Indonesia kirim nota keberatan ke Filipina soal WNI pelaku bom

Indonesia menegaskan dugaan keterlibatan WNI sebagai pelaku aksi bom bunuh diri di Gereja Jolo, Sulu masih belum jelas

Indonesia kirim nota keberatan ke Filipina soal WNI pelaku bom

JAKARTA

Indonesia pada Selasa meminta Filipina mengklarifikasi pernyataan keterlibatan Warga Negara Indonesia (WNI) dalam serangan bom bunuh diri di gereja di Jolo.

Duta Besar Indonesia untuk Filipina Sinyo Harry Sarundajang mengatakan pihaknya akan mengirimkan surat pemberitahuan keberatan kepada Filipina melalui Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri Filipina.

"Mengirimkan nota verbal untuk meminta klarifikasi kepada Pemerintah Filipina serta menyatakan keberatan," tutur Sinyo dalam siaran persnya.

Sinyo menegaskan dugaan keterlibatan WNI sebagai pelaku aksi bom bunuh diri di Gereja Jolo, Sulu masih belum jelas.

Sinyo menyampaikan Kepolisian Nasional Filipina (PNP) sendiri belum dapat melampirkan bukti kuat seperti pemeriksaan DNA maupun rekaman CCTV yang menunjukkan pelaku pengeboman merupakan WNI.

"PNP belum mengeluarkan hasil uji DNA serta gambar resmi hasil rekaman CCTV di lokasi ledakan, yang menyatakan bahwa kedua pelaku sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano adalah WNI," kata Sinyo.

Sinyo menyatakan data DNA dan CCTV itu sangat diperlukan untuk membuktikan tuduhan Ano soal dugaan pelaku pengeboman merupakan warga WNI.

Dia menilai pernyataan Ano itu tak memiliki basis data yang valid. Intelijen Filipina (NICA) sendiri, kata Sinyo, menyatakan masih terus melakukan investigasi terkait pelaku pengeboman itu.

Jumat lalu, Kementerian Dalam Negeri Filipina mengatakan pembom bunuh diri asal Indonesia berada di balik ledakan ganda terhadap gereja di Jolo.

Menteri Dalam Negeri Eduardo Ano mengatakan pelaku bom bunuh diri adalah pasangan suami istri WNI yang memiliki hubungan dengan Daesh.

“Yang benar-benar bertanggung jawab adalah pembom bunuh diri Indonesia. Tetapi Abu Sayyaf yang membimbing mereka, mempelajari target, melakukan pengintaian, pengawasan, dan membawa pasangan itu ke gereja,” ujar Ano.

Setidaknya 22 orang tewas dan lebih dari 100 warga sipil dan aparat keamanan terluka akibat bom ganda yang meledak di Gereja Jolo, Sulu pada Minggu.

Bom pertama meledak di dalam gereja Katedral Marian of Our Lady of Mount Carmel saat misa sedang berlangsung pada sekitar jam 8.45 waktu setempat.

Bom kedua meledak di tempat parkir Katedral saat pasukan keamanan berusaha mengatasi ledakan bom pertama.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA