Harga rendah, ekspor CPO Indonesia malah turun

Di pasaran global, CPO menghadapi persaingan dengan minyak nabati lain seperti terutama kedelai rapeseed dan biji bunga matahari yang juga menurunkan tarif ekspor untuk menarik pembeli

Harga rendah, ekspor CPO Indonesia malah turun

JAKARTA

Rendahnya harga crude palm oil (CPO) di pasaran dunia pada Agustus-September lalu tidak menjadi magnet yang kuat negara-negara importir untuk menggenjot belanjanya, ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono, Kamis.

Menurut Mukti, dengan harga rata-rata USD546,9 per metrik ton, ekspor minyak kelapa sawit Indonesia termasuk biodiesel dan oleochemical turun 3 persen atau dari 3,3 juta ton pada Agustus menjadi 3,3 2juta ton pada September. Padahal ini harga terendah sejak Januari 2016 lalu.

Harga CPO harus bersaing dengan harga minyak nabati lain dari seluruh dunia yang juga menurunkan harga, terutama kedelai rapeseed dan biji bunga matahari.

“Argentina mengurangi pajak ekspor untuk menarik pembeli. Produksi minyak sawit yang meningkat di Indonesia dan Malaysia memperburuk situasi sehingga terjadi timbunan stok di dalam negeri,” ujar dia di Jakarta.

Sepanjang September, minyak sawit kecuali olechemical dan biodiesel hanya mampu mencapai 2,99 juta ton, stagnan dibanding bulan sebelumnya. Kondisi ini membuat kinerja tahunan juga turun dari 23,19 juta ton pada Januari-September 2017 menjadi 22,95 ton tahun ini.

Menurut Mukti, India merupakan negara importir tertinggi pada September dengan pembelian sebanyak 779,44 ribu ton, angka ini sebenarnya turun 5 persen dari bulan lalu. Potensi besar penjualan ke India terjadi karena negara itu merilis kebijakan biofuel dengan target pencampuran bensin 20 persen untuk etanol dan 5 persen pencampuran diesel untuk biodiesel pada 2030.

“Ini peluang besar, pemerintah harus memberi perhatian khusus ke India, terutama soal tarif bea masuk,” ujar Mukti.

Menurut Mukti, Malaysia sudah menikmati pengurangan tarif bea masuk masing-masing 5 persen untuk CPO dan redined product-nya karena Free Trade Agreement yang efektif Januari 2019 mendatang.

“Peluang Indonesia untuk mengisi kebutuhan di India bisa tergerus jika tidak ada langkah meningkatkan perdagangan melalui FTA maupun preferential trade agreement.”

Ekspor juga turun ke China (25 persen), Pakistan (24 persen) dan negara-negara timur tengah (21 persen).

Sedangkan ekspor ke Eropa justru naik hingga 16 persen, kemudian Bangladesh yang meroket 155 persen dan negara-negara Afrika sebesar 47 persen.

“Pada September di Eropa sudah tidak ada lagi panen rapesheen dan biji bunga matahari sehingga pembelian CPO meningkat,” ujar Mukti.

“Afrika berpotensi menjadi pasar utama minyak goreng jika pemerintah memberi insentif melalui pengurangan pungutan ekspor dalam bentuk kemasan.”

Menurut Mukti, penyerapan CPO dalam negeri membalik akibat program mandatori biodiesel 20 persen (B20) yang efektif September. Penyerapannya naik 39 persen menjadi 402 ribu ton dari sebelumnya hanya 290 ribu ton.

Penyerapan ini belum maksimal karena terkendala infrastruktur, yaitu titik pengiriman biofuel yang sangat tersebat dan tidak dilengkapi tangki penimbunan yang memadai.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA