Indonesia target serap 2.542 ton aspal karet pada 2019

Penggunaan karet sebagai campuran aspal juga untuk menyerap hasil karet nasional di tengah penurunan harga karet dunia

Indonesia target serap 2.542 ton aspal karet pada 2019

JAKARTA

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan penggunaan karet sebagai campuran beraspal atau aspal karet dalam penanganan jalan nasional pada tahun ini mencapai 2.542 ton.

Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S Atmawidjaja mengatakan keunggulan penggunaan karet alam pada campuran beraspal panas untuk perkerasan jalan adalah tingkat perkerasan lebih baik, tidak mudah meninggalkan jejak roda pada saat aspal basah, dan daya tahan lebih tinggi dibanding aspal biasa.

“Selain itu, penggunaan karet juga untuk menyerap hasil karet nasional di tengah penurunan harga karet dunia,” ungkap Endra dalam keterangan resmi, Kamis.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia. Setiap tahun produksi karet alam Indonesia mencapai 3,2 juta ton. 0,6 juta ton di antaranya dimanfaatkan untuk industri dalam negeri, sementara 2,4 juta ton lainnya di ekspor ke mancanegara.

Untuk menghadapi penurunan harga karet, pemerintah mengeluarkan kebijakan nasional pemanfaatan karet alam oleh berbagai sektor, termasuk salah satunya dalam pembangunan infrastruktur PUPR.

Endra mengatakan target penyerapan 2.542 ton aspal karet setara dengan 177 ton lateks pekat atau 354 ton lateks kebun dengan nilai Rp3,15 miliar.

“Pengadaan dilakukan secara bertahap untuk menghindari penyimpanan dalam waktu lama yang dapat menyebabkan karet alam rusak,” ujar Endra.

Endra menjelaskan mekanisme pembelian karet dari petani dilakukan oleh pabrik atau koperasi yang memproduksi brown crepe. Kementerian PUPR nantinya akan mendapat suplai brown crepe dari pabrik.

“Syaratnya, pabrik wajib mencantumkan Surat Keterangan dan kuitansi pembelian dari petani atau KUD,” tambah dia.

Penggunaan aspal karet jelas dia, juga sudah diterapkan pada tahun 2017-2018 untuk preservasi Jalan Muara Beliti – Tebing Tinggi – Lahat sepanjang 125 Km dengan anggaran sebesar Rp30,55 miliar.

“Dari total panjang tersebut, terdapat 4,37 Km yang menggunakan aspal karet dengan ketebalan 4 cm,” urai Endra.

Porsi bahan karet atau brown crepe yang digunakan pada preservasi jalan tersebut menurut dia, adalah sekitar 7 persen atau 81 ton karet alam per km.

Pada tahun 2018, Kementerian PUPR telah membeli aspal karet di Sumatera Selatan dan Jawa Barat dengan total Rp 7 miliar.

Pembelian dilakukan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) V Sumsel dan BBPJN VI Jakarta, Jawa Barat dan Banten selaku pengguna aspal karet.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA