Gaza butuh Indonesia cegah lumpuhnya fasilitas kesehatan

Rumah Sakit Indonesia adalah salah satu pencapaian terbesar yang membantu sekitar 450 ribu masyarakat Gaza

Gaza butuh Indonesia cegah lumpuhnya fasilitas kesehatan

JAKARTA

Gelombang serangan Israel ke jalur Gaza masih terus berlangsung. Tercatat sekitar 200 orang tewas akibat aksi tembakan Israel dalam aksi Great Return March.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina Ashraf Abdul Rahim menyatakan kondisi kemanusiaan Gaza terus memburuk dalam waktu ke waktu.

Dia mengharapkan dunia internasional terketuk untuk membantu Gaza karena daerah yang diblokade Israel itu masih berharap bantuan besar dunia internasional.

Ashraf lalu berkeliling ke sejumlah negara, termasuk Indonesia, untuk menyampaikan kondisi krisis kesehatan di Jalur Gaza.

Dia berharap pemerintah Indonesia dan lembaga kemanusiaan bisa hadir langsung ke Gaza untuk memberikan bantuan. Berikut wawancara Anadolu Agency.

Apa misi Kementerian Palestina datang ke Jakarta? 

Saya datang ke sini untuk menjelaskan kepada Indonesia tantangan krisis kesehatan di Gaza.

Tantangan ini terus berkembang dari hari ke hari dan mengancam sistem kesehatan kami karena sistem kami sangat rapuh.

Setengah dari rakyat Gaza hidup di bawah garis kemiskinan. Sebanyak 95 persen air di Gaza juga tercemar yang menjadikan air di Gaza tak layak konsumsi.

Jika situasi ini terus memburuk, Gaza akan lumpuh. Kami sangat membutuhkan bantuan untuk melanjutkan layanan kesehatan di Gaza.

Apa kebutuhan mendasar warga Gaza dalam masalah kesehatan?

Ada dua kebutuhan mendasar yang kami perlukan. Pertama kebutuhan medis yang stoknya menipis. Kami memerlukan obat-obatan dan alat-alat kesehatan habis pakai.

Kedua adalah bahan bakar untuk aktivitas rumah sakit dan instalasi medis di Gaza. Kebutuhan-kebutuhan ini sangat mendesak bagi kami.

Apa tantangan bagi situasi medis di Gaza hari ini?

Tantangan kami adalah ketiadaan listrik di Gaza. Padahal maksimum listrik seharusnya dapat menyala 10-12 jam per hari. Namun kini kami hanya dapat memiliki pasokan listrik 5 sampai 7 hari saja.

Tentu kami di rumah sakit tidak bisa bekerja tanpa ketersediaan listrik. Jadi kami sangat bergantung kepada generator. Tapi generator juga memerlukan bahan bakar untuk dioperasikan.

Tidak ada kementerian kesehatan di dunia yang juga turut mengurusi persoalan bahan bakar. Tapi di Gaza situasinya seperti itu. Kami juga bertanggung jawab untuk mengurusi bahan bakar.

Setidaknya kami butuh setengah juta liter bahan bakar untuk mengoperasikan generator. Kami juga memikirkan suku cadang dan perawatannya.

Berapa keperluan dana medis bagi Gaza per bulan?

Kami setidaknya butuh bantuan USD4 juta per bulan (sekitar Rp60 miliar) untuk memenuhi kebutuhan medis.

Selama 2018, kami mendapatkan dana dari hasil kerja sama dengan partner dan donatur kami yang dapat menutupi 15 persen kebutuhan kami.

Sedangkan beberapa fasilitas medis hanya dipenuhi oleh Kementerian Kesehatan Palestina tanpa ada bantuan dari lembaga lain.

Kami kini terus berjuang untuk dapat menjalankan layanan kesehatan di Gaza dengan kondisi terbatas.

Bagaimana peran RS Indonesia di Gaza sejauh ini?

Rumah Sakit Indonesia adalah salah satu pencapaian terbesar di Gaza dalam periode akhir ini yang membantu sekitar 450 ribu masyarakat Gaza.

Selama aksi Great Return March, rumah sakit Indonesia juga menerima para warga yang terluka. Kita berkoordinasi dengan teman-teman kami di MER-C.

Apa harapan Anda kepada pemerintah Indonesia soal situasi ini?

Saya tahu pemerintah dan bangsa Indonesia sangat perhatian kepada masalah Palestina. Dan mereka sangat bersimpati kepada bangsa Palestina.

Kita berbicara soal bagaimana kita dapat membantu para warga Palestina.

Saya berharap pemerintah Indonesia bisa mendatangi Gaza untuk memberikan bantuan langsung. Kami akan menyambut.

Ada juga cara lain yang bisa pemerintah Indonesia lakukan yakni melakukan koordinasi dengan WHO untuk memberikan bantuan.

Ini yang juga dilakukan negara-negara lain. Enam bulan lalu, Badan Kerja Sama dan Koordinasi Turki (TIKA) mengirim bantuan medis ke Gaza.

Jadi kita bisa mendapatkan banyak cara untuk mendukung rakyat Palestina.

Tentunya TIKA memiliki peran besar di Gaza. Mereka juga memiliki kantor di Gaza yang terus memberikan bantuan kepada warga.

Apakah memungkinkan pemerintah Indonesia juga memiliki kantor untuk pelayanan kesehatan di Gaza?

Itu memungkinkan dengan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina. Dari sisi kami, kami sangat menyambut baik.

Apa target Kementerian Kesehatan Palestina sekarang?

Sekarang target kami adalah terus dapat memberikan layanan medis bagi warga Gaza.

Dan kami sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah, NGO, dan masyarakat Indonesia. Kami memiliki banyak kolega dan partner di sini yang selalu membantu kami.

Tapi kami masih memerlukan bantuan untuk mencegah sistem kesehatan kami hancur.


TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA