dari KBRI di Lagos, Nigeria menyampaikan permintaan ke panitia penyelenggara untuk memfasilitasi pertemuan antara 27 delegasi bisnis Nigeria dengan Kadin dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Selain itu, KBRI di Cape Town, Afrika Selatan juga menyampaikan bahwa delegasi pemerintahan Afrika Selatan yang dipimpin Walikota Mossel Bay akan bertemu dengan Kadin dan Pertamina guna menjajaki kerja sama investasi dengan Indonesia di bidang penyulingan gas.

Indonesia mengincar transaksi hingga USD1,5 miliar dalam TEI ke-33 tahun ini. Pada 2017, TEI berhasil mencatatkan transaksi sebesar USD1,41 miliar, lebih tinggi dari target USD1,10 miliar.

Menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, TEI makin menunjukkan kesiapan Indonesia dalam bermitra dengan para pelaku usaha di seluruh dunia untuk mengembangkan bisnis di kancah perdagangan global.

Menurut Menteri Enggar, situasi peradangan global yang memanas akibat perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) dan proteksionisme yang menguat bukan halangan untuk meningkatkan transaksi pada TEI. Justru hal itu menjadi kesempatan Indonesia muncul sebagai alternatif sumber pembelian.

Kata Menteri Enggar, TEI adalah etalase produk Indonesia yang sudah bisa menjadi titik balik kebangkitan ekspor yang sebelumnya mengalami penurunan sejak 2012. Transaksinya sebesar USD1,41 miliar atau naik 37,3 persen dibanding TEI 2016 yang hanya mencatat transaksi US1,02 miliar.

Secara nasional, perdagangan tahun lalu naik 15,9 persen, jauh melebihi target yang hanya naik 5,6 persen. Tahun lalu, nilai ekspor nonmigas Indonesia mencapai USD153,07 miliar, naik dibanding 2016 yang hanya mencapai USD132,08 miliar.

Tanggal Diperbarui: 11 Ekim 2018, 11:50
TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA