Mahmoud yang datang membawa pesan bangsa Palestina

Selain bertanding di ajang Asian Para Games, Mahmoud juga belajar tentang aturan dan peralatan olah raga internasional agar makin banyak kesempatan bertanding

Mahmoud yang datang membawa pesan bangsa Palestina

JAKARTA

Mahmoud Zohud, 29, sedang berada di Dubai saat rekan-rekannya berusaha keluar dari Palestina untuk mengikuti Asian Para Games di Jakarta.

Rencananya, akan ada beberapa atlet yang berlaga di pesta olah raga empat tahunan bagi penyandang distabilitas itu.

Namun otoritas tidak mengizinkan mereka keluar, apalagi mengibarkan bendera Palestina di tengah perhelatan olah raga bangsa-bangsa Asia.

Mahmoud dan atlet serta ofisial tadinya akan berkumpul di Mesir dan berangkat bersama ke Jakarta.

Setelah pelarangan tersebut, Mahmoud kini menjadi satu-satunya Palestina di ajang itu.

Dia datang tanpa pelatih, ofisial bahkan tanpa perlengkapan hanya istrinya yang juga ikut mendampinginya berobat ke Dubai.

“Saya beruntung, sedang berobat di luar Palestina sehingga tidak menemui hambatan tersebut. Saya putuskan untuk tetap berangkat meski seorang diri,” ujar Mahmod saat ditemui Anadolu Agency di Para Village, perkampungan atlet untuk event ini, Jakarta, Kamis.

Kata Mahmoud, para atlet difabel di Palestina kecewa dengan kondisi tersebut. Mereka sudah berlatih keras dalam jangka waktu lama untuk mengikuti Asian Para Games.

Karena itu, Mahmoud datang dengan membawa pesan bahwa seluruh atlet difabel Palestina sudah mempersiapkan diri dan akan bertolak ke Jakarta.

“Para atlet ini sudah tiga kali mencoba melewati perbatasan. Saya sedih mereka tidak bisa ikut hanya karena persoalan politik,” kata dia.

Mahmoud akhirnya memang menjadi kejutan saat upacara pembukaan perhelatan ini, Sabtu pekan lalu. Palestina datang dengan jumlah kontingen paling sedikit, hanya satu orang, yaitu Mahmoud sendiri.

Alih-alih merasa rendah diri sebagai bangsa yang sedang berjuang menghadapi penjajahan, momen pembukaan itu malah membuatnya merasa spesial.

Semua orang kata Mahmoud, seperti mendukungnya, mereka berdiri dan bertepuk tangan lama, termasuk Presiden Joko Widodo yang dia lihat sendiri antusiasmenya menyambut atlet dari Palestina.

“Pada akhirnya saya sangat bangga, melihat bendera Palestina bersanding dengan negara-negara lain di Asia,” ujar dia.

Mahmoud merasa, menjadi penanda eksistensi atlet difabel bangsa Palestina pada event internasional ini.

“Ini pesan pada semua atlet difabel di Palestina bahwa teruslah berlatih, meski kita tidak boleh pergi dari Jalur Gaza, tapi kita tetap mempunyai peluang tampil di kompetisi internasional.”

Alat seadanya

Mahmoud sebelumnya adalah pemuda biasa yang berasal dari keluarga kelas menengah di Palestina.

Hingga pada suatu ketika saat dia berumur 14 tahun, sebuah peluru dari tentara Israel yang sedang menembak secara acak mendarat di dadanya.

Saat itu, dia baru saja pulang sekolah dan melewati sebuah demonstrasi di Jalur Gaza.

Setelah mendapatkan perawatan, ternyata efek peluru itu membuat dia lumpuh. Setelah itu, hidupnya berubah total, menjadi seorang difabel.

,Mahmoud yang sebelumnya atlet bola basket di sekolahnya, menjadi remaja lumpuh yang patah semangat.

Tapi dia tidak mau berlama-lama dengan itu. Kegemarannya berolah raga tidak bisa dihentikan oleh kakinya yang lumpuh, dia tetap bermain basket meski dengan peralatan seadanya.

Selain basket, dia juga menekuni atletik, khususnya tolak peluru.

Semua perlengkapan olah raga di Palestina terbatas, kata Mahmoud.

Untuk basket tidak ada lapangan dan pelatih yang menguasai aturan-aturan internasional pada cabang ini. Mereka hanya mengandalkan Google dan Youtube untuk belajar bagaimana olah raga ini dimainkan.

Selain itu hingga kini kesempatan untuk bertanding dalam acara-acara internasional belum pernah datang.

“Kami berharap bisa memiliki pelatih dan peralatan standar sehingga bisa ikut dalam even internasional. Bukan sekadar ikut, tapi juga berprestasi,” ujar dia.

Ajang para games ini, menurut Mahmoud adalah langkah besar untuk mewujudkan impian tersebut.

Karena, selain bertanding, Mahmoud juga belajar tentang peralatan-peralatan olah raga standar yang digunakan berbagai dalam cabang olah raga untuk kaum difabel.

Demikian juga aturan-aturannya, dia akan mempelajari semua aturan internasional dan menularkannya ke Palestina.

“Sehingga kesempatan untuk berlaga di ajang internasional semakin besar, “ujar dia.

Mahmoud sebenarnya sempat putus asa mengetahui peralatannya olah raganya tidak bisa didatangkan dari Jalur Gaza ke Jakarta.

Namun hal ini malah jadi berkah, dia berkesempatan menggunakan yang sama sekali berbeda namun memenuhi standar internasional.

Setelah pulang ke Palestina, dia berjanji akan menunjukkan alat-alat olah raga dan teknik yang benar.

“Alat-alat olah raga itu yang benar-benar asing bagi saya. Tapi saya juga senang, karena ini peralatan yang tepat dan sesuai standar internasional.”

Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia, Yon Machmudi mengatakan event internasional termasuk olah raga sangat penting bagi Palestina karena bisa menjaga eksistensinya.

Karena itu mereka akan berusaha hadir meski dengan kondisi terbatas.

“Apalagi ini diselenggarakan di Indonesia, negara yang sudah seperti saudara bagi bangsa Palestina,” ujar dia.

Selain mereka juga diuntungkan dengan kebijakan Indonesia yang tidak mengizinkan Israel hadir dalam ajang ini. Demikian juga saat Asian Games beberapa waktu lalu.

“Jadi ini benar-benar menunjukkan eksistensi mereka,” ujar dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA