Permudah korban kekerasan melapor, Komnas Perempuan manfaatkan teknologi baru

Dengan sistem baru, pelapor atau korban dapat lebih cepat melayangkan aduan

Permudah korban kekerasan melapor, Komnas Perempuan manfaatkan teknologi baru

JAKARTA

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) memanfaatkan sistem teknologi komputasi awan dalam menerima layanan aduan berbagai macam kasus.

Melalu sistem cloud contact center hasil kerja sama dengan Telkomtelstra dan ipScape, Komnas Perempuan berharap dapat memberikan kemudahan proses layanan pengaduan masyarakat.

“Dengan sistem ini, si pengadu yang menelepon dapat terekam. Dari situ, kami bisa menghubungi kembali untuk diminta keterangan lebih lanjut,” kata Ketua Komnas Perempuan Azriana Manalu di Kantor Komnas Perempuan, Jakarta, Selasa.

Tidak sampai di situ, Komnas Perempuan ingin melalui sistem ini korban dapat lebih mudah dalam menyampaikan cerita.

Azrian memastikan, layanan melalui sistem komputasi awan ini tetap menjamin kerahasiaan aduan korban. Meski aduan terekam, lembaga ini menjamin tidak akan mengungkapkan laporan-laporan yang diterima kepada publik.

“Informasi yang diberikan ke publik itu berarti informasi yang sudah diolah terlebih dahulu,” kata Azriana.

Untuk tim penerima aduan, tutur Azriana, lembaga yang dipimpinnya menyediakan 12 personel untuk mencatat semua laporan yang masuk.

-Kekerasan siber yang terus meningkat

Di tempat yang sama, Ketua Sub Komisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan

Mariana Amiruddin menyebut pemanfaatan teknologi ini dibuat juga untuk merespons tingginya jumlah pengaduan yang masuk.

Sebelum ada teknologi ini, Komnas Perempuan menangani aduan secara langsung atau melalui laporan korban.

Mariana menyebut, aduan korban kekerasan terhadap perempuan mengalami peningkatan tiap tahun, termasuk kekerasan berbasis siber.

Kekerasan berbasis siber adalah tren yang baru dicatat oleh Komnas Perempuan sejak tahun lalu.

Pada tahun 2017, lembaga yang berlokasi di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat ini mencatat ada 348 ribu aduan kasus kekerasan terhadap perempuan.

“Jumlah kasus itu berdasarkan laporan korban. Kami prihatin dengan jumlahnya yang terus meningkat tiap tahun,” tukas Mariana.

Tak sekadar ancaman, perundungan dan intimidasi di jejaring sosial, kekerasan berbasis siber juga dinilai Komnas Perempuan kerap mengarah pada kekerasan seksual.

“Pengaduan korban kekerasan cenderung meningkat, sementara kita tahu sumber daya di Komnas Perempuan untuk merespons pengaduan sulit ditingkatkan. Dukungan teknologi ini menjadi solusi baru,” ungkapnya.

Komnas Perempuan sendiri mencatat per harinya dapat menerima 8-10 aduan kekerasan seksual.

Melalui sistem cloud contact center ini, prosedur pelaporan diharapkan mampu memangkas waktu pelaporan.

Tidak sampai di situ, fitur ID Caller juga membuat Komnas Perempuan dapat menghubungi korban jika ada indikasi tekanan dan ancaman bila melapor langsung ke petugas.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA