Peringkat SDM Indonesia sedikit di bawah rata-rata dunia

Bank Dunia mengeluarkan ranking ‘human capital’ berdasarkan kesehatan dan pendidikan; Singapura tertinggi, Chad paling rendah

Peringkat SDM Indonesia sedikit di bawah rata-rata dunia

BALI

Modal sumber daya manusia (human capital) Indonesia dalam laporan Human Capital Index (HCI) 2017 yang dirilis oleh Bank Dunia pada Kamis diukur berada sedikit di bawah rata-rata dunia.

Skor Indonesia adalah 0,53; di bawah skor rata-rata dunia sebesar 0,57 dan juga di bawah rata-rata negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang sebesar 0,61.

Meski begitu, menurut laporan HCI, skor ini di atas rata-rata bila dibandingkan dengan negara-negara di kelompok pendapatan sama.

Singapura berada di urutan teratas dengan skor 0,88 dan disusul oleh Jepang – bersama Korea Selatan – dengan skor 0,84, kata laporan tersebut.

Bagian paling bawah adalah Chad (0,29), Sudan Selatan (0,30) dan Niger (0,32) yang berbagi skor sama dengan Mali dan Liberia.

Skor HCI ini menunjukkan produktivitas masa depan dari anak-anak yang lahir sekarang, dibandingkan dengan potensi yang bisa mereka capai bila negara memberikan investasi kepada sektor kesehatan lengkap dan akses pada pendidikan berkualitas tinggi.

Skor diberikan dengan skala nol sampai satu, dengan angka satu sebagai skor tertinggi.

Negara yang memiliki skor 0,50, misalnya, berarti penduduk beserta negara tersebut hanya berhasil mencapai setengah dari potensi ekonomi mereka.

Bila dikalkulasikan dalam jangka panjang (di atas 50 tahun), maka kerugian ekonomi negara dengan skor ini bisa sangat besar, mencapai 1,4 persen penurunan pertumbuhan GDP per tahun.

Sehingga, untuk Indonesia, anak-anak yang lahir pada hari ini hanya bisa memenuhi 53 persen potensi masa depan mereka, karena tidak mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang maksimal.

Namun, mengacu ke laporan HCI, angka kematian bayi di Indonesia terbilang rendah, dengan kemungkinan bayi bertahan hidup hingga usia 5 tahun sebanyak 97 dari 100 anak-anak.

Di Indonesia, anak-anak yang mulai bersekolah pada empat tahun diprediksi bisa menyelesaikan 12,3 tahun sekolah saat usia mereka menginjak 18 tahun.

Namun bila ditilik dari materi yang mereka pelajari di sekolah, durasi pembelajaran ini hanya dihitung senilai dengan ilmu sebanyak 7,9 tahun. Ini berarti ada jurang pembelajaran (learning gap) sebesar 4,4 tahun.

Sebanyak 83 persen remaja usia 15 tahun di Indonesia yang akan bertahan hidup hingga 60 tahun.

Statistik ini didapat dari perkiraan kondisi kesehatan fatal atau non-fatal yang bisa dihadapi anak-anak dalam situasi hari ini.

Sementara itu, 66 dari 100 anak-anak Indonesia dikatakan tidak menderita stunting.

Sebaliknya, 34 dari 100 anak-anak di Indonesia menderita stunting, yang pada akhirnya berisiko besar mengalami keterbatasan kognitif dan fisik seumur hidup.

Berdasarkan jender, anak-anak perempuan Indonesia memiliki skor HCI yang lebih tinggi ketimbang anak-anak laki-laki, tambah laporan itu.

Di antara 2012 sampai 2017, skor HCI Indonesia naik dari 0,50 menjadi 0,53.

Namun laporan Bank Dunia menyebutkan bahwa berdasarkan tingkat pendapatan per kapita, skor ini lebih rendah dari perkiraan mereka.

Secara global, hanya 56 persen anak-anak yang lahir hari ini bisa mencapai separuh potensi mereka di masa depan. Sementara 92 persen anak-anak akan bisa – paling banyak – mencapai 75 persen potensi mereka di masa depan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA